Oleh: pak mayar | Maret 28, 2009

Setiap Anak Terlahir Jenius, Keluarga Merusak Kejeniusan Mereka

BEDAH BUKU

Setiap Anak Terlahir Jenius,
Lingkungan Keluarga Merusak Kejeniusan Mereka.

Judul Buku : Membangkitkan Kejeniusan Di Dalam Ruang Kelas
Judul Asli : Awakening Genius in The Classroom
Penulis : Thomas Amstrong (Alih Bahasa MRL Nugroho MA)
Penerbit : INTERAKSA, BATAM
Tahun Terbit : 2004

Pada umumnya kata jenius dipakai untuk menyebut kelompok orang yang mencapai skore 130 ke atas dalam tes kecerdasan (tes IQ). Menurut Thomas Amstrong arti jenius tersebut tidak tepat lagi digunakan. Kini sudah banyak diyakini orang bahwa IQ bukanlah penentu utama keberhasilan seseorang. Pengaruh kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan mengatasi hambatan (AQ) kini dipercayai lebih penting dalam menentukan keberhasilan seseorang.

Di bagian awal buku ini Thomas Amstrong meneliti kata jenius berasal dari bahasa Yunani dan bahasa Latin yang berarti memperanakkan, dilahirkan atau dijadikan. Kata ini juga diartikan meriah, memeriahkan, riang gembira dan membantu pertumbuhan. Dalam pandangan pendidikan kata jenius berarti “melahirkan kegembiraan dalam belajar”. Bagi Thomas Amstrong kejeniusan anak akan muncul bila ia mengalami kegembiraan dalam belajar, mengalami kegembiraan dengan kemajuan dan pertumbuhan yang mereka alami. Inilah arti jenius menurut pandangan Thomas Amstrong yang dikatakannya lebih mendekati teori-teori kecerdasan yang berkembang pada masa sekarang.

Ciri-ciri Jenius
Berdasarkan arti jenius diatas Thomas Amstrong mengenalkan 12 ciri-ciri dasar kejeniusan seseorang. Seseorang dikatakan jenius bila memiliki : rasa ingin tahu yang besar, jenaka, imajinatif, kreatif, rasa takjub, bijaksana, penuh daya cipta, penuh vitalitas, peka, flexibel, humoris dan gembira.
Dalam masyarakat hanya terdapat dua kelompok manusia yang cenderung memiliki sebagian besar ciri-ciri di atas. Kelompok yang pertama adalah orang-orang sukses dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka antara lain para ilmuwan terkemuka, negarawan, budayawan ternama dan para pemimpin dunia usaha. Kelompok yang kedua adalah anak-anak. Sebagian besar ciri-ciri dasar jenius di atas terdapat dalam diri anak-anak. Anak-anak pada usia pra sekolah dan anak-anak TK adalah pribadi yang penuh vitalitas, tidak mau diam, gembira, suka bermain, penuh rasa ingin tahu, penuh rasa takjub, kreatif mau mencoba segala sesuatu dan jenaka.

Pengaruh Keluarga
Ada 4 pengaruh negatif keluarga yang dapat merusak kejeniusan anak. Pertama; kelainan emosi. Terjadi bila orang tua memiliki watak temperamental, mudah marah, meledak-ledak, tidak mampu menguasai emosinya. Dalam keluarga seperti ini seluruh vitalitas seorang anak akan hancur karena hardikan, bentakan, hinaan dan caci maki yang terjadi secara beruntun. Rasa ingin tahu dihukum atau diacuhkan dan kegembiraan dihimpit oleh selimut tebal kemurungan. Bila hidup dalam lingkungan ini anak tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi, melakukan kesalahan, menemukan berbagai gagasan dan melakukan banyak hal lain yang biasa dilakukan orang jenius. Dalam keluarga dimana kegelisahan melayang-layang di atas rumah laksana awan gelap yang menggayut, anak-anak akan kehilangan sifat jenaka mereka (hlm 66).

Kedua; kemiskinan. Keluarga miskin kurang mampu memberikan lingkungan pembelajaran yang merangsang tumbuhnya kejeniusan anak. Kehadiran orang tua yang tidak berpendidikan dan berwawasan luas dalam keluaraga miskin mengakibatkan anak-anak dalam keluarga tersebut tidak menerima berbagai rangsangan intelektual secara verbal. Selain itu perawatan kehamilan yang buruk dan kekurangan gizi pada masa kanak-kanak dapat merusak otak anak pada awal kehidupan mereka, sehingga membatasi potensi mereka untuk mengembangkan kejeniusannya. Namun harus diingat kemiskinan bukan kesalahan mereka sendiri, kemiskinan sering terjadi karena adanya ketidakadilan politik dan ekonomi.

Ketiga; gaya hidup instan. Terjadi dalam keluarga yang secara financial mapan, orang tua super sibuk, tidak ada cukup waktu bagi anak-anak mereka. Kalaupun mereka mempunyai waktu akhirnya mereka memfokuskan diri pada kehidupan pembelajaran anak dan seringkali para orang tua ini berpikir untuk mendapatkan jalan pintas. Mereka seringkali menekan anak-anak mereka untuk mempelajari berbagai hal sebelum anak siap. Anak TK sudah diikutkan les membaca, bahasa Inggris, matematika dan lain-lain. Pun ketika mereka di SD makin banyak lagi berbagai les dijalani oleh anak sehingga mereka kehilangan waktu untuk bermain, bergembira. Meski dari luar mereka nampak seperti anak berprestasi tinggi, seluruh kejenakaan, rasa ingin tahu, kegembiraan, kreatifitasnya sudah dihancurkan (hlm 69)
.
Keempat; ideologi yang kaku. Beberapa keluarga membesarkan anak-anak dalam suatu lingkungan ketakutan dan kebencian terhadap mereka yang tidak memiliki sistem kepercayaan yang sama. Yang menjadi permasalahan bukan merupakan inti dari sistem kepercayaan tersebut tetapi bagaimana anak-anak diajar untuk takut terhadap cara berpikir yang berbeda dengan kepercayaan mereka dan untuk membenci orang-orang yang berbeda dengan cara berpikir mereka. Dalam iklim seperti ini rasa ingin tahu anak untuk mengenali cara lain untuk mendapatkan pengetahuan dan prilaku menjadi terhenti, kepekaan mereka terhadap perbedaan menjadi tumpul dan sifat fleksibel mereka hilang (70).

Pengaruh Sekolah
Menurut penulis buku ini sekolah juga punya andil dalam merusak kejeniusan anak. Misalnya pembelajaran yang kaku, buku pelajaran yang kering, banyaknya latihan soal, tes dan ujian telah membuat anak-anak kehilangan rasa gembira, rasa takjub, rasa ingin tahu, keinginan mengeksplorasi dan sifat jenaka. Di bagian akhir buku ini penulis memberikan langkah-langkah bagaimana keluarga dan sekolah merancang pengasuhan dan pembelajaran yang dapat mengembangkan bakat kejeniusan anak yang secara alami telah mereka miliki sejak lahir. Buku yang ditulis dengan bahasa yang sederhana ini penting dibaca oleh para orang tua dan pendidik. (Erjhe S)


Responses

  1. alhamdulillah makin banyak yg sadar

  2. amazing.saya sangat terkesan.dan sedang belajar mengubah pola didik pd putri saya.saya sedang dengan serius memikirkan bagaimana “nasib”putri saya bila kelak bersekolah disebuah ruang kelas yang kaku,denganderetan kursi kursi yg ditata menghadap ke depan…

  3. tanks info@ sangat bagus buat ibu bapak guru tarbiyah yg akan slalu berhadapan dengan anak2

  4. trimakasih atas infonya, ini ilmu sangat bermanfaat sekali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: