Oleh: pak mayar | Mei 4, 2009

Golkar,Kegagalan Parpol dalam Membangun Tradisi Demokrasi (2)

Bagaimana kita harus memandang dinamika politik di tubuh Golkar usai pemilu legislatif kemarin? Sikap politiknya yang amat pragmatis dan oportunis. Keputusannya yang tidak konsisten dalam mencalonkan capres. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Golkar ?

Banyak orang berpandangan Golkar adalah parpol yang kaya akan pengalaman. Dari sini muncullah harapan bahwa sepatutnya Golkar mampu menampilkan sikap politik yang dewasa. Tidak amatiran. Namun disinilah letak persoalannya. Kita perlu hati-hati menyebut Golkar adalah partai yang kaya akan pengalaman. Ini perlu kita jernihkan.

Golkar memang lahir sejak awal Orde Baru menjelang pemilu 1971. Sejak pemilu 1971 inilah Golkar menjadi parpol yang dominan dalam kehidupan politik Indonesia. Namun siapapun tahu bahwa dominasi Golkar ini diraih dengan cara-cara yang sangat tidak demokratis oleh penguasa Orde Baru waktu itu.

Golkar adalah mesin politik rezim otoriter Orde Baru. Ia adalah alat legitimasi politik pemerintahan Suharto. Dan Suharto mengendalikan Golkar dengan sangat efektif. Tidak ada demokrasi di Indonesia pun tidak ada demokrasi dalam tubuh Golkar.

Jika begitu, kekayaan pengalaman seperti apa yang dimiliki Golkar sepanjang hampir 30 tahun berkuasa pada masa Orde Baru. Sangat banyak pasti, tapi jika mengharap pengalamannya itu terkait dengan sikap dan tindakan politik yang mencerminkan tradisi luhur demokrasi tentulah hal itu sangat minim sekali.

Sejak Reformasi 1998 Golkar menghadapi kehidupan politik yang sama sekali berbeda. Era baru kehidupan demokrasi Indonesia dimulai kembali. Sikap dan tindakan politik yang biasa ia praktekkan pada masa Orde Baru tentu tidak lagi sesuai . Ini saatnya Golkar menata diri membangun tradisi luhur demokrasi, di dalam tubuh Golkar sendiri dan dalam kehidupan politik Indonesia.

Menjelang pemilu pilpres 2004 nilai demokrasi itu seakan bersemi di tubuh Golkar. Untuk memilih capresnya Golkar menyaring kandidatnya melalui pelaksanaan konvensi. Memilih kader terbaik dengan kompetisi terbuka, jujur dan partisipatif. Sebuah tradisi baru yang ditanggapi amat positif oleh banyak kalayak waktu itu.

Entah mengapa hasil konvensi Golkar ini tidak sesuai dengan pilihan di tingkat akar rumput. Justru JK yang mendampingi SBY namun tidak dicalonkan Golkar memperoleh kemenangan. Sesudah JK merebut kekuasaan partai Golkar soal konvensi tegas-tegas ditolaknya. Sebuah kemunduran yang patut kita sesalkan. Dan kini Golkar dan JK menuai buahnya.

Golkar tidak punya sistem yang baik untuk menentukan kadernya sebagai calon pemimpin bangsa. Tanpa sistem yang baik pertentangan antar faksi dalam tubuh Golkar terkait dengan isue capres Golkar menjadi sangat liar dan penuh intrik. Apalagi JK bukanlah sosok yang memiliki kharisma kepemimpinan yang sangat kuat di tubuh Golkar.

Akibatnya kita sudah sama-sama tahu. Golkar kembali kepada sikap politik warisan Orde Baru. Politik pragmatis dan oportunis. Bandul sejarah itu kini kembali mundur ke belakang. Dan Golkar kembali gagal untuk menyumbangkan tradisi politik yang positif bagi kehidupan demokrasi Indonesia.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: