Oleh: pak mayar | April 21, 2009

Kecurangan UN 2009, 16 Kasek, 9 Guru dan Kabiddikmen Bengkulu Selatan Ditahan Polisi

Bengkulu Selatan, 16 kepala sekolah, 9 guru dan Kabiddikmen ditahan polisi karena tertangkap basah sedang merancang kecurangan UN 2009.

Kronologi kejadiannya menurut harian Rakyat Bengkulu (RB) disebutkan, peristiwa hari minggu 19 April 2009 itu terjadi setelah penyerahan soal UN 2009 di aula Dikdispora Bengkulu Selatan (BS). Setelah soal dicheck, soal dibawa masing-masik kepala sekolah untuk dititipkan di polsek terdekat. Kepala SMAN 1 Bengkulu Selatan yang juga Ketua MKKS sengaja tidak menitipkan soal cadangan UN 2009. Sampai di sekolah ia mengontak para kepala sekolah BS untuk berkumpul. Dalam rapat siang itu mereka sepakat soal cadangan dibuka agar bisa dibuatkan kunci jawaban. Dan sedianya mereka merencanakan kunci jawaban itu akan diberikan kepada siswa asalkan mereka membayar pada pihak sekolah.

Belum sempat semua soal dibuatkan kuncinya aparat polres BS tiba-tiba datang dan membekuk mereka. Di tangan mereka dijumpai 9 naskah soal UN SMA 2009. Soal Ujian Fisika sudah di buka dan sedang dibuat kunci jawabannya. Seluruh kasek, guru dan kabiddikmen BS yang ada di tempat kejadian segera digelandang aparat dan kini ditahan di mapolresta BS.

Pelaksanaan UN 2009 tingkat SMA di BS tetap dilaksanakan mulai Senin 20 April 2009 kemarin. Kebocoran soal tidak meluas akibat aparat bergerak cepat. Kita acungi jempol setinggi-tingginya pada AKBP Herry Wiyanto, kapolres BS beserta jajarannya. Tanpa mereka kecurangan UN 2009 yang sangat sistematis akan terjadi di BS.

Menurut informasi yang dihimpun RB kecurangan UN itu sudah direncanakan sejak awal. Siswa-siswa pun sudah diberi tahu bahwa nanti ketika ujian mereka akan dibantu kunci jawaban dari guru mereka. Akibatnya banyak siswa yang santai-santai saja dalam belajar. Tapi kejadiannya ternyata berbeda, saat ujian berlangsung kepala sekolah mereka ditahan. Mereka stress karena tidak sungguh-sungguh siap menghadapi ujian.

Dunia pendidikan kita sesungguhnya sedang hancur. Apa jadinya nasib anak-anak bangsa ini jika mereka diasuh oleh pendidik yang tidak punya moral, tidak punya integritas. Bahkan mereka ini mengajari anak didik mereka untuk juga bersikap sama dengan mereka. Kebenaran dan kejujuran dibuang jauh-jauh di lingkungan sekolah mereka. Ini semua terjadi karena hasil UN menjadi penentu kelulusan siswa. Kebijakan Jusuf Kalla yang sesungguhnya telah ditolak oleh hampir semua pakar pendidikan di negeri ini.

Sejujurnya bukan kali ini saja kita dengar kepala sekolah, guru dan pejabat diknas merancang kecurangan ujian nasional. Tetapi biasanya semuanya masuk peti es. Para guru yang masih punya moral dan integritas dan untuk itu mereka tidak mau diam saja melihat kecurangan UN terjadi, justru yang akan disingkirkan. Mereka inilah yang dikenal dengan komunitas Air Mata Guru.

Semoga peristiwa di Bengkulu Selatan ini membuka mata kita semua. Kecurangan UN yang sistematis itu bukan isapan jempol belaka. Ia terjadi secara masif dimana-mana. Kehancuran moral ini mari kita hentikan. Sebab tanpa nilai kebenaran dan kejujuran sebuah sekolah tidak layak lagi di sebut sebagai sekolah. Tanpa nilai kebenaran dan kejujuran seorang guru tidak lagi layak disebut guru. Dan tidak akan ada pendidikan jika nilai kebenaran dan kejujuran dimasukkan ke tong sampah.

Daripada kebenaran dan kejujuran, lebih baik UN saja yang kita masukkan ke tong sampah. Setujukah anda ?

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,


Responses

  1. Saya tidak setuju kalau UN ditiadakan, sebab itu adalah sebagai batasan untuk melihat IP SDM masyarakat Indonesia, dan menganalisis sejauh mana program kurikulum yang hampir tiap generasi diubah sesuai keinginan dari pembuat kebijakan. Namun yang menjadi permasalahan, jangan UN dijadikan sebagai patokan kelulusan proses belajar siswa, biarkan batas minimal masih ada, tapi untuk kelulusan harus ditentukan oleh pihak yang berada di lapangan dalam artian yang langusung bersentuhan dengan proses belajar yaitu Sekolah masing-masing. Bagi yang mendapat nilai dibawah batas minimal masih tetap dianggap lulus, namun ada keterangan Lulus dengan nilai di bawah batas minimal, itu pun bagi siswa yang rajin dia sekolah dengan perilaku yang baik, namun karena kemampuan pola berfikir yang kurang maka penilaian lulusnya diambil dari akhlak dan kerajinan.

  2. aSs…

    sekarang Qta membicarakan tentang masalah UN,y…klo UN Qta g lulus itu si masalah belakan,y coba deh kalian pikirkan secara logika…
    kamu mau G klo misalnya d antara kalian G lulus UN,y…… tentunya G pengen kan???
    apalagi d tahun 2009 ditingkatkan nilai Ujian nasionalnya 5,5 ,apakah tidak sulit bagi kalian??
    jangan menyalahkan gurU”,kepsek atau temen jK kamu tidak lulus….
    justrU kalian harus berfikir panjang jK kalian maU lulus dan d anggap tidak bOdoh!!
    percuma juga kan kamU dpt peringkat 2 d kelas kamU trs squL 3 tahun dan akhirnya tidak lulus…..

    wasallam…….

  3. aSs…

    sekarang Qta membicarakan tentang masalah UN,y…klo UN Qta g lulus itu si masalah belakan,y coba deh kalian pikirkan secara logika…
    kamu mau G klo misalnya d antara kalian G lulus UN,y…… tentunya G pengen kan???
    apalagi d tahun 2009 ditingkatkan nilai Ujian nasionalnya 5,5 ,apakah tidak sulit bagi kalian??
    jangan menyalahkan gurU”,kepsek atau temen jK kamu tidak lulus….
    justrU kalian harus berfikir panjang jK kalian maU lulus dan d anggap tidak bOdoh!!
    percuma juga kan kamU dpt peringkat 2 d kelas kamU trs squL 3 tahun dan akhirnya tidak lulus…..

  4. Trims semua untuk tanggapannya.
    Buat bung Rahmat, rasanya pandangan kita sama.

    Buat bung Putra Illahi, kasek dan guru memang menghadapi dilema yang luar biasa beratnya, tapi bagi saya kebenaran dan kejujuran harus tetap tegak meskipun langit akan runtuh. Apalagi kalau benar2 runtuh, dengan setia pada kejujuran, kita segera masuk surga kan.

    Buat bung Ergi, susah sih para pakar sudah dari dulu teriak2 juga tidak didengerin pemerintah, pada tdk bisa mendengar.

    Buat bung Joko, sip angkat jempol untuk polisi di BS. Coba kalau daerah lain polisinya juga berani tegas wah kasusnya akan tambah lagi ya.

    Buat bung Chetapank dan Wisnu, ya kalau gurunya curang ya tanda guru itu tdk bener ngajarnya. Sudah pasti itu.

    Buat bung Sahala, oke memang harus dikaji ulang. Biar tidak makin ancur dunia pendidikan kita.

    Buat Galz, salam juga, saya udah mampir di blog anda. Keren pokoknya.

    Buat bung Juthai, benar guru pada takut anak muridnya tdk lulus, sayangnya mereka membantu dengan cara yang salah.

    Buat bung Abi, sip tindak pelakunya biar jera.

    Buat anak sma kls unggulan, anda saja dag dig dug apalagi yang bukan unggulan. Baca artikel baru saya Menggugat Penilaian UN Yang Tidak Transparan.

    Buat Geulist, trims ya, tapi janganlah ngikutin cara berpikir JK. Menciptakan lapangan kerja janganlah pakai UN, kasihan anak-anak muda kita yang jadi kurban.

    Buat Bodrox, berbahagialah yang masih punya rasa malu. Tapi banyak dari kita urat malunya sudah keras dan kaku, terutama para petinggi kita.

    Buat bung Rois, betul sekali semua pihak harus introspeksi atas kebijakan UN ini. Tapi sayang denger2 tahun depan standar kelulusan akan naik lagi …nah. Instrospeksinya mana…..

  5. Saya lebih setuju, UN tetap dilaksanakan bahkan untuk semua mata pelajaran, tapi TIDAK sebagai penentu kelulusan; dan yang berhak menentukan kelulusan siswa adalah tetap Pihak Sekolah.
    Hal ini karena ukuran kelulusan dan kecerdasan baik intelektual, sosial, mau pun religius pasti lebih diketahui oleh guru2nya, dan bukan oleh Ujian yang hanya dilakukan 3 – 5 hari tersebut.

    Nilai UN hanya dipakai sebagai bahan evaluasi dan tolok ukur pemerintah atas standar mutu pendidikan tiap tahunnya, per wilayah mau pun secara Nasional.

    Fungsi lain UN bagi pihak sekolah adalah untuk mengukur kinerja guru yang mengajar bidang studi yang bersangkutan, apa perlu dilakukan pelatihan2 dan lain sebagainya.

    Dan kalo ini dilaksanakan saya yakin pasti tidak akan ada kecurangan2 yang membuat miris baik pihak pendidik mau pun masyarakat pada umumnya.

  6. Kalo bisa, sebelum UN, Pejabat2 yg setuju UN itu disuruh ikut Test Ujian Nasional yang soalnya dibuat oleh para guru2 yang meprotes dilakukan UN. Saya pikir pejabat2 itu belum tentu LULUS walau pun diberikan soal SLTP sekali pun apalagi soal2 SLTA.

    Untuk itu, saya setuju, jika UN dimasukkan saja di tong sampah daripada harus mengorbankan kejujuran dan integritas guru yang adalah korban kebijakan pejabat yang sok suci dan pintar tersebut.

  7. aslkum.
    sahabat sekalian,,,,,
    mengapa para kepsek ini rela-rela berkorban demi kelulusan anak muruidnya…..????
    sekarang saya tanya, dan tolong jawab dengan hati nurani sahabat sekalian.
    imbangkah sarana dan prasarana sekolah dengan standar kelulusan kita.?
    tidakkah kalian berfikir bila nanti siswa/i tidak lulus hanya karena ujian nasional.
    tidakkah kita berfikir bagaimana masa depan mereka.?? mari kita renungkan.
    menurut saya wajar bila kepsek ini berusaha untuk mencari kunci jawaban.
    karena, sistem pendidikan kita telah banyak mengalami kemunduran, kemerosotan. dan itu karena apa??? karena kita tidak mau mengakui kelemahan kita. dan mengintrospeksi diri. kita masih saja meniru niru dan takut ketinggalan dengan negara tetangga.
    membesar-besarkan standar kelulusan…..
    sekarang saya tanya kepada shabat semua
    apa dengan adanya kenaikan standar kelulusan akan meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan kita….????
    sekarang yang terbaik adlah perbenah diri kita masing masing.
    apakah kita telah jujur hari ini???
    semoga allah selalu memberikan hidayahnya.
    wasalam.wr.wb

  8. Ujian Nasional 2009 memang banyak menyita perhatian dan waktu, baik dari pihak pemerintah, guru maupun siswa.
    bagi saya sendiri hal ini juga merupakan tantangan besar karena banyak faktor yg menjadi pertimbangan, faktor non teknis juga bukan masalah sepele. sebaiknya pemerintah memperhatikan psikologis siswa, dan bagaimana mengatasi hal tsb.

  9. Bodrox di Bengkulu gak usah malu, tapi harus bangga karena ada aparat yang berani. Kejadian itu saya yakin bukan hanya di Bengkulu saja. Mudah mudahan di tempat lain aparat mencontoh aparat di Bengkulu. Saya sebagai guru prihatin dengan keadaan ini dan ingin pemerintah mengembalikan kelulusan siswa ke sekolah, baik ada UN maupun tidak

  10. emang sekarang guru selalu dipertanyakan aktifitasnya dikelas…. dikatakan tidak bener dalam mengajar… saya kira salah besar… siswa2 mingikuti UN dihadapkan 2 hal. Faktor Edukatif dan fsikologis… diusia yang masih muda harus mengerjakan soal dengan suasana tekanan. ini membuat siswa sulit konsentrasi. faktor fsikologis bukan hanya dari diri mereka… Guru, Kepsek, Keluarga, Teman, dan cita-cita yang mengharapkan ia lulus justru menjadi beban berat. apakah ada jaminan anak yang sudah banyak prestasi akademik walaupun tingkat nasional bakal lulus??? 🙂
    nah sekarang tingkat kesulitan soal dari pusat sampai ke pedalaman sama… sedang fasilitas sekolah, faktor ekonomi siswa dll berbeda. kita bukan cerita LASKAR PELANGI yang muridnya 10 Orang.

  11. Standart ujian sangat perlu untuk menapak di era global. tapi jika cuma akal-akalan ya sama juga boong. Gurunya yang curang malah mendidik anak-anaknya menjadi orang yang sama. Hal ini menandakan bahwa gurunya juga mengalami ketakutan psikologis…jangan-jangan karena gak bener ngajarnya……hayo…

  12. Pemerintah perlu mengkaji ulang Pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian Nasional perlu diadakan tapi jangan menjadi standar kelulusan bagi siswa. Karena itu telah mempertaruhkan harkat dan martabat guru terutama nilai – nilai kebenaran.

  13. wah…. memang UN 2009 adalah suatu delima atau buah simalakama…. belajar 3 tahun penentuannya hanya 5 hari kalau anak tidak mencapai nilai yang ditentukan maka mereka tidak lulus dan dihadapkan 2 pilihan : apakah mau ngulang 1 tahun , atau mau ikut Paket C. kalau paket C mungkin memang proyek Nasional… katanya sih… byar 300rb paket C pasti lulus … untuk kebocoran soalUN itu saya rasa udah berlangsung sejak UN dilakukan… … setiap tahun pasti ada aja oknum yang membocorkan soal.. dan kunci jawaban di bagi kepada murid saat menjelang UN say prihatin… dengan keadaan ini… yang jelas hukum harus ditegakkkan …

  14. guru, katanya di gugu dan di tiru..kok malah ngajarin hal-hal yg tidak baik ya?

    salam kenal…senangnya mampir di blognya…main2 juga ya ke blog ku

    • trims semua, untuk tanggapannya. penulis tdk anti UN. UN tetap ada oke2 saja. Tapi penentu kelulusan jangan hasil UN semata-mata, hasil belajar 3 thn tetap harus menjadi pertimbangan. Kelulusan biarlah menjadi wewenang pendidik dan sekolah karena inilah amanat UU. Bravo anak-anak Indonesia. Jangan Biarkan UN menghancurkan masa depan mereka.

  15. yah… biar aja pemerintah menentukan kebijakan… atas pendidikan dinegeri ini. keprihatinan mereka pasti ada alasan.. maklum sering studi banding ke luar negeri …
    semua yang dikatakan JK ada benarnya…
    hanya sayang guru berada ditengah2..😦 lulus banyak “dicurigai” lulus dikit “diledeki”… itulah dilema guru..
    hanya pemerintah terlalu tinggi meminta bayaran dengan nilai rata2 5,25 … menyebabkan guru “ketar ketir” siapa salah juga membuat pepatah “orang tua kedua adalah guru” mana ada ortu yang tega anaknya tdk lulus. +3 tahun tatap buka+ he… he .. dan tidak terbukti anak yang gagal dalam UN merupakan anak yang tidak mampu bersaing dimasa depan. buktinya mereka yang kurang malah meningkat saat berada di Universitas dan masyarakat, mkn dikarnakan perubahan sikap, fasilitas dll. mau bukti?? tanya aja ke pemimpin2 kita…

  16. Yang salah bukan UN nya.Moral sebagian rakyat,pemimpin,guru,kepala sekolah dll yang masih suka cara curang.Yang penting peringkat kotanya meningkat,peringkat provinsinya meningkat.dlsb.Pejabat juga setuju kebohongan statistik angka UN yang menggiurkan. Cobalah keakar masalahnya pendidikan moral yang diamalkan.Susah dilaksanakan. Berilah sanksi yang membuat jera pelaku .Kalau tidak tahun depan masih ada lagi kecurangan.Karena sanksinya cuma pindah (mutasi) misalnya. Saya setuju sekali UN yang jujur.Kalau tidak lulus masak malu. Mahasiswa saja tidak banyak yang lulus bersamaan dalam satu angkatan. SMA, SMP maunya lulus 100 % walaupun curang?? Yah, nasib negeri INdonesia yang luas ini.

  17. yah
    saya sendiri anak sma, kelas unggulan. langganan ikut olimpiade sains, regional dan nasional.

    kalau namanya UN, saya sendiri juga cemas. bagaimana tidak, ini menentukan jalan hidup saya.
    kalo gak lulus berarti nuggu 1 tahun, blum lagi pandangan orang yang jadi jelek ke kita. wajar saja.

    JK memang gegabah mengambil keputusan, sudah terkenal sedari dulu. masak katanya “Lebih baik 1000 murid stress daripada 1 juta murid bodoh!”. kan gak masuk akal!

    kalo dagang emang bisa, “biarin rugi seribu, yang penting untung sepuluh ribu”. Tapi ini manusia, yang untung dengan yang rugi tu gak bisa disamain. gak mungkin lulus 200 orang, gak lulus 100 orang, berarti udah untung 100. wah kalo gini bisa kacau.

    Istilah ilmiahnya “Variabelnya beda”. jadi kita gak bisa menutupi junlah yang gak lulus dengan jumlah yang lulus. siapa coba yang mau dirinya gak lulus yang penting 100 temannya lulus?!

    Buat teman2 yang terdidik.
    Makanya kita pinter2 sekolah, biar bisa ngajarin kakek2 yang memimpin negri ini. Maklum, uda lansia, otaknya udah beku semua.

    JK, kalo baca jangan tersinggung. saya ngomong gini berdasarkan fakta. coba introspeksi diri def Suf, biar gak turun wibawa Anda..

    • oh ya?
      saya malah melihat dari sisi suatu kemaunisaannya. bukankah jika UN tiba tiba ditiadakan malah seperti membubarkan suatu departemen? (jadi ingat Gusdur ya?) bayangkan kalau tahun depan UN ditiadakan. Bimbel akan kekurangan murid, dan berarti tenaga kerja yang diserap oleh Bimbel akan semakin sedikit, selain itu percetakan mas mas foto kopi yang biasa moto kopiiin soal soal UN tahun lalu juga kekurangan pemasukan.

  18. doh jadi malu neh. secara, saya lahir di bengkulu dan SD juga di bengkulu. semoga gak terjadi lagi neh.

  19. Jusuf kalla yang dikenal tidak hanya sebagai wapres namun juga sebagai ekonom. hal ini berkaitan dengan sektor ekonomi di Indonesia
    gak bisa disangakal, Bimbel pun mengambil tenaga kerja yang tidak sedikit.

  20. jangan salahkan siapa2 kalw soal UN bocor,jangan salhkan guru,siswa atau pihak-pihak yang merupakan korban kebijakan pemerintahan yang terlalu IDEALIS dan KAKU serta PROSUDURAL.jangn langsung mengahkimi orang-orang yang ,Bocoran UN.tentunya kita dapat berfikr panjang?
    kalaw sudah begini,mau bilang apalagi…
    sebaiknya kita sama intropeksi diri,terutama pemerintah yang membuat kebijakan UN
    trimaksih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: