Oleh: pak mayar | Maret 26, 2009

Curhat Sama Ortu …Ayo !!!

Komunikasi yang Buruk dan 4 Kesalahan Orang Tua

Suatu ketika dengan bersungut-sungut seorang anak mengeluh pada ibunya.

“Huh nggak enak, kawan-kawan sekolah pada rese”.

“Ah, masak gitu saja marah-marah”.

“Tapi ma, kawan-kawan memang keterlaluan masak saya diolok-olok sok pintar”.

“Nggak usah dipikir, nanti kan berhenti sendiri”.

“Tapi mereka begitu terus”

“Kalau mama sih, mama nggak pernah mikirin omongan jelek kawan mama, Bikin capek saja. Ayolah kamu juga bisa kayak mama!”

“Tapi bikin nggak enak ma, menyebalkan”.

“Sudahlah itu soal kecil, ntar kamu rugi sendiri lho. Gak usah dipikirin, ada yang lebih penting lho. Kau belajar yang bener-bener itu yang lebih penting. Ya, bisalah, kamu pasti bisa mengatasi persoalan ini. Ini soal kecil. Ya, yakin saja , kamu pasti bisa”.

Apakah komunikasi anak dengan ibunya diatas adalah komunikasi yang baik ? Bila anda menjawab tidak, anda adalah orang tua bijaksana dan penuh pengertian. Sebaliknya bila anda menjawab ya, marilah kita belajar dari percakapan diatas. Ada 4 kesalahan besar yang dilakukan ibu di atas dalam membangun komunikasi yang baik dengan anaknya.

  1. Meremehkan

“Ah, masa gitu saja marah-marah”. Ini adalah ucapan yang meremehkan persoalan yang dihadapi anak. Hal ini terjadi karena orang tua selalu menggunakan ukurannnya sendiri, pandangannya sendiri, pertimbangannya sendiri dalam menilai persoalan anaknya. Bagi orang tua urusan belajar, urusan sekolah, urusan karir adalah persoalan yang penting yang lain-lain dianggap persoalan remeh. Orang tua lupa bagi seorang anak, membangun hubungan yang baik dengan teman-temannya adalah persoalan penting.

  1. Menasehati

“Nggak usah dipikir, nanti kan berhenti sendiri” Orang tua seringkali tidak dapat menahan diri untuk cepat-cepat memberi nasehat. Anak belum sempat cerita tentang kejadian yang terjadi di sekolahnya secara jelas, anak belum sempat curhat tentang segala kekesalannya eehh malah dinasehati, diceramahi macam-macam. Yakinlah nasehat hanya akan diterima dengan baik bila anak kita memintanya. Jadi jika saat curhat anak kita tidak meminta nasehat jangan anda memberinya nasehat. Terkadang anak tidak butuh nasehat, ia hanya butuh didengarkan, butuh diperhatikan, butuh didukung dalam menghadapi persoalannya.

  1. Menonjolkan Diri

” Kalau mama sih, mama nggak pernah mikirin omongan jelek kawan mama.” Orang tua sering menonjolkan diri, memuji prilakunya sendiri ketika anak sedang curhat. Orang tua sering kali lupa persoalan yang dihadapi anak akan selalu berbeda dengan persoalan yang dihadapinya. Orang tua juga lupa taraf perkembangan kedewasaan dirinya dengan anaknya juga berbeda, maka membandingkan dan menonjolkan diri adalah sikap yang tidak adil bagi anak.

  1. Mengalihkan Perhatian

“Gak usah dipikirin, ada yang lebih penting lho. Kau belajar yang bener-bener itu yang lebih penting.” Cepat-cepat mengalihkan perhatian pada persoalan yang lain sering terjadi karena orang tua memandang masalah yang dihadapi anak bukanlah masalah penting. Jika ini terjadi anak akan kecewa karena ia merasa tidak diperhatikan.

Tips Komunikasi Yang Baik Bagi Ortu

Suatu ketika dengan bersungut-sungut seorang anak mengeluh pada ibunya.

“Huh nggak enak, kawan-kawan sekolah pada rese”.

“Anton, kok pulang sekolah marah-marah, ada apa sih ?”

“Tadi ma, pas pulang sekolah dicegat sama kawan-kawan, dibilangin jangan sok pinter ya di kelas. Sebel”.

“O gitu, coba duduk sini, mama mau dengerin, gimana sih ceritanya”

“Nah sini duduk dekat mama”.

Anak itu duduk di dekat mamanya dan mulai bercerita. Saat bercerita mamanya mendengarkan dengan penuh perhatian, dia condongkan badannya ke arah anaknya, pandangan matanya ia pusatkan kepada roman muka anaknya, ia pegang tangan anaknya. Dan ketika anaknya selesai bercerita mama itu berkata,” Jadi menurutmu kawan-kawan nggak suka sama kamu ya ?”

Komunikasi di atas adalah contoh komunikasi yang baik. Anak tersebut dapat curhat dengan lega karena ibunya sungguh-sungguh memberikan perhatian, ibunya menjadi pendengar yang baik Ada 3 langkah untuk menjadi pendengar yang baik :

1. Ekspresi

Ucapan dan tindakan kita mengekspresikan bahwa kita peduli dengan anak kita, peduli dengan keluhanannya, kekesalannya. Kita hampiri anak kita, kita beri kesempatan agar ia mau bercerita lebih banyak. Kita tinggalkan aktivitas yang kita lakukan, kita tunjukkan dengan total bahwa kita memperhatikan dia.

2. Atensi

Ketika anak curhat, kita fokus dengan yang ia ceritakan, fokus dengan emosi yang ia rasakan. Kita sungguh-sungguh perhatian. Kita dengarkan tanpa memotong ceritanya. Biarkan anak bercerita sendiri secara mengalir. Kita juga jangan menginterogasi. Anak akan menceritakan sendiri apa yang ingin ia ceritakan bila kita mendengarkan dengan penuh perhatian. Tugas orang tua yang terpenting adalah memahami perasaan terdalam yang dirasakan anaknya.

3. Peneguhan

Bila anak sudah selesai bercerita dan kita sudah memahami perasaan terdalam yang dirasakan anak kita, kita perlu untuk memberikan peneguhan pada perasaannya. Sampai tahap ini Anda akan menjadi pendengar yang baik dan anda akan merasakan kedekatan sungguh erat dengan anak anda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: