Oleh: pak mayar | Mei 1, 2009

Hendak Bagikan Kunci Jawaban UN, 3 Guru SMP Ditahan Polisi

Lebong, Bengkulu, 3 guru SMPN 1 Lebong Tengah ditahan polisi karena hendak membagikan kunci jawaban UN pada siswanya.

Kejadian yang kembali mencoreng martabat para pendidik ini terjadi pada hari Kamis 30 April 2009 bermula dari kecurigaan polisi ketika dua orang guru meninggalkan sekolah dengan ijin hendak membeli nasi bungkus. Ketika beberapa waktu kemudian satu orang guru itu kembali ke sekolah dengan gerak-gerik mencurigakan, polisi menanyainya dan terkuaklah rencana busuknya.

Seperti ditulis oleh Harian Rakyat Bengkulu (RB) ibu guru itu mengaku mengambil sisa soal IPA dari salah satu ruang ujian. Kemudian dengan alasan membeli nasi ia bersama dua guru lainnya mengerjakan soal ujian IPA di rumah salah satu guru. Kunci jawaban UN itu ia tulis di HP dan kopelan kertas. Rencananya ia akan bagikan kunci jawaban pada siswa-siswanya melalui SMS. Namun belum lagi dilakukan telah dicurigai dan ditangkap petugas kepolisian.

Tiga guru itu kini ditahan di Mapolres Lebong. Dari para guru tersebut polisi menyita soal UN IPA SMP, sebuah Handphone dan secarik kertas kopelan kunci jawaban. Kapolres Lebong AKBP Hendri Marpaung menjelaskan ketiganya masih diperiksa untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Menurut kabar RB hari ini (Sabtu 2 Mei 2009) tiga guru tersebut mengaku kepada penyidik di kepolisian, telah memberikan jawaban UN sejak hari pertama pelaksanaan UN.  Ditambahkan juga mereka melakukan itu setelah mereka menafsirkan arahan kepala sekolah yang menghendaki UN di sekolahnya berlangsung sukses.

Kepala sekolah belum dapat dikonfirmasi, namun menurut penyidik akan segera dilakukan pemeriksaan pada kepala sekolah. Rasanya tidak mungkin kecurangan itu terjadi selama 3 hari berturut-turut tanpa sepengetahuan kepala sekolah.

Menurut pengamat pendidikan, sekaligus Ketua PGRI Bengkulu, Prof Dr Sudarwan Danim MPd, saat dimintai tanggapannya oleh RB menilai penyelewengan Unas ini sudah terstrukstur. Dia menduga ada keterlibatan Diknas, kepala sekolah dan guru.

“Ini jelas terjadi akibat ada intervensi terstruktur. Dari pimpinan daerah hingga ke guru. Sehingga kecurangan ini dilakukan. Tetapi ada yang dikerjakan dengan rapi ada yang tidak” ungkapnya.

Bener tidak ya ? Wah membuktikannya sangat susah. Ketiga guru itu sangat mungkin tidak akan menyebut-nyebut keterlibatan atasannya. Apalagi pejabat Diknas. Kecuali kasus 16 kasek, 9 guru dan kabiddikmen di Bengkulu Selatan seminggu silam. Dalam kasus ini dugaan Sudarwan Danim diatas ada benarnya. Karena yang terbukti terlibat lengkap, ada pejabat Diknas, Kepala sekolah dan guru.

Sekali lagi ini menjadi catatan hitam pelaksanaan UN, sekaligus catatan kelam dunia pendidikan kita. Seandainya ini secara masif terjadi dimana-mana, betapa hancurnya moral generasi muda kita. Bagaimana tidak, oleh gurunya ia diajar untuk tidak menghargai kerja keras, disiplin, kebenaran dan kejujuran. Tanpa nilai-nilai itu negeri ini tidaklah punya masa depan. Anda setuju ?

(Artikel ini disarikan kembali dari berita  Harian Rakyat Bengkulu Jumat 1 Mei 2009 dan Sabtu 2 Mei 2008)

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,


Responses

  1. Sebenarnya pelaksanaan itu juga harus dikaji kembali. Kenapa sampai terjadi kecurangan terstruktur. UN telah menjadikan proses pembodohan dan penurunan moral secara terstruktur.
    Jika UN bertujuan untuk memetakan kondisi dan wajah pendidikan di Indonesia, tidak seharusnya menjadi “pengadilan terakhir” seorang siswa lulus atau tidak.
    Sebaiknya dikembalikan kembali penentuan kelulusan kepada guru dengan UN sebagai salah kommponen penilaian. Karena tidak wajar juga jika sebuah sekolah meluluskan siswanya 100% dengan nilai tinggi, tapi nilai UN merah.

    • Oke setuju. Pemerintah pikir dengan UN dapat dongkrak mutu pendidikan Indonesia. Inilah mentalitas suka cari jalan pintas. Kalau mau perbaiki mutu pendidikan ya perbaiki dulu mutu guru, mutu KBM, sarana prasarana sekolah. Tapi untuk itu kan berat sekali dan butuh kerja keras pemerintah. Karena nggak mau kerja keras ya sudah pakai saja jalan pintas …maka dibuatlah UN sebagai penentu kelulusan, meski semua pakar pendidikan negeri ini telah menolaknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: