Oleh: pak mayar | Desember 21, 2013

Tongkat Raja Bengkulu

5-Refplika-Tongkat-Raja-Bengkulu-Di-Mesium-Masri-2-327x500

Minggu-minggu ini Bengkulu heboh soal Tongkat Raja Bengkulu. Adalah harian lokal Rakyat Bengkulu yang pertama mengekpos tentang raibnya benda bersejarah provinsi Bengkulu ini.

Alkisah, pada tahun 1752, Raja Bengkulu memberikan hadiah kepada Residen Yoseph Hoarloik Esquirre. Setelah disimpan di Inggris selama 241 tahun, tongkat tersebut dikembalikan pada Pemda Provinsi pada 1993.

Benda bersejarah ini kemudian disimpan di Museum Negeri Bengkulu hingga tahun 1997. Sesudah dibuat tiruannya tongkat yang asli di kembalikan ke Gedung Daerah, tiruannya dipamerkan di museum.

Dah, tiba-tiba saja di akhir tahun 2013 ini di Gedung Daerah tak ada lagi yang mengetahui keberadaannya, hingga akhirnya seorang pegawai gudang menemukannya di gudang dalam keadaan rusak karena emasnya sudah tidak ada lagi. Oh ya tongkat ini berbentuk ular, kepala dan ekornya terbuat dari emas 24 karat.

Siapa yang mengambil emasnya sudah pasti sulit sekali untuk melacaknya. Nah hari ini seorang pejabat provinsi bilang soal emas akan diganti dan akan dianggarkan oleh pemda provinsi.

Wah aneh banget kan? Memang kalau emasnya sudah diganti masalah lalu selesai. Diganti dengan apapun itu tetaplah emas palsu, bukan yang aslinya, ahistoris, masih lebih baik kalau tongkat itu kita rawat tanpa kita pasang emas baru, karena itulah tongkat yang asli alias otentik alias historis. Toh tongkat tiruan kita sudah punya yang kita pamerkan di museum.

Jadi, kalau memang masih bisa diusut ya kita usut siapa yang ambil dan dimana emasnya kini. Kalau tidak bisa ya sudah, tongkat yang asli betapapun tidak lengkap lagi harus kita rawat sebagai benda bersejarah kita apapun adanya. Meskipun emasnya copot tongkat itu tetaplah benda bersejarah yang amat tinggi nilainya.

Kenapa nilainya tinggi? Ya itu mungkin satu-satunya benda peninggalan raja Bengkulu yang masih bisa kita miliki. Satunya-satunya benda peninggalan yang  kita abaikan tidak kita hargai. Ah kalau begini kejadiannya akan lebih baik kalau benda bersejarah ini tetap ada di Inggris sana.

 

Oleh: pak mayar | Desember 18, 2013

Ruang Publik dan Wifi Gratis

Mau pendidikan di Bengkulu maju? Gampang rasanya, kalau mau pemda kota atau provinsi bikin banyak-banyak wifi gratis di ruang-ruang publik.

Loh apa hubungannya wifi gratis dengan pendidikan maju? Ada hubungannya banget, nggak percaya, coba deh ketikkan connectivsm di google. Itu teori belajar baru, tahu kan teori belajar dulu ada behavorisme, kognitivisme, konstruktivisme nah kini ada konektivisme.

Apa itu konektivisme, intinya ya jaman sekarang kemajuan belajar seseorang akan ditentukan berdasarkan kemampuannya membangun jejaring, dengan teknologi hal tersebut akan dengan mudah dapat dilakukan. Kata lainnya jejaring ya jaman gini adalah koneksi, tanpa koneksi internet ruang penjelejahan kita menjadi amat terbatas. Akses kepada sumber-sumber informasi tidak ada.

Loh kan sudah ada banyak warnet, sudah banyak koneksi mobile via hape, untuk apa lagi wifi gratis di tempat publik lagi. Nggak perlulah pemda bikin-bikin yang nggak perlu.

Warnet memang banyak, tapi tau sendiri kan gimana model warnet kita, berbilik-bilik dan akhirnya bikin orang terpancing menggunakan internet untuk keperluan yang sangat intim. Hehehehe tahu kan dari yang bikin kencanduan pornografi hingga pacaran dalam bilik warnet, bahkan bisa kebablasan.

Lagian warnet bayar. Nah kalau pemda mau bikik fasilitas wifi gratis di ruang-ruang publik minimal mengkondisikan orang untuk memanfaatkan wifi secara positif, secara sehat. Kalau masih juga berani buka-buka situs jorok di tempat publik, ampuuun deh. kayaknya nggak berani deh.

Koneksi mobile, via hape, uh semua juga tahu masih mahal, mau kenceng paketnya mahal sekali.

Nah kalau wifi gratis tentu, pasti banyak disuka orang, terutama mahasiswa yang kantong cekak. Mereka tentu senang, coba bayangin kalau tiap hari ngenet di warnet 2 jam 6 ribu, sebulan 20 kali total 240 ribu, banyak tuh.

Gimana nih, pak Helmi sama pak Jun, ada nggak program wifi gratis untuk masyarakat Bengkulu. Kalau bapak-bapak mau berantas itu warnet remang-remang gampang pak, cuman satu saja caranya, bikin akses internet gratis di ruang publik banyak-banyak.

Oleh: pak mayar | Desember 12, 2013

Hasil PISA 2012 dan Kurikulum 2013?

Sudah baca kan hasil PISA 2012, Indonesia di urutan 64 dari 65 peserta. Test internasional yang mengukur kemampuan siswa antar negara dalam kemampuan membaca, matematika dan sains kini sedang rame dibicarakan.

Hasil PISA ini kemudian dihubungkan dengan K13 alias Kurikulum 2013. Nah yang anti K13 bilang K13 bakalan bikin pembelajaran kita makin nggak jelas alias ke depan pasti peringkat PISAnya bakalan makin anjlok. (juru kunci donk)

Nah, pak mendikbud lain lagi bicaranya, dia haqul yakin K13-lah jawaban agar kita tak terpuruk lagi dalam test PISA ke depan.

Harap maklum, jangan pada bingung ya, jaman sekarang mah sudah biasa, fakta bisa sama namun karena cara pandang berbeda bisa saja membacanya beda, apalagi juga ditambah kepentingannya berbeda.

Setuju yang mana? Terserah anda deh, sambil kita tunggu saja nanti hasil test PISA 2015, makin buruk atau makin jelek. Hehehehe payah nih, masak K13 mau digantung di PISA saja.

Ini artikelnya, silakan baca!

Indonesia Paling Bahagia (Doni Koesoema A)

ADA berita gembira dari hasil PISA 2012. Siswa Indonesia menempati peringkat kesatu dalam kriteria merasa paling bahagia berada di sekolah dan mampu bersahabat. Apa yang bisa kita petik dari berita gembira ini?
Di balik berita gembira ini, ada satu fakta kontras. Meskipun paling bahagia, dan paling bisa bersahabat, siswa Indonesia ternyata tidak banyak belajar di sekolah. Indonesia tetap saja menduduki peringkat ke-2 dari bawah di antara 65 peserta Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengikuti penilaian internasional di bidang Matematika, membaca, dan sains. Indonesia berada di bawah Qatar dan di atas Peru.

Kontras kedua adalah kenyataan bahwa tetangga dekat kita, Singapura, berada di peringkat ke-2 terbaik! Berkebalikan dengan Indonesia: di dua terbawah. Singapura adalah satu-satunya keajaiban di PISA 2012 karena perubahan kualitas pendidikan dari tahun ke tahun paling tinggi, yaitu 3,3 poin, sedangkan Indonesia -1,9.

Kontras ketiga adalah sebuah ironi bahwa pemerintah kita, demi meningkatkan kualitas pendidikan, berusaha mencontoh yang terjadi di Finlandia. Finlandia sudah bukan lagi merupakan keajaiban! Ia terjungkal di posisi ke-12. Posisi lima besar, selain Singapura, justru diisi prestasi dari “Negeri Tirai Bambu”, China, yaitu China, Hongkong, Taiwan, dan Makau, serta Korea. Keajaiban tersebut ada di Singapura, Korea, dan “Negeri Tirai Bambu”!

Faktor Matematika
Penyelenggara PISA 2012 secara umum menyimpulkan bahwa prestasi siswa di bidang Matematika sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan bangsa, baik itu dalam peningkatan kualitas pendidikan maupun dalam partisipasi politik. Meningkatnya kemampuan Matematika seiring dengan bertumbuhnya rasa percaya diri, rasa kepemilikan akan masa depan sebagai pelaku perubahan. Faktor Matematika menjadi prediktor perubahan sosial dan ekonomi bangsa.

Kenyataan bahwa siswa Indonesia merasa paling bahagia, juga paling mudah bersahabat, tetapi tetap terpuruk prestasi akademisnya menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita telah gagal melahirkan individu pembelajar. Semangat Kurikulum 2013, yang diterapkan tanpa memperhatikan beragam prasyarat, seperti kemampuan guru, dukungan sarana dan prasarana, sistem kebijakan evaluasi pendidikan yang konsisten, serta sistem perbukuan yang demokratis dan transparan, hanya akan membuat guru dan siswa bersenang-senang di sekolah. Namun, siswa tak belajar!

Siswa Indonesia yang menjadi peserta PISA 2012 adalah produk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dari sisi ini, KTSP sudah berhasil membuat siswa merasa senang berada di sekolah. Bahkan, kemampuan sosial anak-anak Indonesia dalam menjalin persahabatan paling tinggi di antara siswa peserta PISA. Meskipun baik, KTSP telah gagal melahirkan siswa sebagai pembelajar yang bernalar.

Sekarang datang Kurikulum 2013 yang berpretensi melengkapi yang kurang dalam KTSP. Apakah Kurikulum 2013 dapat mendongkrak prestasi Indonesia di PISA?

Jawabannya: Tidak! Mengapa? Selain penerapannya dipaksakan, Kurikulum 2013 tidak matang, di sana-sini masih banyak kekurangan dan kekacauan. Kelemahan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan pada persoalan visi dan implementasi visi dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran di sekolah.

Sudah banyak yang mengkritik Kurikulum 2013, terutama terkait dengan gagasan kompetensi, baik itu Kompetensi Inti ataupun Kompetensi Dasar. Kompetensi dalam Kurikulum 2013 banyak mengandung unsur ketidakmasukakalan yang sulit dievaluasi dan dinilai.

Spiritualisme dangkal
Bahkan, kecenderungan seluruh kompetensi diarahkan pada bentuk-bentuk kerohanian dan keagamaan, membuat kita jatuh dalam spiritualisme pendidikan yang dangkal. Kurikulum Jalan ke Surga, itulah seloroh yang selama ini muncul tentang Kurikulum 2013.

China adalah negara komunis. Singapura adalah negara sekuler yang plural. Mereka semua menjadi jawara dalam PISA karena mengutamakan proses belajar! Bukan berdoa!

Kurikulum 2013 yang gelojoh kerohanian akan mematikan fungsi kritis dan logika nalar individu. Matinya daya kritis akan semakin mudah menyemai benih kekerasan atas nama agama dan perbedaan melalui proses indoktrinasi terstruktur. Gejala ini sudah kita lihat terjadi di masyarakat. Masyarakat kita gemar menghunus pedang dan menghancurkan mereka yang berbeda atas nama agama!

Berpikir kritis muncul apabila logika bertumbuh. Logika bertumbuh apabila siswa diajak berpikir lurus dan benar melalui ketaatan pada alur pikir. Dalam pembelajaran Matematika, yang paling penting adalah keteguhan sikap. Siswa diajak mempertahankan
pendapatnya apabila ia yakin pendapatnya benar, dan berani mengubahnya apabila keliru.

Inilah nilai integritas yang diperoleh dari belajar Matematika. Pembelajaran Matematika yang benar menghasilkan individu yang kritis, terbuka, dan berintegritas. Tak mengherankan apabila panitia PISA menyimpulkan: penguasaan pengetahuan Matematika menjadi dasar meningkatnya peringkat pendidikan di beberapa negara.

Bangsa ini sudah kehilangan logika nalar, cenderung berpikir separatis, dan eksklusif. Cara berpikir kebangsaan yang terbuka dan kritis semakin jauh dari lingkungan pendidikan dan pembelajaran kita. Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi sekadar pita yang tertempel di suvenir Garuda. Kita sibuk mengurusi tampilan luar, mengatur model baju, seragam sekolah, dan lain-lain, tetapi lupa bahwa pengalaman belajarlah yang paling penting harus terjadi di sekolah.

Menjadi juara sebagai siswa paling bahagia berada di sekolah dan bersahabat mestinya tak membuat kita senang. Kita harus lihat bahwa tetap bertenggernya Indonesia di barisan paling belakang di antara para siswa lain menunjukkan betapa pengalaman belajar itu tidak terjadi di sekolah-sekolah kita. Spiritualisme pendidikan yang dangkal akan menjadi beban bagi bangsa ini untuk naik kelas dalam peringkat PISA.

Doni Koesoema A, Pemerhati (Kompas, Rabu 11 Des 2013)

 

Mendikbud: Survei PISA Makin Memperkuat Pentingnya Kurikulum 2013

Saya belum lihat (survei PISA). Ndak apa-apa. Jadi kan gini, dulu siapa pernah ikut sosialisasi kurikulum? Apa alasan kenapa kita lakukan perbaikan atau perombakan kurikulum baru, salah satunya kan (survei) PISA itu.

Jadi kalau kita bandingkan kuriklum yang ada di PISA yang diujikan dengan kurikulum kita sekarang, sekarang itu kan kelas 1 dan 2,3 masih KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), karena kurikulum 2013 masih 6-ribuan (sekolah) jadi masih kecil (sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013, red) itu.

Sehingga kalau ditanya jadi rendah ya wajar-wajar aja orang belum diajarkan. Tetapi kita bukan cari excuse (pembenaran) namun perbaikan tetap kita lakukan terus menerus, intinya di situ. Jadi apapun yang dilakukan PISA, semakin memperkuat kenapa Kurikulum 2013 penting.

Survei PISA-OECD 2012, siswa Indonesia paling bahagia di sekolah, peringkat 1 dari 65 negara. Peringkat siswa bahagia di sekolah berbanding terbalik dengan kemampuan matematika siswa. Ada 3 negara kemampuan matematika terendah tapi peringkat atas paling bahagia di sekolah: RI, Peru dan Kolombia. Bagaimana tanggapan Bapak?

Kita matematika naik 26 poin walaupun peringkatnya turun. Tetapi dari sisi poin numeric-nya lain. Artinya negara lain naiknya lebih cepat. Kalau pakai dasar rangking. Rangking aja tidak cukup tapi harus ada numeric-nya. Saya bacanya itu paling memperkuat pentingnya Kurikulum 2013. Karena pendekatan beda, insya allah lebih bagus. Termasuk pendekatan ke matematika. (Detik.com, Kamis 12 Des 2013)

Oleh: pak mayar | Desember 11, 2013

Pelajaran TIK dan K13

Kasihan para guru TIK alias guru komputer kita. Kenapa? Karena di kurikulum 2013 tidak ada lagi pelajaran TIK. Beneran? Bener, kali saja yang menyusun kurikulum sadar betul bahwa TIK itu tidak penting, makanya dihapus.

TIK tidak penting? Yalah ngapain belajar TIK, nggak usah belajar di sekolah saja anak-anak kita sudah pada pinter pakai komputer kok. Eh tahu nggak, apa yang kita lakukan ini sekarang sama dengan yang terjadi di dunia pendidikan di Inggris lho.

Di Inggris belakangan ini para ilmuwan mereka sadar bahwa ada yang salah dengan pelajaran TIK di kurikulum mereka. Itulah mereka kemudian membuat penelitian dan hasilnya mereka tuangkan dalam laporan berjudul “The Royal Sciety Report, Shut down or Restart: The way forward of computing in UK schools”.

Isinya kira-kira begini deh, mereka menemukan bahwa pelajaran TIK di Inggris hanya bikin anak-anak Inggris jadi konsumen teknologi saja. Itulah makanya Inggris ketinggalan dengan negara lain dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Karena itu mereka sadar pelajaran TIK harus dihapus dan harus diganti dengan “Computer Science” alias pelajaran ilmu komputer.

Dengan menguasai ilmu komputer mereka berharap anak-anak Inggris tidak lagi menjadi konsumen teknologi tetapi mereka berubah menjadi produsen teknologi, alias mampu menjadi pencipta baik hardware maupun software yang dibutuhkan manusia untuk meningkatkan kinerjanya dalam berbagai bidang kehidupan. Sementara dengan pelajaran TIK hanya akan bikin anak jadi tukang input data alias user saja.

Hehehehe, gimana dengan kita bung? Kita nggak seperti itu, pelajaran TIK dihapus dan tidak diganti apapun. Kita sadar juga sih kita sekarang ini jadi konsumen teknologi dan rupa-rupanya si pembuat kurikulum 2013 pengin bangsa kita ini selamanya jadi konsumen teknologi, jadi user, jadi tukang input data.

Bagi bapak ibu yang pada punya sekolah sendiri, kalau kasihan pada nasib bangsa ini ke depan jangan bongkar dulu lab komputer sekolah bapak ibu ya. Biar saja kurikulum 2013 tidak ada pelajaran TIK, tapi mari tetap kita berikan anak-anak kita dengan pengetahuan dan skill yang dibutuhkan bagi kemajuan mereka dan kemajuan bangsa di masa depan, yaitu ilmu komputer.

Bagi bapak ibu guru TIK, optimis saja deh, kelak habis pemilu  kan mendikbud ganti, doain saja deh K13 yang super ngawur ini ntar diganti ama mendikbud yang baru. Apalagi kalau presidennya Jokowi. hehehe

Jaman terus berubah dengan sangat cepat, tidak bisa dibantah lagi. Tahapannya mudah kita baca, agriculture age, indrustrial age, information comunication technology age dan kini dunia memasuki creativity age.

Menguasai teknologi saja sekarang ini tidaklah cukup, teknologi adalah sarana untuk menghasilkan produk-produk kreatif yang punya nilai tambah tinggi. Kini negara yang maju adalah negara yang memiliki penguasaan tinggi terhadap teknologi dan mampu memanfaatkannya secara kreatif.

Banyak negara maju sangat sadar dengan hal di atas, mereka merumuskan visi pendidikannya dengan jelas terkait tentang penguasaan teknology, kreativitas dan daya saing negara mereka. Mereka sadar bahwa kemajuan dan kesejahteraan bangsanya akan ditentukan mutu pendidikan yang bisa menjamin tiga hal tersebut.

Bagaimana dengan kita? Nggak ngerti deh pendidikan kita ini mau dibawa ke mana. Kini kita punya K13 alias kurikulum 2013, kurikulum yang katanya berbasis pendekatan sains ini bikin geleng-geleng kepala para ilmuwan sains kita. Absurd begitu kata Lik Wilardjo. Lha kalau ilmuwan sains saja bilang K13 absurd bagaimana dengan para guru di lapangan, pusing mereka.

Eh itu tingkat nasional, lah di tingkat lokal, kebijakan pendidikannya bisa bikin geleng-geleng kepala. Maka muncul kebijakan yang kadang menimbulkan pro kontra sangat luas, pernah dengar kan tentang rancangan perda syarat masuk sekolah yang aneh-aneh, harus bisa membaca Al Quran, pakai test keperawanan.

Tahun ini di Bengkulu heboh tentang Perda mulok Igra. Tentu saja ini untuk siswa beragama Islam, lah yang non muslim ya tidak dilayani oleh perda ini. Diskriminatif? Sudah pasti. Beberapa akademisi dari perguruan tinggi angkat bicara mengkritik perda ini sebagai sesuatu yang tak perlu, Dewan pendidikan pun mengklarifikasi tak banyak dilibatkan.

Nah, hebohnya lagi muncul dugaan ada penyimpangan pengadaan buku Iqra yang menyangkut anggaran pemda milyaran rupiah, ada dugaan anggota dewan terlibat.

Haduh jadi prihatin. Kenapa kebijakan pendidikan kadang dibuat senyap-senyap. Jadi ngiri dengan negeri-negeri yang sudah maju, tiap bikin kebijakan pendidikan caranya keren banget. Mau contoh? Misalnya Alberta, salah satu negara bagian Canada, kalau kita selevel provinsilah.

Pertama mereka bikin steering committee, diambil dari pakar pendidikan di universitas setempat serta pakar dan pejabat kementrian pendidikan. Komite ini buat riset buat kajian tentang masalah masa kini dan tantangan  dunia pendidikan masa depan secara komprehensif, dari situ buat draft tentang visi pendidikan dan prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk mengembangkan pendidikan untuk menjawab masalah dan tantangan yang ada.

Nah langkah berikut draft tersebut diserahkan pada publik untuk dikritisi. Komite bikin instrumen untuk diisi oleh kelompok-kelompok masyarakat, orang tua bahkan siswa pun dilibatkan untuk mengisi instrumen tersebut.

Hasilnya kemudian dikaji secara ilmiah, bagaimana pendapat masyarakat terhadat isi draft tersebut disimpulkan, bahkan diterbitkan secara terbuka. Nah sudah begitu barulah draft itu dibawa oleh kemenrian pendidikan ditindaklajuti  untuk keperluan legislasi di parlemen setempat.

Hebat kan? Coba buka deh provinsi Alberta eh negara bagian ini kini punya Visi Pendidikan yang hebat yang mereka beri nama Inspiring Education, Alberta Vision for Education.

Membayangkan itu terjadi di Bengkulu. Bisakah?

Oleh: pak mayar | Desember 3, 2013

Muter Film

Jadi guru jaman sekarang ini enak. Ada teknologi bisa dimanfaatkan sebagai  alat bantu mengajar. Jadi nggak cuman ngomong doang. Dulu waktu masih mengajar sejarah saya suka muter film. Soalnya banyak sekali film-film yang terkait dengan materi pelajaran sejarah, banyak sekali.

Misalnya membahas perang Aceh, wajib hukumnya anak saya minta untuk menonton film Cut Nya Dien Eros Djarot itu. Membahas tentang konflik Kamboja, anak wajib menonton film The Killing Fieldnya Rollad Joffe. Membahas tentang lomba penaklukan ruang angkasa era perang dingin, anak wajib menonton The Space Racenya BBC.

Untuk membahas evolusi manusia purba pasti saya puterin film The Cave Man dari BBC. Pokoknya masih banyak lagi, soalnya banyak sekali film-film bagus bikinan BBC ,  Discovery Channel atau produser manapun yang penting kita selektif.

Pernah ada guru lain yang koment “Pelajaran sejarah kok nonton film terus, males ngajar ya?” Hehehe, saya tenang-tenang saja, lha wong anak-anak pada suka kok, kadang malah pada nagih.

Film dalam pelajaran sejarah sangat penting, kenapa? O banyak sekali gunanya. Pertama soal motivasi belajar, kalau pakai film nggak usah deh pakai didorong-dorong, pada semangat deh. Kedua soal pengalaman belajar, dengan nonton film lebih menyenangkan, lebih mudah masuk, lebih banyak yang bisa didapat karena tampil secara audio visual, mau yang umum yang detail semuanya ada dalam film.

Ketiga, ini yang bagi saya penting, film bisa menghadirkan jiwa suatu jaman sesuatu yang kadang sulit ditangkap anak dalam textbook pelajaran sejarah. Jiwa jaman itu hadir di dalam latar, di dalam tokoh, di dalam kejadian, juga di akhir film. Hehehe apasih jiwa jaman itu? Huh jiwa jaman itu sesuatu yang menggerakkan roda jaman.

 

Oleh: pak mayar | November 27, 2013

K13 dan Konvensi UN

Politik pendidikan di Indonesia memang parah. Parah gimana? O parah banget, karena kebijakan pendidikannya kadang dibuang dengan main kayu main kuasa. Contoh terbaru ya K13 dan konvensi UN kemarin adalah buktinya.

K13 yang jelas-jelas masih banyak ditentang oleh banyak pakar pendidikan di negeri ini ya tetap saja dipaksakan untuk dijalankan. Seakan-akan para pakar itu dianggap nggak punya urusannya dengan kurikulum nasional.

Pakar pendidikan saja pada nggak digubris, apalagi masyarakat yatu orang tua, dunia usaha, bahkan siswa uuhh sama sekali nggak digubris. Pokoknya maunya pak Menteri (ssst katanya didukung Pak Budiono) dan timnya harus diterapkan tahun 2013 ya harus jalan.

Pun itu juga terjadi pada konvensi UN kemarin. Boro-boro diskusi yang jernih dan cerdas tentang UN eh yang ada juga cuman mobilisasi kebijakan. Sudah ada skenario bahwa UN tetap harus dijalankan dari sebelum konvensi dilakukan, heheheh lalu apa gunanya konvensi?

Ironis, kementrian pendidikan rasanya punya tanggung jawab besar untuk memberi teladan bahwa kebijakan apapun yang dibuatnya mestinya harus berdasarkan kajian yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu mendikbud rasanya sangat pantas memberi teladan sikap etis seorang pejabat, bahwa di masa akhir jabatannya sungguh tak elok membuat keputusan yang sangat strategis yang akan mengikat penggantinya kelak.

Eh Etis? Kayaknya pejabat kita banyak yang lupa deh makna kata ini. Huuuuhhh.

Oleh: pak mayar | November 27, 2013

Mogok Dokter

Hari ini ribuan dokter se Indonesia mogok. Mereka kompak solider karena 3 rekan seprofesinya dipenjara oleh putusan MA. Woow heboh.

Profesi ini memang mulia karena ditanggannya penderitaan seseorang karena penyakit bisa diakhiri, dan kemungkinan kehilangan nyawa bisa dihindarkan. Tapi dokter juga bukan Tuhan, tak jarang sakit tetap tak tersembuhkan bahkan dibawah perawatan dokter pun nyawa pasien kadang tetap tak bisa diselamatkan. Kita sudah ngerti deh soal ini, maka kadang kita ya pasrah saja, percaya bahwa dokter sudah berupaya, namun Tuhan berkehendak lainnya.

Tapi ada saja kisah yang berbeda, keluarga atau pasien tidak puas dengan penanganan dokter dan tidak mau pasrah saja. Mereka cari dokter yang berbeda, cari rumah sakit kota lain bahkan sampai ke negara lain. Intinya ya tidak percaya lagi. Yang beginian mungkin banyak, hanya saja mereka nggak pakai menuntut-nuntut di jalur hukum, paling-paling curhat sana curhat sini soal diagnosis dokter di sini bla bla bla, eh lha kok dibawa ke kota lain atau ke negara lain kok diagnosisnya berbeda.

Hmm mutu dokter kita gimana ya? Pernah ada kisah, orang Jepang bilang pekerjaan yang ditangani oleh 20 insinyur kita bisa dikerjakan oleh 1 insinyur Jepang, heh sombong banget mereka ya. Untung saja mereka bilang insinyur lha kalau mereka bandingin dokter kita dengan dokter Jepang gimana coba, apa nggak bakalan bikin deg-degan kita.

Akhir kata di tengah hiruk pikuk mogok dokter ini, kok saya malah kepikiran tentang mutu dokter ya. Dokter can do no wrong, eehhh.

 

 

Oleh: pak mayar | Desember 11, 2009

Pahlawan, Ikon Rekaan yang Sia-sia ?

Rambo siapa tidak kenal nama ini. Jagoan Amerika di rimba perang Vietnam. Seorang diri ia mampu menghancurkan para Vietcong. Seorang diri ia mampu membebaskan para serdadu Amerika yang ditawan di Vietnam.

Tapi itu hanya tokoh rekaan Hollywood. Kenyataan yang ada tidaklah begitu. Perang Vietnam adalah mimpi buruk bagi bangsa Amerika. Mereka terusir dengan rasa malu dari sana. Tidak ada kemenangan gilang gemilang, yang ada kekalahan yang pahit. Negara adidaya itu tak sanggup menang, meski lawannya adalah bangsa terbelakang.

Ada banyak film perang Vietnam. Film perang Vietnam yang jujur juga banyak. Namun begitu tidak ada yang lebih popular dari Rambo. Film ini bahkan dibuat sekuelnya hingga film ke 4. Rambo bahkan menjadi ikon yang hidup di benak bangsa Amerika.

Sebuah ikon, meski rekaan ia diperlukan. Ikon itu perlu untuk menghidupkan rasa bangga. Di tengah kenyataan yang getir, rasa bangga itu adalah tenaga untuk meneruskan kehidupan, untuk menyatukan langkah, untuk mengejar mimpi bersama.

Bagaimana dengan kita ? Semoga masih banyak yang ingat hari ini adalah hari pahlawan. Sebuah perlawanan heroik terjadi 64 tahun yang lalu di Surabaya. Pertempuran yang tidak masuk akal. Dari segi tertentu bahkan nampak sia-sia. Tiba-tiba saja republik yang masih belia itu harus kehilangan 16.000 tenaga sipil dan tentara. Tak terhitung kehilangan sarana perang yang susah payah dikumpulkan.

Pertempuran Surabaya sesungguhnya adalah cerita tentang kekalahan besar. Namun kita tidak pernah mengingatnya dengan cara demikian. Karena jika begitu kita tidak akan menemukan rasa bangga. Kita membutuhkan rasa bangga itu. Dulu dan sekarang kita membutuhkannya, untuk menyatukan diri kita, untuk mengejar mimpi bersama kita.

Benarkah demikian? Menyatukan diri kita. Mengejar mimpi bersama kita. Masihkan hari ini kita melakukannya ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Desember 11, 2009

Ujian Nasional dan Menteri Baru; Mengecewakan

Ternyata terjadi juga, Mendiknas baru tak berani menghapus Ujian Nasional (UN). Bahkan beberapa hari yang lalu diberitakan UN dimajukan bulan Maret 2010. Praktis kegiatan belajar efektif di kelas akhir tinggal 4 bulan lagi. Sisa bahan ajar yang ada harus dimampatkan, harus diselesaikan bulan Februari.

Mulailah kesibukan di kelas-kelas akhir. Siswa didril soal-soal latihan, pagi hingga sore. Bila masih tahan, malamnya didril lagi di bimbingan belajar. Kerja keras, harus begitu, insan Indonesia masa depan harus mampu melakukannya.

Tapi tak semuanya demikian. Ada yang santai-santai saja. Mereka sudah tahu dari kakak kelasnya; UN tak perlu dirisaukan. Guru-guru akan membantu, saat ujian nanti. Meski belajar ala kadarnya, nanti akan lulus juga. Pengalaman membuktikan demikian.

Pejabat diknas biasanya juga akan tutup mata. Mereka tak mau dipermalukan, dengan tingkat kelulusan rendah di daerahnya. Bila kelulusan mendekati 100% mereka akan sangat bangga. Itu bukti bahwa mereka telah mengurus pendidikan dengan benar. Menurut keyakinan mereka tentunya.

Ini kisah yang membosankan, sekaligus menyedihkan. Kisah anak-anak bangsa yang dibunuh karakternya, oleh para pendidik mereka. Kisah kebijakan bodoh yang dibuat oleh kementrian yang justru punya tugas memberantas kebodohan.

Pak Nuh yang baik, tak perlulah saya banyak berkata-kata. Banyak pakar pendidikan telah menyampaikan argumennya tentang UN dan permasalahannya. Anda tentu sanggup merangkumnya, menarik kesimpulan dari seluruh argument yang ada, dan mengambil sikap secara benar dan cerdas.

Tapi jika anda tetap tak menggubrisnya (karena nampaknya demikian) pertimbangkan satu permintaan saya. Buatlah satu paket soal UN dan wajibkan para guru mengerjakannya layaknya siswa ujian. Jika nilainya memuaskan (rata-rata 10 atau 9 boleh juga) silakan lanjutkan rencana anda. Tapi jika nilainya cukup (rata-rata 7) atau kurang (rata-rata di bawah 7) bahkan sangat kurang (rata-rata di bawah 5) masihkah anda bersedia mempertimbangkan kembali kebijakan anda ?

Ah apalah artinya saya, anda tentu tak akan mempedulikannya. Suara satu guru tak akan ada harganya. Tidak layak untuk didengar. Apalagi oleh orang sepenting anda. Jika pun tulisan ini mampir di meja anda, ia tak akan berlama-lama, karena kotak sampah di ruangan anda lebih pantas menerimanya. Benarkah demikian, pak Nuh yang baik ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr :
Zooomr :
Del.icio.us :
Technorati :

Oleh: pak mayar | November 11, 2009

Polisi Jahat, Jangan Ada Lagi !

Masih ingat David dan Kemat. Dua pemuda itu ibarat disergap kekuasaan yang gelap. Berawal dari sesosok mayat di desa tetangga, tiba-tiba negara menciduk mereka dengan sebuah keyakinan besar. Keyakinan yang tak boleh dibantah oleh dua pemuda desa lugu dan kurang berpendidikan.

Negara sang pelindung itu musnah. Sebuah aparat, sebuah korps yang diberi kekuasaan untuk itu telah berlaku sembrono, telah berlaku pongah. David dan Kemat mendekam di penjara atas sebuah tuduhan yang tak pernah dia lakukan.

Sekian waktu, kebenaran itu terungkap. Ryan, pembunuh sadis yang menghebohkan itu membuka pengakuan. Sebuah kebetulan, seakan keadilan itu tengah menempuh jalannya sendiri. Atau Sang kebenaran sendiri yang telah mengaturnya. Bila demikian siapa pun juga tak berdaya untuk melawannya.

Hari-hari ini peristiwa David Kemat itu seakan kembali terulang. Dengan aparat yang jauh lebih tinggi pangkatnya. Dengan kepentingan yang jauh lebih besar . Dengan tingkat kehancuran yang tak tertahankan. Tetapi bukan oleh kesembronoan sebagai penyebabnya, melainkan sebuah niat jahat.

Kewenangan dan kekuasaan yang diberikan negara itu telah disalahgunakan. Namun kini semuanya perlahan-lahan telah terbuka. Keadilan itu sedang menempuh jalannya sendiri dan ia telah memilih panggungnya.

Tugas kita bersama untuk menyambutnya. Polisi sembrono mari kita bikin pintar. Polisi jahat mari kita singkirkan. Petinggi polisi jahat mari kita hukum berat-berat.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 30, 2009

Pig artinya : babi, celeng dan ….polisi.

Mungkin sudah ada yang tahu. Tapi mungkin juga ada yang belum tahu. Di negeri pangeran Charles, dulu polisi itu dipanggil dengan sebutan pig. Babi ya benar babi. Bahkan kini kadang-kadang sebutan ini masih terlontar. Ketikkan saja di kamus online, pakai Google boleh juga. Ketik kata pig. Tunggu sebentar. Dan lihat terjemahannya. Pig artinya : babi, celeng dan ….polisi.

Tentu sebutan “terhormat” itu tidak lahir tiba-tiba. Inggris sesungguhnya adalah pelopor munculnya polisi modern. Tetapi toh dalam sejarah perkembangannya si Scotland Yard ini pernah mengalami masa-masa pahit. Tugas yang berat, system yang belum tertata, disiplin yang rendah, manajemen yang lemah dan masyarakat yang individualisme amat tinggi, membuat mereka pernah memiliki kinerja yang buruk. Dan tentu saja mereka dibenci oleh masyarakat Inggris. Maka menyamakan polisi dengan babi adalah sebuah cercaan pedas yang popular dan dipakai dimana-mana. Hingga istilah itu masuk dalam kamus.

Begitu kira-kira jalan ceritanya. Kisah ini saya baca jaman dulu, ketika saya sedang pengin jadi polisi. Kini tidak lagi. Bagaimana di Indonesia ? Indonesia mah, sudah biasa ditindas. Mental inlander. Nggak mungkin bikin gelar-gelar yang nggak bermutu, hanya untuk melampiaskan nafsu. Polisi abdi masyarakat,ya kita ngangguk-angguk saja. Kita mah orang baik. Orang Inggris itu kasar, nggak tahu sopan santun. Ya nggak usah ditirulah.

Gitu kan, pak polisi, setuju kan anda ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 28, 2009

Merdekakan Akal Anda Bung !

Anda pernah mendengar pemberontakan Entong Gendhut, pemberontakan Gedangan atau perlawanan kaum Samin. Menurut sejarawan Sartono K, sepanjang akhir abad 19 dan awal abad 20 pemberontakan petani secara sporadis terjadi dimana-mana.

Apa sebab kemunculannya tidak perlu kita perdebatkan lagi. Penetrasi ekonomi colonial mengubah kehidupan social petani sampai pada tingkat yang tak tertahankan lagi. Belum lagi kemunculan budaya Barat yang tentunya amat berbeda dengan alam pikiran masyarakat waktu itu. Maka lengkaplah sudah semua bentuk kemerosotan itu; politis, ekonomi, sosial dan budaya.

Ada berbagai bentuk perlawanan: kerusuhan , pembakaran kebun tebu, penolakan membayar pajak hingga perlawanan kepada pejabat pemerintah. Dari tujuannya muncul gerakan mesianisme (ratu adil), nativisme hingga revitalisme. Yang menarik sebagian besar memiliki ciri yang sama; didahului dengan munculnya pemimpin kharismatik dan kuatnya alam pikiran religiomagis sebagai ideologi perlawanan.

Alam pikiran religiomagis itu tidak saja membentuk gambaran tentang kehidupan ideal yang mereka cita-citakan, tetapi sekaligus menjadi alat untuk menyatukan dukungan dan kesetiaan pada pemimpin. Dan puncaknya tentu untuk mengobarkan perlawanan. Inilah yang terjadi ketika ritual-ritual dilakukan, jimat-jimat dibagikan dan pekikan Allahu Akbar diteriakkan dalam perlawanan fisik yang mereka lakukan.

Itulah respon masyarakat agraris tradisional terhadap kedatangan bangsa Barat dengan segala dampaknya. Respon kekalahan mengahadapi Barat. Barat yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Di luar spirit perlawanan heroik, yang muncul adalah sebuah kekonyolan. Barat yang modern itu dilawan dengan keyakinan dan teknologi tradisional. Akhirnya kekalahan tragis yang diderita. Jimat-jimat itu tak sanggup juga menahan panasnya timah pelor-pelor Belanda yang mendesing di tengah teriakan Allahu Akbar. Menembus kulit tubuh dan tumbanglah keberanian yang menggelora. Kerumunan massa yang mengamuk itu dengan mudah dihancurkan oleh polisi dan militer Belanda yang terorganisir dan modern.

Tetapi masa-masa ini segera berakhir ketika muncul masa Terang Budi. Pendidikan modern yang dibawa oleh penguasa colonial akhirnya melahirkan manusia-manusia Renaissance Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan nasional adalah contoh manusia-manusia baru Indonesia yang tidak lagi dikuasai alam pikiran religiomagis. Artikel-artikel bung Kalangwan banyak mengupas kegigihan mereka merengkuh alam pikiran baru yang membentang di hadapan mereka; alam pikiran rasional.

Akibatnya kekuasaan Barat itu dengan terang-benderang menampakkan wajah aslinya di mata kaum pergerakan -kolonialisme. Dengan cara berpikir baru, dengan kesadaran baru mereka membangun gerakan yang sungguh berbeda dari zaman sebelumnya. Alam pikiran religiomagis diganti pemikiran rasional, ideologi tradisional diganti ideologi modern, pemimpin kharismatik diganti organisasi modern, jimat-jimat digantikan pamflet dan majalah. Secara sungguh-sungguh kita memberinya makna sebagai “Kebangkitan Nasional”.

Memang sungguh unik, fajar Terang Budi itu muncul seiring dengan fajar nasionalisme kita. Dan oleh semua itu kemudian lahirlah bangsa Indonesia, lahirlah Negara Indonesia.

Kini masa itu telah lama berlalu, seabad telah lewat. Tetapi entah, di hari-hari terakhir ini sepertinya waktu ingin ditarik mundur ke belakang. Kembali ke masa silam, ke zaman abad gelap bangsa Indonesia. Mimpi-mimpi tentang khilafah telah membawa kita kembali ke masa silam. Masa di mana Barat tidak dilawan dengan akal, tetapi dilawan dengan kekonyolan. Dan yakinlah dengan itu kita tidak akan menang.

Selamat Hari Sumpah Pemuda Bung.

Merdeka, merdekakan akal anda !

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Sumpah Pemuda Sebuah Penanda

Hari ini, 81 tahun yang lalu, ada sesuatu yang berbeda di Batavia. Ratusan pemuda berdatangan dari berbagai daerah. Utusan-utusan dari beragam organisasi kepemudaan.

Sebuah undangan, sebuah kongres telah menggerakkan mereka. Undangan itu memang hadir dalam masa yang tepat. Masa dimana sebuah kesadaran baru merebak dimana-mana. Sebuah pertanyaan besar, tengah diperdebatkan di kalangan kaum pergerakan. Mungkinkah mencapai tujuan jika terdapat demikian banyak organisasi pergerakan ?

Inilah masa yang oleh Prof Sartono Kartodirjo disebut dengan istilah fase proliferasi pergerakan nasional. Fase dimana pergerakan nasional yang terpecah dalam berbagai kelompok saling bertentangan satu sama lain. Alih-alih bekerja sama memperjuangkan nasib bangsa, tak jarang mereka saling serang, saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Sejak awal, pergerakan nasional memang telah memiliki benih-benih faksionalisme dan konflik di dalamnya. Sumbernya adalah perbedaan ideologi dan perbedaan strategi politik. Maka kita mengenal pertentangan antara kooperatif dan nonkooperatif. Dan pertentangan yang amat sengit antara nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler.

Kemunculan PNI di tahun 1927 dan kemunduran SI bahkan mempertajam pertentangan tersebut. Sudah tentu disini juga muncul rivalitas, untuk menjadi kekuatan dominan diantara organisasi pergerakan. Adalah Sukarno yang demikian yakin perjuangan akan berhasil bila dapat dibentuk suatu “front sawo matang” melawan “front putihnya” kekuatan kolonial. Dan tidak akan ada front sawo matang tanpa keterlibatan SI di dalamnya.

Sukiman dari SI berhasil menyakinkan garis konservatif SI untuk membangun kerjasama dengan pihak nasionalis sekuler. Kompromi dua partai politik besar ini akhirnya menghasilkan sebuah federasi yang disebut PPPKI, Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia.

Selain PNI dan SI, bergabung dalam federasi ini; Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi dan Kelompok Studi Indonesia. Pembentukan federasi ini adalah sukses luar biasa yang dapat membawa persatuan, yang pada waktu itu dirasakan kurang di kalangan organisasi pergerakan.

Dalam suasana politik seperti inilah Kongres Pemuda II dilangsungkan. Para utusan organisasi pemuda dari berbagai daerah itu dengan cerdas mampu menangkap gerak sejarah. Bahkan melampaui para senior mereka, kongres memutuskan peleburan organisasi kepemudaan yang beragam itu ke dalam perkumpulan “Indonesia Muda”.

Sumpah Pemuda tentulah pencapaian mereka yang paling penting. Sebuah pernyataan sikap, sebuah kristalisasi dari semangat kebangsaan yang tunggal, semangat kebangsaan yang tertinggi. Semangat kebangsaan yang tidak lagi dijerat oleh kotak-kotak masa lalu. Semangat kebangsaan yang melampaui ikatan-ikatan lama, ikatan-ikatan primordial -yang selalu menyeret mereka dalam pertentangan yang melelahkan dan melemahkan.

PPPKI memang akhirnya bubar, karena pertentangan yang secara latent tidak terdamaikan. Tetapi Sumpah Pemuda sepertinya ditakdirkan untuk hidup melampaui zamannya. Hingga hari ini, ia tetap hidup. Setidaknya ia menjadi penanda, bahwa semangat kebangsaan kita yang tertinggi telah ditetapkan di tahun 1928.

Semoga kita tidak lupa.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,

Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Kata Guru Bangsa Tentang Kabinet Baru

Apa kata salah satu guru bangsa tentang kabinet baru kita. Berikut adalah beberapa pandangan Ahmad Syafii Maarif, yang saya kutip dari artikelnya di Kompas hari ini. Sarat dengan keprihatinan, tapi juga tak hendak memadamkan harapan. Semoga saja para menteri baru kita mau merenungkannya malam ini. Dalam kepenatan, sesudah pesta dan tawa gembira di sana-sini.

Jangan disembelih sendiri

… Sebagai seorang demokrat, saya berharap Kabinet Indonesia Bersatu II, 2009-2014, akan memenuhi harapan masyarakat luas untuk membebaskan bangsa ini dari lilitan kemiskinan, korupsi, kebodohan, kepura-puraan, dan politik uang yang mewabah.

… Sebagai warga yang telah berusia 74 tahun, keinginan saya hanya tunggal: leher bangsa ini jangan sampai disembelih oleh anak-anaknya sendiri yang tak tahu diri karena sudah lama hidup dalam lingkaran kemakmuran materi yang melimpah. Harta cukup, kekuasaan di tangan, dan orang hormat kepadanya, karena tulus, ketidaktahuan, atau karena terpaksa, tak perlu kita bicarakan di sini. Singkatnya kelompok ini sudah merasakan nikmat kemerdekaan dengan segala fasilitas yang menyertainya.

….Hampir tanpa kecuali, wajah calon-calon anggota kabinet itu tampak bahagia di tengah kerumunan pers sambil mengangkat dan melambaikan tangan, tidak terlihat mimik keprihatinan tentang keadaan bangsa dan negara yang masih sempoyongan dalam memetakan masa depannya. Namun, sekali lagi, panorama ini semoga bukanlah wujud ketidakpedulian mereka terhadap masalah-masalah besar yang telah mendera bangsa ini sejak puluhan tahun yang lalu. Keceriaan yang terlihat itu semoga melambangkan optimisme bahwa mereka bisa dan akan berbuat sesuatu yang bermakna di bidangnya masing-masing bagi kepentingan rakyat banyak.

…. Sebagaimana telah sering saya sampaikan di depan berbagai forum, salah satu kendala terbesar yang dihadapi Indonesia merdeka sejak puluhan tahun yang lalu adalah masalah kepemimpinan dalam berbagai tingkat. Sulit ditemukan sepanjang sejarah Indonesia merdeka tampilnya pemimpin yang tepat di saat yang tepat. Ada saja titik lemah yang menggagalkan kepemimpinan mereka untuk mewujudkan cita- cita yang telah disampaikan secara lisan atau tertulis.

Lapindo dan Bank Century

….Bencana alam yang datang silih berganti tidak sampai membawa bangsa ini pada suasana putus asa. Namun, bencana Lapindo malah ditetapkan sebagai bencana alam, bukan akibat kecerobohan perusahaan, sesuatu yang ditantang oleh para ilmuwan yang mengerti betul bahwa bencana itu bukan bencana alam. Karena para ilmuwan itu tidak akan tinggal diam, bencana Lapindo ini pasti akan tetap menguak pada waktu-waktu yang akan datang, sekalipun para ilmuwan itu sering tidak berdaya berhadapan dengan hukum, kekuasaan, dan uang.

…. Borok lain yang mengemuka pada bulan-bulan terakhir kepemimpinan SBY-Kalla adalah skandal Bank Century yang kemudian memicu ketegangan antara KPK dan Polri, dua aparat penegak hukum yang sama-sama naik ke ring tinju. Rakyat banyak hanya bingung menyaksikan pertarungan yang memalukan itu. Sementara itu, pemeriksaan atas mantan Ketua KPK Antasari Azhar telah berbulan-bulan menyita perhatian publik yang semakin skeptik terhadap dunia hukum dan peradilan kita. Pertanyaannya adalah: kapan Indonesia dibebaskan dari mafia peradilan yang sarat dengan konflik kepentingan?

…..Oleh sebab itu, mimik keprihatinan masih sangat perlu dipertahankan sampai situasi umum bangsa ini benar-benar membaik secara signifikan.

Ahmad Safii Maarif, Kabinet Minus Mimik Keprihatinan Kompas, Kamis, 22 Oktober 2009

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.