Oleh: pak mayar | April 6, 2009

Pemilu 2009, Pendidikan Politik dan Proses Demokratisasi Kita

Kampanye pemilu calon legislatif 2009 sudah usai. Jalanan kembali bersih. Aneka baliho dan poster para caleg itu sudah tidak ada lagi. Panggung-panggung kampanye sudah sepi. Pesta rakyat sudah berakhir. Kegairahan mengendur. Kini minggu tenang menjelang pencontrengan.

Tinggal para caleg mulai memainkan angka-angka dalam pikiran. Berapa suara kira-kira bisa di dapat. Di atas kertas tentu saja semuanya bisa direka-reka. Yang paling enak tentu mulai berangan-angan seandainya melenggang ke Senayan alangkah indahnya. Seandainya jadi anggota DPRD alangkah hebatnya. Asalkan segera sadar bila akhirnya mimpinya tidak menjadi kenyataan. Siap-siap cari kompensasi yang positif bila gagal. Cari obat stress. Iklaskan segala uang yang sudah hilang. Atau putar otak untuk bayar utang.

Para tim sukses mulai sibuk menghitung laba. Berapa ia dapat atas segala jerih payahnya. Dan dag dig dug menunggu bayaran tahap kedua jika caleg yang mereka garap akhirnya menang. Jangan lupa sebagian diantara mereka kini sangat profesional. Mereka bahkan membuat surat kontrak dengan caleg yang meminta jasa mereka. Memang sih masih ada juga tim sukses amatiran yang didasarkan pada loyalitas kepartaian dan kekerabatan. Kepada mereka ini cukuplah bila ada sedikit uang untuk mengganti keringat dan pegal-pegal yang mereka dapat.

Lantas apa yang diperoleh rakyat selama pesta demokrasi ini. Wah banyak, banyak sekali. Kalau beruntung mereka dapat macam-macam hadiah dari para caleg. Meski money politik dilarang undang-undang para caleg kita tidak kehilangan akal. Yang dananya besar bisa bagi-bagi doorprize motor. Hebat kan. Yang dananya cekak ya bagi-bagi sembako, sarung atau kaos oblong jadilah. Atau uang 50 ribu, 100 ribu asal jangan 5 ribu. Menghina demokrasi namanya. Nah enakkan jadi rakyat.

Tapi kalau anda sebagai rakyat tidak dapat apa-apa dalam kampanye kali ini, ya iklaskan saja. Toh anda masih juga mendapat kesenangan nonton konser gratis grup music idola anda. Atau penyanyi dangdut pujaan anda. Atau paling tidak anda puas memerkan segala polah tingkah dan kreasi anda dalam kampanye. Jarang kan kita bisa tampil gila-gilaan dalam berpakaian, potongan rambut, make dari yang indah hingga sangat norak tanpa di cap gila. Kapan lagi kalau bukan saat kampanye.

Kampanye yang baru lewat itulah wajah demokrasi kita. Tidak mendidik rakyat. Isinya hanya teriakan tentang slogan, janji dan yel-yel partai. Tidak ada agenda politik yang jelas tentang bangsa ini hendak di bawa kemana. Tidak ada program yang jelas. Tidak ada cetak biru yang detail tentang bagaimana mewujudkan semua janji itu. Ya itulah kualitas demokrasi kita. Mau bicara detail juga serba salah. Caleg dan jurkam kapasitasnya kadang tidak jelas. Massa rakyat pun kadang maunya hanya cari hiburan.

Kapan ya kita boleh bermimpi model kampanye negeri Paman Sam itu bisa terwujud di sini. Pidato kampanye adalah inti kampanye terbuka, ialah puncak acara. Itulah saatnya sang calon menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Memaparkan visinya dengan sejelas-jelasnya. Ribuan orang takzim menyimak pidato kampanye. Dan akan memberi respon tepuk tangan jika isi pidatonya menggugah. Visi calon adalah substansi kampanye, calon dan massa pendukung disatukan oleh visi itu.

Debat di Amerika lebih oke lagi. Para calon diadu dalam debat terbuka yang elegan. Satu dengan yang lain saling menyerang dengan argumen yang cerdas tapi disampaikan dengan cara yang santun. Disertai senyum dan penghargaan pada lawan. Tidak ada yel-yel dan teriakan pendukung ala debat di televisi kita. Norak. Kapan ya kita akan sampai pada tahap tersebut. Berapa generasi lagi kultur demokrasi ini akan tumbuh di negeri kita. Caleg yang cerdas serta massa yang cerdas kapankah hadir dalam kehidupan bernegara kita. Keduanya adalah syarat kampanye yang berkualitas. Tanpa keduanya kampanye hanyalah hura-hura.

Adakah yang salah dengan kultur demokrasi kita. Memang ada. Konon demokrasi adalah tradisi luhur suku bangsa di penjuru nusantara. Musyawarah untuk mufakat melekat dalam tradisi kita sejak dari dulu. Dalam lingkup kekerabatan dan masyarakat desa musyawarah menjadi roh yang menjamin kebersamaan dan keutuhan. Namun dalam lingkup masyarakat yang lebih luas kita tidak punya tradisi demokrasi yang kuat.

Kerajaan-kerajaan nusantara, penguasaan VOC, pemerintahan Hindia Belanda, penjajahan Inggris, pendudukan Jepang semuanya tidak memberikan pengalaman historis tentang kehidupan demokrasi dalam lingkup bernegara. Tanpa bekal pengalaman historis inilah kita membangun demokrasi kita dengan susah payah. Praktek demokrasi parlementer ala Barat kita gunakan sesudah kemerdekaan (1945-1959). Dan terbukti gagal. Kemudian muncul demokrasi ala Sukarno yang disebut Demokrasi Terpimpin. Prakteknya adalah bukan demokrasi. Terakhir pemerintahan Orde Baru Suharto mempraktekkan segala ritual pemerintahan demokrasi yang agung meriah namun sangat menindas. Sesudah reformasi 1998 barulah kita belajar membangun demokrasi. Inilah sejatinya kita. Meminjam istilah Gus Dur -demokrasi kita masih setingkat Taman Kanak-Kanak.

Technorati : , , , , , , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , , , , , , ,
Zooomr : , , , , , , , , , , ,
Flickr : , , , , , , , , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: