Oleh: pak mayar | Mei 12, 2009

Kejutan SBY: Habis Manis Sepah Dibuang, Habis JK Mega Dilamar

Demokrat mendekati PDIP adalah kejutan besar dalam minggu ini. Tak ada pengamat yang dapat memprediksinya. SBY ternyata politisi yang cerdik. Benarkah ? Atau ini pertanda SBY belum merasa aman dengan koalisinya yang sekarang ?

Pidato sambutan SBY dalam syukuran partai Demokrat, Minggu 10 Mei 2009 mengungkapkan beberapa hal penting. Pertama SBY menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak suka dengan tema kampanye JK dan Golkar pada pemilu legislatif lalu. (saya sudah menulis hal ini di Golkar: Kegagalan Parpol Dalam Membangun Tradisi Demokrasi 1, seminggu yang lalu)

Rupanya tema lebih cepat lebih baik itu demikian menusuk perasaan SBY. Mungkin juga ini menyerang benteng pertahanan SBY yang paling lemah. Akibatnya kita semua sudah tahu. Ketika suara Golkar rontok dan JK datang kembali merengek jabatan cawapres, SBY menolaknya.

Tentu SBY dan Demokrat sadar betul dukungan partai Golkar sesungguhnya amat siginifikan untuk membentuk pemerintahan yang kuat. Tetapi SBY tentu saja tidak mau punya wapres yang mengaku punya kapasitas lebih baik dari dirinya. Bagi SBY presiden is number one.

Betapun jasa Golkar bagi pemerintahan SBY periode ini cukup besar, tapi kesalahan JK tak termaafkan. Apaboleh buat, hubungan baik yang dibangun dengan susah payah selama ini harus berakhir dengan tidak menyenangkan. SBY JK putuslah sudah.

Kini Demokrat mencoba realistis dan menatap ke depan. Jika Golkar sungguh bergabung dengan kubu oposisi bersama PDIP sebagai kekuatan sentralnya ditambah Gerindra dan Hanura, mungkin juga PPP, ini tentu mengkhawatirkan. Memang isue pilpres sekarang ini masih membuat kubu oposisi tercabik-cabik. Tapi kita semua tidak tahu apa yang terjadi nanti, sesudah pilpres putaran pertama, atau sesudah pilpres putaran kedua.

SBY dan Demokrat rupanya tidak mau menunggu. Ibarat sepakbola kini mereka mainkan gaya Inggris, gaya Italia terlalu mengkhawatirkan jika diterapkan. Mereka maju menusuk jantung pertahan kubu oposisi, mereka mendekati PDIP. Sebuah serangan kilat yang mengejutkan. Dan hasilnya kita sudah tahu. Untuk sementara Demokrat mampu menguasai jantung pertahan lawan. Kubu oposisi sedikit melumer. Apakah gol cantik akan tercipta, kita tunggu saja nanti.

Mengapa PDIP ? Apakah SBY lupa betapa pedasnya Mega dan PDIP mengkritik pemerintahannya selama ini. Masih ingat kan, tebar pesona, poco poco, main yoyo, terakhir soal BBM dan sembako. Betapa senewennya SBY dan jubirnya menanggapi serangan Mega yang bertubi-tubi waktu itu.

Kini bagi SBY dan Demokrat semua itu tidaklah terlalu menyakitkan. Itu adalah masa lalu. Apalagi kritik pedas dari lawan politik adalah hal yang lumrah. Yang lebih menyakitkan adalah sikap kurang ajar dari seorang yang mengaku sebagai kawan setia.

Memang benar dalam politik tidak ada kawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Tapi kepentingan siapa ya ? Kelompok, partai, golongan atau kepentingan bangsa. Semoga yang diperjuangkan kini adalah kepentingan bangsa. Kita memang butuh pemerintahan yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Tapi kalau pemerintahnya kuat tapi tidak memperjuangkan kepentingan rakyat gimana? Apalagi kekuatan oposisinya lemah? Wah gawat kan ? Nggak usah khawatir, kan masih ada mahasiswa. Di negeri ini penguasa yang tidak menjalankan amanah rakyat akan menjadi musuh mahasiswa, dan musuh kita bersama bukan ?

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , , , ,
Zooomr : , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , ,
Technorati : , , , , , ,


Responses

  1. Seandainya yang “kawin” PD n PDIP lalu mencalonkan SBY-TK (Taufik Kemas) pastilah kan seru…😀 maka duet ini masih relevan dengan slgan “LANJUTKAN”, dari SBY-JK jadi SBY-TK tetapi sepertinya SBY lebih memilih LANJUTKAN dengan yang ber”BUDI” yaitu Budiono
    Tabik..😀

    • kita tunggu saja mas, nggak tau juga nih siapa yang sesungguhnya mau dilamar SBY. Tapi kalau berBudi lantas PDIP dapat apa ya? Kalau Demokrat PDIP jadian, pasti deh wapresnya bukan Budiono. Puan ? Ya enak juga sih dilihat, tapi miskin pengalaman ya. Siapa ya ? Kalau aku sih nggak usah tanggung2 itu pak Kwik Kian Gie saja dipanggil lagi. Di tengah ekonomi liberal yang kini babak belur rasanya ia tipe yang amat cocok. Ia bukan tipe ekonom yang yakin seratus persen resep Barat itu manjur untuk kita. Anti korupsi ia juga jagonya.

      (Selamat siang Pak Kwik, apakah anda sehat hari ini ?)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: