Oleh: pak mayar | Mei 2, 2009

Koalisi Tanpa Visi dan Hancurnya Demokrasi Kita

Memprihatinkan ! Itulah komentar yang paling pantas kita berikan pada partai-partai politik yang kini sibuk merapat ke sana, merapat ke sini untuk merancang koalisi. Mereka hanya sibuk bicara tentang kekuasaan. Tentang capres, cawapres dan tentu posisi menteri.

Bayangkan, jadi tidaknya koalisi itu dibangun hanyalah didasarkan pada ada tidaknya kesepakatan tentang pembagian kekuasaan. Kasus paling jelas adalah gagalnya Golkar bergabung ke kubu Demokrat. Alasannya cuma satu; Golkar kecewa karena JK yang disodorkan sebagai cawapres ditolak SBY.

Contoh lain adalah PKS. Beberapa waktu lalu pernah mengancam akan keluar dari kubu Demokrat jika SBY memilih JK jadi pendampingnya. Rupa-rupanya PKS ngotot sekali kadernya bisa menjadi cawapres mendampingi SBY. Posisi cawapres seakan jadi harga mati PKS untuk membangun koalisi dengan Demokrat.

Bahkan Amien Rais, cendekiawan dan politikus yang santun itu pun menyeret-nyeret PAN untuk merapat ke SBY dengan alasan yang amat pragmatis. Katanya yang paling baik adalah berkoalisi dengan calon yang memiliki peluang paling besar untuk menang. Sebuah manuver yang agaknya tidak didukung sepenuhnya oleh petinggi PAN.

Lebih memalukan lagi adalah Gerindra. Meski perolehan suaranya pada pemilu legislatif lalu tidak sampai 5% eh masih juga menawar memajukan calon presiden. Wiranto dan Hanura agak lebih baik, sadar diri dan mau menerima posisi cawapres mendampingi JK dari Golkar.

Inilah kualitas para politisi kita. Baru pintar bicara tentang bagi-bagi kekuasaan. Tindakan politik mereka lebih banyak dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan pragmatis, kepentingan jangka pendek serta kepentingan pribadi dan kelompoknya. Kepentingan bangsa yang lebih luas hanyalah pemanis mulut untuk konsumsi media dalam konfrensi pers.

Memang dalam konfrensi pers beberapa kali kita mendengar statement bahwa mereka bertemu dan berkoalisi demi kepentingan bangsa. Tapi kalimat itu tidak pernah jelas kepentingan bangsa yang seperti apa. Kehidupan politik seperti apa yang hendak mereka bangun nanti. Apa rencana ekonomi yang mereka sepakati untuk membawa negeri ini keluar krisis global. Apakah ada kesepakatan atau komitmen bersama tentang kehidupan berbangsa terkait dengan isue kemajukan dan penegakkan HAM misalnya.

Tidak ada hal tersebut dibahas. Benar-benar koalisi tanpa isi, tanpa visi. Atau jangan-jangan mereka ini memang tidak punya visi yang jauh ke depan bagi bangsa ini. Yang ada hanyalah pertarungan pilpres dan agenda tersembunyi untuk kepentingan pribadi dan golongan. Jika seperti ini sih memang tidak perlu visi. Atau visi nantinya akan dikarang-karang waktu kampanye. Bila perlu serahkan saja pada ahlinya. Ada kan lembaga riset sekaligus merangkap sebagai tim sukses bayaran. Mereka inilah yang merancang bagaimana visi harus dirumuskan. Mudah kan.

Mereka agaknya tidak sadar bahwa setiap saat, ucapan dan tindakannya akan menorehkan jejak dalam tradisi kehidupan politik kita. Kini kita membutuhkan ucapan dan tindakan politik yang mampu mendukung tumbuhnya tradisi demokrasi kita yang baru satu dasawarsa ini bersemi. Ucapan dan tindakan politik yang dewasa, bermartabat dan menjaga kehormatan. Bukan sikap dan tindakan politik yang murahan dan memalukan.

Apa yang sekarang ini mereka praktekkan tidak memberikan sumbangan apapun bagi kehidupan demokrasi kita. Justru mereka telah merusaknya. Hal ini bisa menyebabkan keyakinan terhadap tatanan pemerintahan demokrasi surut Dan ini berbahaya, karena akan memberi peluang bagi tumbuhnya elemen anti demokrasi dari kelompok agama maupun militer untuk tampil ke permukaan. Sesuatu yang tentu tidak kita inginkan.

Tinggallah sekarang kita yang akan menentukan. Di pemilu presiden nanti janganlah mau memilih koalisi yang dibangun tanpa visi. Percuma, negeri ini tidak akan kemana-mana jika dipimpin oleh penguasa yang sibuk dengan tujuan jangka pendek. Sibuk dengan agenda tersembunyi bagi kepentingan dirinya dan kelompoknya.

Jangan mau diperdaya. Gunakan kebebasan anda. Pilihlah capres cawapres yang punya komitmen dalam membangun tradisi demokrasi kita. Bagaimana jika tidak ada calon seperti itu ….. yah terserah anda saja deh.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , , , ,
Zooomr : , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , ,
Technorati : , , , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: