Demokrat menang merebut 20,28 % suara Pemilu caleg 2009. Inilah hasil akhir quickcount LSI yang di update terakhir 12 April pukul 13.26 WIB. Tentu kita tetap akan menunggu hasil rekapitulasi KPU. Tapi banyak orang percaya hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan quickcount

Inilah demokrasi kita pemenang pemilu menguasai 20 % suara. Siapapun capres yang akan menang pemilu nanti ia hanya akan mampu membentuk pemerintahan yang lemah. Pemerintahan yang dibangun dengan banyak kompromi. Kompromi atas dasar kepetingan partai-partai, kepentingan rakyat ya urusan nomer dua. Dulu orang suka menyebut hal ini politik dagang sapi.

Politik di Indonesia memang rumit dan aneh. Demikian banyak orang bernafsu membuat partai. Celakanya UU politik kita memberi peluang untuk itu. Akibatnya jelas suara rakyat yang sangat terfragmentasi ini membuat makna kedaulatan rakyat menjadi samar-samar. Coba apa makna kemenangan Demokrat kali ini ? Dengan suara 20% kita tidak dapat menyimpulkan bahwa mayoritas rakyat mendukungnya. Tapi kita juga akan salah bila tidak mengakui bahwa legitimasi politik Demokrat kini adalah yang paling tinggi. Repot kan ?

Coba kalau parpol di Indonesia hanya ada 2. Jadi rakyat sungguh enak, simpel, tidak pusing. Tidak setuju partai yang memerintah ya tinggal pilih partai yang tidak berkuasa. Hasil pemilunya pun jelas maknanya, yang suaranya lebih banyak itulah yang didukung rakyat. Pemenang pemilu pasti didukung mayoritas rakyat.

Untuk kepentingan bangsa ketentuan parpol peserta pemilu kedepan harus makin ketat lagi. Bila perlu buat electoral threshold itu 5 %. Jadi pemilu 2014 hanya akan ada 7 peserta pemilu; Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PPP, PKB. Tahun 2019 naikkan lagi electoral threshold menjadi 10 % dan mungkin hanya akan tinggal 3 parpol peserta pemilu. Tahun 2024 naikkan lagi electoral threshold menjadi 25 % biar tinggal 2 parpol saja.

Kebebasan berpolitik tetap diakui. Mau bikin partai boleh saja. Tapi partai baru yang mau ikut pemilu syaratnya harus super ketat. Jumlah pendukung harus sesuai dengan jumlah electoral treshould Dan verifikasinya pun harus sangat baik. Jangan segampang sekarang.

Skema ini pastilah akan ditolak oleh para politisi kita. Terutama politisi dari parpol menengah dan kecil yang akan tersingkir dari pemilu. Argumennya bisa banyak …bla..bla…bla. tapi ujungnya sebenarnya kepentingan pribadi dan kelompoknya. Jadi mereka ini nggak usah didengerin karena kepentingan bangsa yang lebih luas tidak menjadi prioritas mereka.

Gimana, anda setuju dengan usulan saya. Berikan dukungan anda ! Kini saatnya rakyat membuat perubahan. Demi demokrasi dan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , ,
Del.icio.us : , ,
Zooomr : , ,
Flickr : , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 11, 2009

Polisi Jahat, Jangan Ada Lagi !

Masih ingat David dan Kemat. Dua pemuda itu ibarat disergap kekuasaan yang gelap. Berawal dari sesosok mayat di desa tetangga, tiba-tiba negara menciduk mereka dengan sebuah keyakinan besar. Keyakinan yang tak boleh dibantah oleh dua pemuda desa lugu dan kurang berpendidikan.

Negara sang pelindung itu musnah. Sebuah aparat, sebuah korps yang diberi kekuasaan untuk itu telah berlaku sembrono, telah berlaku pongah. David dan Kemat mendekam di penjara atas sebuah tuduhan yang tak pernah dia lakukan.

Sekian waktu, kebenaran itu terungkap. Ryan, pembunuh sadis yang menghebohkan itu membuka pengakuan. Sebuah kebetulan, seakan keadilan itu tengah menempuh jalannya sendiri. Atau Sang kebenaran sendiri yang telah mengaturnya. Bila demikian siapa pun juga tak berdaya untuk melawannya.

Hari-hari ini peristiwa David Kemat itu seakan kembali terulang. Dengan aparat yang jauh lebih tinggi pangkatnya. Dengan kepentingan yang jauh lebih besar . Dengan tingkat kehancuran yang tak tertahankan. Tetapi bukan oleh kesembronoan sebagai penyebabnya, melainkan sebuah niat jahat.

Kewenangan dan kekuasaan yang diberikan negara itu telah disalahgunakan. Namun kini semuanya perlahan-lahan telah terbuka. Keadilan itu sedang menempuh jalannya sendiri dan ia telah memilih panggungnya.

Tugas kita bersama untuk menyambutnya. Polisi sembrono mari kita bikin pintar. Polisi jahat mari kita singkirkan. Petinggi polisi jahat mari kita hukum berat-berat.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 7, 2009

Hati-hati: People Power Mau Diadu Dengan SBY

Keprihatinan mendalam bangsa ini tentang buruknya penegakan hukum kita adalah wajar dan baik adanya. Ada atau tidak rekaman KPK masyarakat telah merasakan ada yang tidak beres dengan aparat penegak hukum kita.

Kini setelah fakta tentang kebusukan itu mencuat tak terbantahkan, semua berharap ke depan akan ada perbaikan. Mimpi tentang aparat penegak hukum yang profesional, bersih dan berwibawa adalah harapan seluruh bangsa.

Akankah dapat terwujud dengan segera? Sulit rasanya, apalagi kini ada pihak-pihak yang ingin membelokkan isue ini ke ranah politik. Tidak tanggung-tanggung, isue yang diusung adalah impeachment.

Muncul tuduhan semua ini bukan perkara ingin mewujudkan tegaknya keadilan dan hukum, tapi lebih dari itu adalah ingin menjatuhkan presiden. Tudingan yang amat serius bukan ? Siapa pihak dibelakang tudingan ini, masih belum jelas. Berikut ini kutipan dari tudingan tersebut yang saya kutip dari yahoo.news.

……Seorang pengamat kepolisian melihat adanya indikasi untuk menjatuhkan atau melakukan”impeachment” terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan memanfaatkan kasus perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan jajaran Polri.

“Muara (akhir, red) dari berbagai kegiatan itu adalah mendiskreditkan atau mendegradasikan Presiden Yudhoyono,” kata pengamat masalah kepolisian Dr John Palinggi kepada ANTARA di Jakarta, Jumat ketika dimintai komentarnya tentang kasus antara KPK-Porli terutama Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri serta Bareskrim Komisaris Jenderal Susno Duadji.

“Kalau nanti ternyata SBY masuk ke wilayah hukum dalam kasus antara KPK dengan Polri tersebut, maka tokoh- tokoh tersebut nantinya akan menuduh bahwa SBY telah melakukan intervensi atau “masuk ” ke wilayah hukum yang bukan menjadi wewenangnya , sehingga mereka mempunyai alasan untuk melakukan ” impeachment” (pemakzulan, red),” katanya.

Pengamat ini mengemukakan bahwa para tokoh tersebut pada umumnya merasa kecewa karena mereka kalah dalam pemiihan anggota DPR, DPD serta DPRD serta dalam pemilihan presiden yang diselenggarakan pada tahun 2009. Yudhoyono telah menang mutlak dalam Pilpres dengan sedikitnya meraih suara 60 persen.

*John Pallinggi adalah Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia(Ardin).

Sumber http://id.news.yahoo.com/

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 7, 2009

Rapat Komisi III-Kapolri; Sebuah Antiklimaks ?

Rapat Komisi III-Kapolri disiarkan langsung TV One berakhir hingga dini hari. Ada penjelasan panjang lebar Kapolri, ada pernyataan Susno Duadji yang menyeret-nyeret perasaan anak istri. Menarik disimak, meski berakhir antiklimaks. Mengapa ?

Ternyata tanggapan fraksi-fraksi tidak galak-galak amat. Yang paling galak justru dari Demokrat yang secara keras menyerang kredibilitas Susno Duadji. Adalah Ruhut “si Poltak” itu yang secara lugas mengatakan “pernyataan Susno adalah gombal”. Ia bilang itu adalah isi sms yang ia terima dari kawan yang juga ada di kepolisian.

Fraksi lain justru memberi puja-puji kepada Kapolri. Pernyataan mendukung posisi kepolisian bertebaran berulang kali. Nah yang paling aneh justru PDIP, partai oposisi ini justru terlihat paling bersimpati pada Kapolri. Aneh kan, PDIP lembut Demokrat galak ?

Aneh atau tidak tapi nampak betul para anggota dewan yang terhormat ini pada terkesima dengan penjelasan kapolri. Tidak ada serangan tajam, tidak ada pertanyaan keras, tidak ada data-data akurat yang bisa disodorkan para anggota dewan.

Tanpa data-data di tangan apa yang mereka bisa buat. Bersilat lidah hanya bermodal logika saja tidak cukup. Apalagi berdasar prasangka tentulah tidak pantas. Inilah perlunya kita punya anggota dewan yang cerdas. Hanya orang cerdas saja yang punya kesanggupan untuk menggeluti demikian banyak data yang berserak, mengorganisirnya, menyimak satu persatu dengan teliti dengan fokus yang tinggi, memeriksa dan menguji dengan teliti, dan akhirnya menarik simpulan secara tertib dan benar.

Tanpa hal di atas apa yang terjadi ? Sebuah kebodohan yang terjadi. Tepukan membahana anggota dewan yang terhormat saat Susno Duadji menyatakan sumpahnya tidak menerima 10 milyar adalah bukti. Tepuk tangan itu adalah bukti kebodohan yang hadir tanpa disadari.

Sayang, saat people power demikian menggebu ingin membersihkan kepolisian, para penyambung lidah rakyat justru …. (ah susah diomongkan).

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 7, 2009

Gebrakan Patrialis Akbar; Cuman Omong Doank

Diam-diam Menkum HAM Patrialis Akbar, muncul jadi bintang dalam drama rekaman KPK. Apa yang dia lakukan. Mari kita simak beberapa hal menarik di bawah ini :

1. Ketika banyak orang penuh perhatian menyimak isi rekaman, bapak kita satu ini justru mengantuk. Bahkan ia tertangkap kamera tengah tertidur beberapa waktu yang cukup lama.

2. Meski mengantuk dan tertidur ia dengan semangat dan tegas bapak kita ini menyatakan bahwa presiden tidak terlibat seujung kukupun. Tidak ada keraguan seakan-akan semuanya ia simak dengan jelas.

3. Hari ini ia mempertanyakan relevansi pemutaran rekaman KPK dalam persidangan di MK.

Semua pihak yang ingin keadilan tegak di negeri ini tentu girang dengan pemutaran rekaman KPK. Karena dengan begitu ada kesempatan terbuka untuk membereskan kepolisian dan kejaksaan dari jaksa dan polisi brengsek.

Pemutaran rekaman itu adalah suatu berkah bagi penegakan hukum yang lebih baik di masa depan. Tetapi anehnya bapak kita ini justru tidak terlalu gembira dengan pemutaran rekaman KPK tersebut.

Padahal sebelum jadi menteri bapak kita ini pernah sesumbar untuk membuat gebrakan dan perubahan. Kini janji itu seharusnya menemukan momentum yang tepat untuk mewujudkannya. Kinilah saat yang tepat untuk melakukan gebrakan dan perubahan itu.

Tapi apa yang terjadi, alih-alih segera menyusun konsep reformasi total kepolisian dan kejakasaan, bapak kita ini malah tertidur pulas dan hari berikut mempertanyakan untuk apa rekaman KPK diputar.

Ada apa denganmu bapak menteri ? Apa yang kau hadapi sekarang ini ? Mengapa pula kau tak mampu menangkap harapan yang kini tengah menggelembung di dada rakyat ? Harapan yang tinggi akan hadirnya aparat penegak hukum yang berwibawa, adil dan bersih.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 7, 2009

Kepolisian dan Kejaksaan Menyelamatkan Muka; Sampai Kapan ?

Pemutaran rekaman KPK di MK sesungguhnya tidaklah luar biasa dari segi isinya. Tentang mafia perkara telah jadi rahasia umum sejak lama. Tentang polisi, jaksa dan hakim brengsek bukan juga berita yang tidak dapat dipercaya. Mereka ada, meski kadang tidak diakui oleh institusi mereka.

Namun tetap saja pemutaran rekaman itu penting, karena membuka mata kita semua. Sesuatu yang selama ini menjadi prasangka yang hidup dalam benak kita akhirnya terkuak, bisa kita dengarkan secara nyata. Beruntung hari ini kita punya MK. Kalau tidak ada mereka, mana bisa kita mendengarkan isi rekaman ini secara terbuka.

Isi rekaman itu sungguh-sungguh menohok kepolisian dan kejaksaan? Apa yang selama ini diyakini masyarakat agaknya mulai menampakkan kebenarannya. Ada upaya untuk menghancurkan KPK, yang melibatkan pengusaha brengsek, jaksa brengsek dan juga polisi brengsek. Sesuatu yang selama ini selalu dibantah dan ditutup-tutupi.

Kini pertanyaan besarnya adalah; Masihkah kita percaya pada kepolisian? Masihkan kita percaya pada kejaksaan? Dan bagaimana kita harus mengatasi keadaan ini ?

Kita semua tahu ada persoalan besar di tubuh kepolisian dan kejaksaan. Mereka sendiri tidak punya kemampuan untuk membersihkan lembaganya dari korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Maka sungguh sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana akhir dari kemelut Cicak-Buaya ini.

Apakah kepolisian dan kejaksaan masih bisa menjadi penegak hukum yang berwibawa dan adil ? Jika kepolisian dan kejaksaan masih saja sibuk untuk mencari cara menyelamatkan muka mereka, maka kita akan kecewa. Karena kasus ini tidak akan mengubah apapun di kepolisian dan kejaksaan.

Tetapi jika kepolisian dan kejaksaan mau bersikap ksatria, mengakui bahwa mereka punya persoalan besar dan bertekad inilah saat yang tepat membersihkan diri mereka, dan kemudian diikuti oleh tindakan nyata, maka masyarakat akan beri dua jempol untul mereka. Dan kepercayaan masyarakat pada dua lembaga ini akan dapat dipulihkan.

Jadi semuanya terpulang kepada Kapolri dan Kejagung. Mereka sendiri sekarang mau apa? Mereka bisa saja untuk terus melakukan upaya menyelamatkan muka sambil terus melawan rasa keadilan masyarakat. Tapi mau sampai kapan ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: rjsulistyanta | November 7, 2009

Presiden Mengancam Kapolri

Seandainya aku jadi presiden, aku akan panggil Kapolri. Aku semprot habis dia. Aku akan bilang jadi polisi nggak boleh plintat-plintut. Bilang A, besok ganti bilang B. Selidiki dulu yang benar baru diumumkan. Bikin malu saja, kampungan, nggak professional.

Aku maki-maki dia. Aku akan bilang kalau anak buahnya nggak beres jangan dibelain. Karena itu akan jadi penyakit. Satu nggak beres seluruh insititusi akan ketularan sakit semua. Kalau perlu tindak tegas saja, apalagi ini soal yang sangat prinsip sekali.

Aku akan tonjok-tonjok dadanya. Aku akan bilang KPK itu gerbong pemberantasan korupsi sekarang. Kalau dia ganggu KPK, berarti menghancurkan bangsa ini karena tak akan bisa lepas dari korupsi. Aku akan bilang lagi, seharusnya polri ngaca diri, apa yang telah ia buat selama ini untuk memberantas korupsi.

Aku akan tunjuk-tunjuk mukanya. Aku akan bilang kamu ini aku angkat untuk membantu agar tugas saya jadi ringan, bukan malah menyusahkan seperti sekarang ini. Saya ini ingin menjadi presiden yang bersih. Punya pemerintahan yang bersih.Saya ingin di masa jabatan saya yang kedua ini saya dikenang sebagai presiden yang paling konsisten memberantas korupsi.

Aku kan bilang. Saya ingin masuk sejarah, menjadi tokoh besar, tokoh hebat, dipuja-puji sepanjang masa. Cuma pernah menjadi presiden saja itu nggak cukup. Saya ingin menjadi presiden yang paling hebat yang pernah dimiliki bangsa ini. Saya ingin berbuat yang terbaik bagi bangsa ini. Apapun akan saya hadapi, karena dibelakang saya mayoritas rakyat mendukung saya bulat-bulat.

Terakhir aku akan ancam dia dengan sekeras-kerasnya. Jika kriminalisasi KPK tidak dijalankan dengan cara yang sophisticated, aku akan memecatnya. Kalau dia menangani KPK dengan cara-cara kampungan lagi aku akan mengantinya.

Sudah itu aku akan tepuk punggungnya, mengantarnya keluar ruangan dan berkata lembut; Ngerti kan apa yang saya maksudkan ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 30, 2009

Pig artinya : babi, celeng dan ….polisi.

Mungkin sudah ada yang tahu. Tapi mungkin juga ada yang belum tahu. Di negeri pangeran Charles, dulu polisi itu dipanggil dengan sebutan pig. Babi ya benar babi. Bahkan kini kadang-kadang sebutan ini masih terlontar. Ketikkan saja di kamus online, pakai Google boleh juga. Ketik kata pig. Tunggu sebentar. Dan lihat terjemahannya. Pig artinya : babi, celeng dan ….polisi.

Tentu sebutan “terhormat” itu tidak lahir tiba-tiba. Inggris sesungguhnya adalah pelopor munculnya polisi modern. Tetapi toh dalam sejarah perkembangannya si Scotland Yard ini pernah mengalami masa-masa pahit. Tugas yang berat, system yang belum tertata, disiplin yang rendah, manajemen yang lemah dan masyarakat yang individualisme amat tinggi, membuat mereka pernah memiliki kinerja yang buruk. Dan tentu saja mereka dibenci oleh masyarakat Inggris. Maka menyamakan polisi dengan babi adalah sebuah cercaan pedas yang popular dan dipakai dimana-mana. Hingga istilah itu masuk dalam kamus.

Begitu kira-kira jalan ceritanya. Kisah ini saya baca jaman dulu, ketika saya sedang pengin jadi polisi. Kini tidak lagi. Bagaimana di Indonesia ? Indonesia mah, sudah biasa ditindas. Mental inlander. Nggak mungkin bikin gelar-gelar yang nggak bermutu, hanya untuk melampiaskan nafsu. Polisi abdi masyarakat,ya kita ngangguk-angguk saja. Kita mah orang baik. Orang Inggris itu kasar, nggak tahu sopan santun. Ya nggak usah ditirulah.

Gitu kan, pak polisi, setuju kan anda ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 28, 2009

Merdekakan Akal Anda Bung !

Anda pernah mendengar pemberontakan Entong Gendhut, pemberontakan Gedangan atau perlawanan kaum Samin. Menurut sejarawan Sartono K, sepanjang akhir abad 19 dan awal abad 20 pemberontakan petani secara sporadis terjadi dimana-mana.

Apa sebab kemunculannya tidak perlu kita perdebatkan lagi. Penetrasi ekonomi colonial mengubah kehidupan social petani sampai pada tingkat yang tak tertahankan lagi. Belum lagi kemunculan budaya Barat yang tentunya amat berbeda dengan alam pikiran masyarakat waktu itu. Maka lengkaplah sudah semua bentuk kemerosotan itu; politis, ekonomi, sosial dan budaya.

Ada berbagai bentuk perlawanan: kerusuhan , pembakaran kebun tebu, penolakan membayar pajak hingga perlawanan kepada pejabat pemerintah. Dari tujuannya muncul gerakan mesianisme (ratu adil), nativisme hingga revitalisme. Yang menarik sebagian besar memiliki ciri yang sama; didahului dengan munculnya pemimpin kharismatik dan kuatnya alam pikiran religiomagis sebagai ideologi perlawanan.

Alam pikiran religiomagis itu tidak saja membentuk gambaran tentang kehidupan ideal yang mereka cita-citakan, tetapi sekaligus menjadi alat untuk menyatukan dukungan dan kesetiaan pada pemimpin. Dan puncaknya tentu untuk mengobarkan perlawanan. Inilah yang terjadi ketika ritual-ritual dilakukan, jimat-jimat dibagikan dan pekikan Allahu Akbar diteriakkan dalam perlawanan fisik yang mereka lakukan.

Itulah respon masyarakat agraris tradisional terhadap kedatangan bangsa Barat dengan segala dampaknya. Respon kekalahan mengahadapi Barat. Barat yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Di luar spirit perlawanan heroik, yang muncul adalah sebuah kekonyolan. Barat yang modern itu dilawan dengan keyakinan dan teknologi tradisional. Akhirnya kekalahan tragis yang diderita. Jimat-jimat itu tak sanggup juga menahan panasnya timah pelor-pelor Belanda yang mendesing di tengah teriakan Allahu Akbar. Menembus kulit tubuh dan tumbanglah keberanian yang menggelora. Kerumunan massa yang mengamuk itu dengan mudah dihancurkan oleh polisi dan militer Belanda yang terorganisir dan modern.

Tetapi masa-masa ini segera berakhir ketika muncul masa Terang Budi. Pendidikan modern yang dibawa oleh penguasa colonial akhirnya melahirkan manusia-manusia Renaissance Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan nasional adalah contoh manusia-manusia baru Indonesia yang tidak lagi dikuasai alam pikiran religiomagis. Artikel-artikel bung Kalangwan banyak mengupas kegigihan mereka merengkuh alam pikiran baru yang membentang di hadapan mereka; alam pikiran rasional.

Akibatnya kekuasaan Barat itu dengan terang-benderang menampakkan wajah aslinya di mata kaum pergerakan -kolonialisme. Dengan cara berpikir baru, dengan kesadaran baru mereka membangun gerakan yang sungguh berbeda dari zaman sebelumnya. Alam pikiran religiomagis diganti pemikiran rasional, ideologi tradisional diganti ideologi modern, pemimpin kharismatik diganti organisasi modern, jimat-jimat digantikan pamflet dan majalah. Secara sungguh-sungguh kita memberinya makna sebagai “Kebangkitan Nasional”.

Memang sungguh unik, fajar Terang Budi itu muncul seiring dengan fajar nasionalisme kita. Dan oleh semua itu kemudian lahirlah bangsa Indonesia, lahirlah Negara Indonesia.

Kini masa itu telah lama berlalu, seabad telah lewat. Tetapi entah, di hari-hari terakhir ini sepertinya waktu ingin ditarik mundur ke belakang. Kembali ke masa silam, ke zaman abad gelap bangsa Indonesia. Mimpi-mimpi tentang khilafah telah membawa kita kembali ke masa silam. Masa di mana Barat tidak dilawan dengan akal, tetapi dilawan dengan kekonyolan. Dan yakinlah dengan itu kita tidak akan menang.

Selamat Hari Sumpah Pemuda Bung.

Merdeka, merdekakan akal anda !

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 26, 2009

Sumpah Pemuda Sebuah Penanda

Hari ini, 81 tahun yang lalu, ada sesuatu yang berbeda di Batavia. Ratusan pemuda berdatangan dari berbagai daerah. Utusan-utusan dari beragam organisasi kepemudaan.

Sebuah undangan, sebuah kongres telah menggerakkan mereka. Undangan itu memang hadir dalam masa yang tepat. Masa dimana sebuah kesadaran baru merebak dimana-mana. Sebuah pertanyaan besar, tengah diperdebatkan di kalangan kaum pergerakan. Mungkinkah mencapai tujuan jika terdapat demikian banyak organisasi pergerakan ?

Inilah masa yang oleh Prof Sartono Kartodirjo disebut dengan istilah fase proliferasi pergerakan nasional. Fase dimana pergerakan nasional yang terpecah dalam berbagai kelompok saling bertentangan satu sama lain. Alih-alih bekerja sama memperjuangkan nasib bangsa, tak jarang mereka saling serang, saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Sejak awal, pergerakan nasional memang telah memiliki benih-benih faksionalisme dan konflik di dalamnya. Sumbernya adalah perbedaan ideologi dan perbedaan strategi politik. Maka kita mengenal pertentangan antara kooperatif dan nonkooperatif. Dan pertentangan yang amat sengit antara nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler.

Kemunculan PNI di tahun 1927 dan kemunduran SI bahkan mempertajam pertentangan tersebut. Sudah tentu disini juga muncul rivalitas, untuk menjadi kekuatan dominan diantara organisasi pergerakan. Adalah Sukarno yang demikian yakin perjuangan akan berhasil bila dapat dibentuk suatu “front sawo matang” melawan “front putihnya” kekuatan kolonial. Dan tidak akan ada front sawo matang tanpa keterlibatan SI di dalamnya.

Sukiman dari SI berhasil menyakinkan garis konservatif SI untuk membangun kerjasama dengan pihak nasionalis sekuler. Kompromi dua partai politik besar ini akhirnya menghasilkan sebuah federasi yang disebut PPPKI, Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia.

Selain PNI dan SI, bergabung dalam federasi ini; Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi dan Kelompok Studi Indonesia. Pembentukan federasi ini adalah sukses luar biasa yang dapat membawa persatuan, yang pada waktu itu dirasakan kurang di kalangan organisasi pergerakan.

Dalam suasana politik seperti inilah Kongres Pemuda II dilangsungkan. Para utusan organisasi pemuda dari berbagai daerah itu dengan cerdas mampu menangkap gerak sejarah. Bahkan melampaui para senior mereka, kongres memutuskan peleburan organisasi kepemudaan yang beragam itu ke dalam perkumpulan “Indonesia Muda”.

Sumpah Pemuda tentulah pencapaian mereka yang paling penting. Sebuah pernyataan sikap, sebuah kristalisasi dari semangat kebangsaan yang tunggal, semangat kebangsaan yang tertinggi. Semangat kebangsaan yang tidak lagi dijerat oleh kotak-kotak masa lalu. Semangat kebangsaan yang melampaui ikatan-ikatan lama, ikatan-ikatan primordial -yang selalu menyeret mereka dalam pertentangan yang melelahkan dan melemahkan.

PPPKI memang akhirnya bubar, karena pertentangan yang secara latent tidak terdamaikan. Tetapi Sumpah Pemuda sepertinya ditakdirkan untuk hidup melampaui zamannya. Hingga hari ini, ia tetap hidup. Setidaknya ia menjadi penanda, bahwa semangat kebangsaan kita yang tertinggi telah ditetapkan di tahun 1928.

Semoga kita tidak lupa.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 26, 2009

Kata Guru Bangsa Tentang Kabinet Baru

Apa kata salah satu guru bangsa tentang kabinet baru kita. Berikut adalah beberapa pandangan Ahmad Syafii Maarif, yang saya kutip dari artikelnya di Kompas hari ini. Sarat dengan keprihatinan, tapi juga tak hendak memadamkan harapan. Semoga saja para menteri baru kita mau merenungkannya malam ini. Dalam kepenatan, sesudah pesta dan tawa gembira di sana-sini.

Jangan disembelih sendiri

… Sebagai seorang demokrat, saya berharap Kabinet Indonesia Bersatu II, 2009-2014, akan memenuhi harapan masyarakat luas untuk membebaskan bangsa ini dari lilitan kemiskinan, korupsi, kebodohan, kepura-puraan, dan politik uang yang mewabah.

… Sebagai warga yang telah berusia 74 tahun, keinginan saya hanya tunggal: leher bangsa ini jangan sampai disembelih oleh anak-anaknya sendiri yang tak tahu diri karena sudah lama hidup dalam lingkaran kemakmuran materi yang melimpah. Harta cukup, kekuasaan di tangan, dan orang hormat kepadanya, karena tulus, ketidaktahuan, atau karena terpaksa, tak perlu kita bicarakan di sini. Singkatnya kelompok ini sudah merasakan nikmat kemerdekaan dengan segala fasilitas yang menyertainya.

….Hampir tanpa kecuali, wajah calon-calon anggota kabinet itu tampak bahagia di tengah kerumunan pers sambil mengangkat dan melambaikan tangan, tidak terlihat mimik keprihatinan tentang keadaan bangsa dan negara yang masih sempoyongan dalam memetakan masa depannya. Namun, sekali lagi, panorama ini semoga bukanlah wujud ketidakpedulian mereka terhadap masalah-masalah besar yang telah mendera bangsa ini sejak puluhan tahun yang lalu. Keceriaan yang terlihat itu semoga melambangkan optimisme bahwa mereka bisa dan akan berbuat sesuatu yang bermakna di bidangnya masing-masing bagi kepentingan rakyat banyak.

…. Sebagaimana telah sering saya sampaikan di depan berbagai forum, salah satu kendala terbesar yang dihadapi Indonesia merdeka sejak puluhan tahun yang lalu adalah masalah kepemimpinan dalam berbagai tingkat. Sulit ditemukan sepanjang sejarah Indonesia merdeka tampilnya pemimpin yang tepat di saat yang tepat. Ada saja titik lemah yang menggagalkan kepemimpinan mereka untuk mewujudkan cita- cita yang telah disampaikan secara lisan atau tertulis.

Lapindo dan Bank Century

….Bencana alam yang datang silih berganti tidak sampai membawa bangsa ini pada suasana putus asa. Namun, bencana Lapindo malah ditetapkan sebagai bencana alam, bukan akibat kecerobohan perusahaan, sesuatu yang ditantang oleh para ilmuwan yang mengerti betul bahwa bencana itu bukan bencana alam. Karena para ilmuwan itu tidak akan tinggal diam, bencana Lapindo ini pasti akan tetap menguak pada waktu-waktu yang akan datang, sekalipun para ilmuwan itu sering tidak berdaya berhadapan dengan hukum, kekuasaan, dan uang.

…. Borok lain yang mengemuka pada bulan-bulan terakhir kepemimpinan SBY-Kalla adalah skandal Bank Century yang kemudian memicu ketegangan antara KPK dan Polri, dua aparat penegak hukum yang sama-sama naik ke ring tinju. Rakyat banyak hanya bingung menyaksikan pertarungan yang memalukan itu. Sementara itu, pemeriksaan atas mantan Ketua KPK Antasari Azhar telah berbulan-bulan menyita perhatian publik yang semakin skeptik terhadap dunia hukum dan peradilan kita. Pertanyaannya adalah: kapan Indonesia dibebaskan dari mafia peradilan yang sarat dengan konflik kepentingan?

…..Oleh sebab itu, mimik keprihatinan masih sangat perlu dipertahankan sampai situasi umum bangsa ini benar-benar membaik secara signifikan.

Ahmad Safii Maarif, Kabinet Minus Mimik Keprihatinan Kompas, Kamis, 22 Oktober 2009

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 26, 2009

Julia Robert dan Barat Yang Gelisah

JULIA Roberts, peraih Oscar 2001 ketika memerankan Erin Brokovich, syuting film “Eat, Pray, Love” di Indonesia. Persisnya di Bali. Tidak seheboh Miyabi tentu saja. Tidak ada aksi tolak menolak. Bahkan syuting ini disambut sukacita dunia pariwisata di Bali.

Mengapa ? Ah sebuah pertanyaan bodoh. Meski sama cantiknya Miyabi dan Julia Roberts amat berbeda. Meski sama-sama bintang film keduanya juga berbeda. Meski sama sama pernah mendapatkan perhargaan tertinggi di bidangnya keduanya amat sangat berbeda.

Tidak perlu perbandingan itu diperpanjang lagi. Erin Brokovich dan Eat Pray Love adalah contoh perbedaan itu sendiri. Film yang bagus adalah film yang mampu memuliakan kemanusian manusia. Menontonnya tentu akan memperkaya batin kita. Film Miyabi …ah lupakan saja. Mari kita simak sinopsis film terbaru Julia Roberts ini.

Eat, Pray, Love berangkat dari kisah nyata Elizabeth Gilbert seorang jurnalis perempuan yang resah mencari makna kehidupan.

Memasuki usia tiga puluh tahun Gibert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Selain seorang suami dan sebuah rumah, Gilbert yang ambisius dan terpelajar juga punya karier yang cemerlang.

Namun, bukannya bahagia, dia justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupan. Gilbert merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia.

Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

Dalam petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing.

Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri nan elok ini, Gilbert mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Dari Italia, Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin.

Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu tradisional Bali.

Dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki manapun, akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.

Menarik bukan ? Barat yang menggelora, yang gelisah, yang kosong makna menemukan dirinya, menemukan keseimbangan, menemukan tujuan hidupnya di tempat kita. Belajar dari kearifan kita. Belajar dari kekayaan spiritual kita. Belajar dari kekayaan batin kita.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 26, 2009

Ketua MA: 50% Hakim Tidak Independen

Sebuah berita bagus, saya baca dari Kompas Minggu hari ini. Judulnya “Sebanyak 50 persen Hakim Tak Independen”. Judul yang biasa dan tidak aneh.

Keadilan di negeri ini memang carut marut. Banyak pihak menyakini hal tersebut. Terlalu sering berbagai vonis para pengadil itu membentur rasa keadilan masyarakat.

Awalnya judul berita itu saya lirik dengan ogah-ogahan. Tapi betapa terkejut saya ketika pada headline berita disebut bahwa sumber berita tersebut adalah Ketua Mahkamah Agung sendiri, Harifin A Tumpa.

Berikut saya kutipkan lengkap headline tersebut: ….”Ketua MA, Harifin A Tumpa mengakui bahwa 50 persen hakim di seluruh lingkungan pengadilan belum independen, dengan kualitas belum memadai. Dia mengakui terjadi kemerosotan independensi dan kualitas hakim dibanding pada periode awal kemerdekaan.”

Dalam berita tersebut juga disebut jumlah hakim di lingkungan pengadilan secara nasional adalah 6000 orang. Artinya kurang lebih ada 3000 hakim brengsek di Indonesia ini. Betapun ini berita buruk, tapi salut untuk pak Harifin. Keterbukaannya untuk mengakui hal ini sungguh layak kita apresiasi.

Itu berarti ada kejujuran, sesuatu yang amat langka di negeri kita ini. Dibalik kejujuran itu ada keprihatinan dan ada keinginan untuk mewujudkan korps kehakiman yang lebih baik di masa depan.

Sekali lagi salut untuk ketua MA, kita berharap akan mendengar berita yang sama jujurnya dari Kapolri dan Jaksa Agung. Ayo, berapa persen polisi dan jaksa brengsek yang kita punya ?

*apakah ini berarti keadilan di Indonesia baru 50% ?*

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 16, 2009

Korupsi, Tujuan Birokrasi Kita ?

4574-korupsi.jpg

Sebelas tahun reformasi kita tidak mampu menjelaskan arti korupsi. Ini kalimat bung fello citizen, di Logika Bodoh Indonesia. Lugas dan tak dapat dibantah. Meski ada kemajuan, tapi nampaknya pemerintahan yang bersih memang masih menjadi impian.

Apalagi hari-hari terakhir ini, kekuatan anti korupsi seakan hendak dihancurkan, justru oleh lembaga-lembaga yang seharusnya berdiri di barisan paling depan dalam pemberantasan korupsi. Sebuah ironi, sebuah dunia yang jungkir balik. Apa penjelasan dibalik semua ini ?

Ada yang mencoba memahami kisruh di atas sebagai buah perseteruan antar oknum dari dua lembaga. Maka usulan pencopotan jabatan seseorang menjadi solusi yang diusulkan. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Korps kelembagaan begitu kuatnya sehingga secara terang benderang perseteruan itu memang merupakan perseteruan dua lembaga.

Pemegang kekuasaan pemerintahan pun seakan tidak mampu bersikap netral terhadap apa yang terjadi. Ia tidak saja membiarkan kepolisian melakukan tekanan secara tidak proporsional, bahkan ia bersikap sangat responsif dengan mengeluarkan perpu tentang penunjukkan PLT KPK. Alih-alih mengevaluasi kinerja buruk kepolisian ia justru memanfaatkannya.

Sekali lagi apa yang sesungguhnya terjadi ? Mungkin benar kata teather Koma, kita ini adalah republik maling. Atau kita pinjam istilah Hans Dieters Ever tentang kelompok strategis. Negeri ini dibekap oleh kelompok yang berusaha menguasai sumber-sumber pendapatan. Kelompok ini akan terus berusaha melipatgandakan penguasaannya akan sumber-sumber pendapatan.

Militer, birokrasi dan lembaga negara yang lain, serta parpol sesungguhnya bekerja untuk melakukan pengambilalihan sumber-sumber pendapatan bagi kepentingan mereka sendiri. Inilah yang sesungguhnya terjadi. Dan mereka akan melakukan berbagai upaya untuk terus mempertahankan kepentingannya.

Maka sungguh sulit bagi kita bicara tentang aspek legal, formal dan rasionalitas birokrasi dan lembaga negara kita ini. Semuanya sudah dikantongi entah kemana. Tinggallah kita cuma bisa geleng-geleng kepala atas semua yang tengah terjadi. Jika tidak mau demikian, tutup saja mata dan telinga anda, biarkan semua terus membesar, hingga kehancuran dan kelumpuhan itu terjadi dengan sendirinya (parkinson).

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 15, 2009

Kuasi Oposisi PDIP?

kuasi oposisi.jpg

Kemenangan ganda SBY dalam pileg dan pilpres 2009 serta gejolak politik terkini tentang koalisi besar membuat banyak pihak kawatir. Ada gejala terang-terangan untuk membentuk pemerintahan super kuat dengan mengurangi kekuatan control dalam perlemen.

Golkar memang ditakdirkan untuk mengabdi pada kekuatan yang dominan. Maka dengan mudah SBY merangkul Golkar. Dengan PDIP memang agak berbeda. Ada kerugian politis tertentu jika secara bulat-bulat PDIP digabungkan dalam koalisi besar. Aka ada kesan Demokrat tidak peduli dengan upaya membangun tatanan kehidupan politis yang demokratis.

Tetapi membiarkan PDIP secara penuh memainkan peran oposisi tentu tidak diharapkan SBY. Masih jelas dalam ingatan kita betapa SBY harus kehilangan muka karena tidak berani hadir di DPR untuk menanggapi hak interpelasi dalam kasus obligator BLBI dan sanksi PBB terhadap Iran. Bak buah simalakama, tidak hadir artinya menjadi pecundang. Jika hadir harus bersiap menghadapi debat yang panas dan jika argumennya tidak diterima resiko politiknya akan sangat besar. Ini adalah mimpi buruk, SBY tentu tidak ingin mengulangnya kembali.

Maka hubungan intim Demokrat dengan PDIP kini ibarat teman perselingkuhan. Didambakan tapi tidak ingin terang-terangan. Ditutupi tapi baunya tetap kemana-mana . Soal ketua MPR adalah bukti. Dan lihat saat mereka saling berkata-kata di media tentang oposisi PDIP. Bahasanya begitu santun dan saling menjaga perasaan. Mau jadi oposisi kok berkata-kata mesra. Yang dioposisi juga senyum-senyum senang.

Jika hal di atas benar begitu adanya, maka inilah dagelan politik kontemporer kita. Oposisi PDIP adalah oposisi pura-pura. Sebuah kuasi oposisi, sebuah kuasi demokrasi*. Dan sebuah penipuan kepada rakyat tengah dilakukan.

*kuasi demokrasi, demokrasi semu (RA Dahl)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: rjsulistyanta | Oktober 15, 2009

Pidato Seorang Anggota Parlemen Terpilih

Tuan-tuan menjadi kebahagiaan dan kemuliaan seorang wakil rakyat untuk hidup dalam persatuan yang amat erat, korespondensi yang sangat akrab dan komunikasi yang tak pernah putus dengan para pemilihnya.

Harapan-harapan mereka harus menjadi pertimbangan yang utama baginya, dan pendapat-pendapat mereka seharusnya dijunjung tinggi; dan kegiatan mereka memperoleh perhatian terus menerus. Adalah kewajibannya untuk mengorbankan waktu istirahat, kesenangan dan kepuasannya demi ketenangan, kesenangan dan kepuasaan mereka yang diwakilinya -dan yang lebih penting selalu dan dimana-mana, lebih membela kepentingan mereka daripada kepentingannya sendiri.

Tetapi ia tidak boleh mengorbankan pendiriannya yang lurus, penalarannya yang matang, suara hatinya yang jernih bagi anda, bagi siapapun, atau bagi kelompok masyarakat manapun juga. …Wakil anda mempunyai kewajiban kepada anda untuk memberikan bukan saja kerajinannya, melainkan pertimbangannya pula, dan ia akan berkhianat, bukannya mengabdi kepada anda, kalau ia mengorbankan pertimbangannya demi pendapat anda.

Menyampaikan pendapat merupakan hak setiap orang, pendapat para pemilih merupakan pendapat yang berbobot dan terhormat, yang harus selalu dipertimbangkan sungguh-sungguh oleh seorang anggota parlemen. Tetapi instruksi-instruksi otoritas, mandat-mandat katebelece yang dikeluarkan, yang mengikat anggota parlemen itu secara buta dan secara tersirat harus dipatuhinya, untuk memberikan suara, untuk mendukung argument-argumen yang mungkin bertentangan dengan keyakinan, pendapat maupun suara hatinya yang paling dalam – inilah yang sama sekali tidak dikenal oleh undang-undang negeri ini, sebab itu semua muncul dari kekeliruan mendasar seluruh penafsiran terhadap tatanan serta bunyi konstitusi kita.

Parlemen bukanlah konggres para duta besar dari berbagai kepentingan yang berbeda dan saling bermusuhan, yang harus mempertahankan kepentingannya masing-masing, sebagaimana seorang advokat klien melawan advokat klien lainnya, melainkan parlemen adalah suatu majelis permusyawaratan bangsa, dengan satu kepentingan, yaitu kepentingan semua -bukannya kepentingan-kepentingan setempat, bukan kecurigaan-kecurigaan setempat yang harus menjadi patokannya, melainkan kesejahteraan umum, yang timbul dari penalaran keseluruhan secara umum.

Memang anda memilih seorang anggota parlemen, tetapi begitu anda memilihnya, dia bukan lagi seorang wakil dari suatu daerah pemilihan, melainkan dia seorang anggota parlemen. (Edmund Burke,”Mengenai Pemilihan Anggota Parlemen” seorang filsuf, politikus, anggota parlemen Inggris 1766)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Tulisan Sebelumnya »

Kategori