Oleh: pak mayar | April 22, 2009

Kartini dan Keindonesiaan Kita Hari Ini

Ada artikel menarik tentang Kartini di Acehlong.com. Sebuah tulisan penuh gugatan namun jujur. Jujur dalam menawarkan sudut pandang berbeda untuk melihat sosok Kartini. Sudut pandang dari Aceh, suatu tempat yang amat jauh dari Jakarta. Jauh tidak saja dalam artian geografis namun juga dalam pengalaman historis.

Kartini memang unik. Pihak Belandalah yang pertama kali memasyurkan namanya. Ia dijadikan simbol keberhasilan politik ethis oleh Abendanon. Kartini dijadikan ikon perempuan terpelajar hasil pendidikan kolonial Belanda. Oleh pemerintah orde lama jaman Sukarno ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional.

Pada masa orde baru jaman Suharto, sosok Kartini direduksi menjadi pahlawan emansipasi wanita. Masa ini juga muncul ritus peringatan hari Kartini, memakai pakaian kebaya dan aneka macam lomba. Tokoh emansipasi ini diperingati dengan cara-cara yang amat tidak menggugah.

Sejarah selalu dapat ditafsir ulang. Demikian halnya dengan sosok Kartini. Apalagi Kartini meninggalkan jejak-jejak pemikiran dalam surat-suratnya. Ia meninggalkan teks yang dapat dibaca dan dimaknai dengan beragam sudut pandang. Kita boleh gunakan konsep, pendekatan atau ideologi apapun. Bebas saja. Ini makin memperkaya pemahaman kita tentang sosok Kartini.

Tetapi membandingkan sosok Kartini dengan Laksamana Malahayati atau Cut Nya Dien adalah sesuatu yang tidak perlu kita lakukan. Ini seperti membandingkan sosok Pangeran Diponegara dengan Soedjatmoko. Mereka punya peran masing-masing dalam konteks sejarah yang berbeda.

Apakah Kartini akan menjadi wanita sekuat Cut Nya Dien jika ia lahir di Aceh pada masa penaklukan Belanda ? Kita bisa berdebat panjang untuk menjawab soal ini. Namun secara ilmiah analisa kontra faktual tidak dapat diterima. Kita tidak dapat melakukan tafsir sejarah di atas fakta-fakta buatan.

Biarlah Kartini kita pahami apa adanya dengan segala kelebihan, kekurangan dan juga keunikannya. Apakah sosoknya kita perlukan untuk membangun keindonesiaan kita hari ini dan hari depan nanti ? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Jika Kartini masih kita butuhkan, maka sosok Kartini akan terus hadir mengisi rasa keindonesiaan kita. Jika tidak ia akan dilupakan dan hanya akan tertinggal di buku-buku sejarah. Tanpa perlu kita campakkan ia akan menghilang, menjadi sebuah nama yang samar-samar.

PR kita sebagai bangsa masih sangat banyak. Keindonesiaan kita pun hingga hari ini masih belum selesai. Mungkin tidak akan pernah selesai. Setiap saat kita bisa menafsirkannya sesuai dengan pengalaman dan juga keyakinan kita. Perbedaan dan benturan kadang tak terhindarkan.

Apalagi Indonesia yang hadir hari-hari terakhir ini adalah Indonesia yang kosong. Indonesia yang tidak membuat kita bangga. Indonesia yang tanpa integritas. Tapi justru itu ia memanggil-manggil kita untuk mengisinya. Karena tanpa melakukan itu … keindonesiaan kita pelan-pelan akan pudar. Dan suatu saat akan tiada.

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: