Oleh: pak mayar | April 23, 2009

Derita Pengawas UN 2009

Tidak mudah menjadi pengawas Ujian Nasional (UN) sekarang. Kadang ia dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan. Bertindak tegas untuk menjaga nilai kejujuran dalam ruang ujian sungguh tidak mudah.

Alih-alih mendapat apresiasi, yang terjadi justru mendapat caci maki. Apalagi bila ada niatan dari peserta ujian atau panitya penyelenggara di tingkat sekolah untuk mencoba berbuat tidak jujur, konflikpun kadang tak terhindarkan. Belum lagi bila orang tua siswa juga tidak terima dan mengancam pengawas jika anaknya tidak lulus ujian. Gawat kan.

Jadi apa yang harus dilakukan? Tutup mata atas segala bentuk kecurangan yang terjadi. Ini juga tidak mudah. Terutama bagi guru yang masih memiliki hati nurani. Pedih. Terhina. Penuh kesia-siaan. Dihina rekan seprofesi.

Mereka dihadirkan sebagai pengawas dengan tugas utama menjaga ujian dapat berlangsung dengan baik. Agar kejujuran dalam mengerjakan soal ujian bisa diwujudkan oleh seluruh peserta ujian. Tapi mereka tidak diinginkan untuk menjalankan tugas itu dengan benar. Lantas untuk apa mereka dijadikan pengawas ujian ? Supaya ujian sah. Karena ujian sudah menggunakan pengawas silang. Itu saja, tidak lebih.

Memang menjadi gampang jika hati nurani sudah tidak ada lagi. Mengawas UN dengan santai dan rileks saja, tanpa beban. Tutup mata hindari persoalan. Agar hidup tenang. Yang penting di hari terakhir ujian terima amplop lantas tanda tangan. Sorenya bisa jalan-jalan mentraktir pacar atau teman.

Namun inikah yang kita inginkan ? Relakan kita membiarkan para pengawas UN yang notabene adalah para guru itu kehilangan hati nuraninya? Apa jadinya negeri ini jika para pendidiknya tidak lagi memiliki hati nurani ? Sebuah negeri tanpa hati nurani….inilah kita sekarang ini dan nanti.

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Zooomr : , , ,
Flickr : , , ,


Responses

  1. Itu masih mending ada pengawas yang dimaki-maki kepala sekolah penyelenggara. Katanya tidak bisa diajak kerjasama. Dimaki-maki didepan siswa lagi. Gawat-gawat.

  2. Saya tambahkan satu lagi dilema yang dihadapi pengawas UN. Bila tahun ini guru tersebut mengawas dengan ketat maka tahun depan semua kepala sekolah tidak mau menerima guru tersebut jadi pengawas silang disekolah yang mereka pimpin. Sedihnya nasibmu guru……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: