Oleh: pak mayar | Maret 18, 2009

Menjelang Kunjungan Dubes Vatikan

Seorang tamu penting akan datang ke sekolah kami. Duta besar tahta suci Vatikan untuk Indonesia, Mgr Leopold Garibaldi. Untuk menyambut tamu istimewa ini kami banyak bersiap-siap. Para siswa juga disiapkan dengan maksud agar dapat memberikan sambutan yang pantas. Siang tadi siswa dikumpulkan di halaman dan sie kesiswaan memberikan pengarahan.

Agar pengarahan berjalan baik, aku dan beberapa guru membantu mengawasi siswa- sesuatu yang seharusnya tidak diperlukan lagi pada anak-anak SMA. Tetapi tidak, di depanku sekelompok siswa terus menerus sibuk dengan obrolan dan kelakarnya, tak peduli apapun yang disampaikan oleh gurunya di depan. Aku mengamati mereka dengan seksama, berharap dengan perhatian khususku mereka akan merasa diingatkan kemudian malu dengan sikapnya.

Ternyata harapanku sisa-sia, mereka terus asyik dengan dunia mereka sendiri hingga aku tidak tahan lagi untuk tidak berbuat apa-apa. Kubentak mereka dengan wajah marah, dengan satu pertanyaan yang dengan nada tinggi kuteriakkan : Apakah kalian tidak bisa mengahargai orang lain?

Hingga malam ini aku masih tercenung, mengapa hampir dua tahun mereka aku didik tetapi tidak juga mampu menunjukkan karakter yang baik ? Apa yang salah dengan cara mendidik yang kami lakukan ? Memang tidak setiap nilai-nilai yang kami tanamkan pada mereka akan dapat terlihat hasilnya seketika. Namun begitu untuk hal yang sangat sepele ini tentu tidak salah aku berharap untuk melihat hasilnya sekarang. Bersikap tertib dalam barisan dan menghargai guru yang sedang memberi pengarahan. Apakah ini sesuatu yang sangat sulit diwujudkan oleh anak-anak tersebut.

Tetapi ini juga terjadi di manapun. Bahkan di depan pidato presiden pun. Pernah kan Pak SBY marah karena pidatonya tidak didengarkan. Mungkinkah ini fakta bahwa kita belum punya adat bertingkah laku baik dalam forum resmi. Adat kita masih seperti perilaku kerumunan yang serba bebas. Adat pasar malam, adat nonton wayang. Kita akan melakukan apapun sesuka kita sepanjang malam. Ketika wayang dilakonkan kita sesekali memperhatikan, tetapi kita lebih banyak akan asyik sendiri; ngobrol, makan bakso, tertawa, berteriak bahkan berjudi di pinggiran lapangan. Inilah kita maka dalam forum resmi dan terhormat produk budaya barat itu kita menjadi udik dan tidak tahu adat. Benarkah ?


Responses

  1. namanya juga anak-anak pak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: