Oleh: pak mayar | Mei 16, 2009

Budiono: Antara Demokrat dan PKS, Antara Presidensial dan Parlementer

Meski membuat mitra kolaisinya gerah, SBY tetap kukuh memilih Budiono sebagai cawapres. SBY ternyata bukan sosok peragu. Terkesan ia tidak mau ditekan dan disetir oleh partai-partai lainnya. Benarkah begitu ?

Kemenangan Demokrat pada pemilu April lalu agaknya membuat SBY dan Demokrat sangat percaya diri. Di atas kertas memang masuk akal, dengan satu mitra koalisi dari partai papan tengah ia cukup untuk mencalonkan diri. Maka dukungan bulat dari partai-partai Islam yang merapat di kubunya tak ia butuhkan.

Agaknya SBY dan Demokrat sudah berhitung seandainya PKS, PAN dan PPP tak jadi mendukungnya ia masih punya koalisi loyal yaitu PKB dan PBB. Pun jika partai Islam menggulirkan kembali poros tengah waktunya tidak akan cukup lagi. Pendaftaran capres cawapres Sabtu 16 Mei telah berakhir.

Dengan popularitasnya yang amat tinggi SBY dan Demokrat amat yakin mampu memenangi pilpres Juli nanti. Artinya Budiono bukanlah bagian strategi SBY untuk memenangi pilpres. Ini adalah strategi lebih jauh dari itu. SBY sadar sesuai konstitusi ini adalah masa jabatannya yang terakhir. Sebagai partai baru tentu ia belumlah memiliki kader yang siap meneruskan kejayaan partainya lima tahun ke depan. Tantangan Demokrat ke depan sangat berat. Partai ini akan diuji benarkah dukungan masih akan tinggi jika SBY tidak mencalon lagi.

Maka pilihan pada Budiono maknanya amat jelas. Budiono sebagai cawapres non partai tidak punya ambisi politik apapun. Budiono lima tahun ke depan tidak akan menjadi ancaman. Tidak demikian jika SBY memilih cawapres dari mitra koalisinya. Ini ibarat membesarkan anak macan. Apalagi SBY punya pengalaman yang amat menyakitkan dengan JK. Sudah dipercaya, didukung, diberi peran besar….eh malah menusuk dari belakang. Ngatain “lemot” lagi. Kesel kan ?

PKS, PAN dan PPP tentulah amat kecewa. Peluang untuk mendudukkan kadernya sebagai RI 2 telah pupus. Sementara menggalang koalisi baru waktunya tidak cukup lagi. Apalagi mereka juga amat yakin tidak akan mampu mengalahkan popularitas SBY. Apakah mereka akan mundur dari kubu SBY?

Amat dilematis, jika mundur tentu akan muncul image negatif bahwa mereka masuk koalisi Demokrat hanya untuk tujuan kekuasaan belaka. Jika tidak mundur, mereka merasa bahwa Demokrat tidak memperlakukan mitra koalisinya secara pantas. Ini sebuah pertanda buruk. SBY dan Demokrat telah mengambil keputusan strategis tanpa melibatkan mitra koalisinya. Jika ke depan ini juga terjadi, maka tidak ada artinya koalisi dipertahankan.

Inilah kita sekarang, demokrasi kita terjebak di persimpangan. Antara presidensial dan parlementer. SBY kini pakai presidensial, rupa-rupanya PKS dkk lebih menghayati perannya sebagai partai dalam sistem parlementer. Nah tidak ketemu kan. Sebagai bangsa kita baru belajar berdemokrasi, ada banyak PR dan tugas yang harus kita kerjakan. PR yang mendesak ya menyelesaikan ketidakjelasan sistem pemerintahan kita ini.Semoga DPR kita besok mampu memperbaiki tatanan politik kita yang masih acakadut ini.

Bung Eko Patrio, salam, anda siap mengerjakan PR anda ?

Powered by Zoundry Raven

Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: