Oleh: pak mayar | Mei 25, 2009

Memilih Presiden : Hak Politik Warga Negara atau Pengurus Parpol ?

Partai koalisi pendukung SBY tidak solid. Ada friksi di masing-masing internal partai. Fenomena dalam tubuh PAN adalah paling jelas terlihat. Ada pengurus PAN di tim sukses SBY tapi ada juga pengurus PAN di tim sukses JK. Apa yang sesungguhnya terjadi ?

Apakah ini strategi PAN untuk menaruh telur di dua keranjang berbeda ? Rasanya tidak demikian, karena SBY dan JK tidak terlalu bodoh untuk mau diperlakukan seperti itu. Ini adalah problem yang melekat dalam sistem tata kenegaraan kita dan problem partai yang sedang membangun tradisi demokrasi dalam kelembagaan internal parpol.

Sesuai konstitusi sistem pemerintahan kita adalah presidensial. Namun karena jumlah parpol demikian banyak sistem presidensial yang murni tidak dapat kita jalankan. Banyaknya parpol menyebabkan suara pemilih terfragmentasi sehingga mustahil ada satu parpol mampu menguasai mayoritas kursi parlemen. Untuk membentuk pemerintahan yang kuat calon presiden dan partainya harus berkoalisi dengan partai lain.

Pemerintahan koalisi biasanya hanya ada dalam sistem parlementer. Dibentuk sesudah pemilu legislatif dan dipimpin oleh partai yang memiliki jumlah suara terbanyak. Perdana Menteri atau pemimpin pemerintahan seketika muncul dalam proses ini. Tidak ada pemilu untuk memilih Perdana Menteri.

Sistem kita berbeda. Koalisi muncul dalam pemilu presiden. Parpol yang jumlah suaranya kurang dari 25% perolehan suara nasional dapat bergabung dengan parpol lain untuk mengajukan capres cawapres. Tidak ada satupun parpol yang meraup 25% jumlah suara pada pemilu legislatif lalu. Maka Demokrat, Golkar dan PDIP harus berkoalisi dengan parpol lain untuk mengajukan capres cawapresnya.

Koalisi dalam pemilu presiden inilah yang kemudian mengundang persoalan. Secara eksternal koalisi ini tak ubahnya menjadi transaksi politik untuk membagi kekuasaan dalam pemerintahan yang akan dibentuk sesudah pemilu. Secara internal penentuan mitra koalisi ini tak jarang menghasilkan friksi dalam tubuh parpol.

Friksi bisa terjadi secara horisontal diantara faksi-faksi dalam kepengurusan parpol. Bisa juga friksi terjadi secara vertikal manakala keputusan pengurus parpol tidak sejalan dengan aspirasi massa akar rumput. Dan disini persoalan besar terjadi. Ketika pengurus parpol memutuskan berkoalisi maka ia akan menuntut pengurus dan anggota parpolnya untuk mendukung keputusannya. Jika ini dipaksakan secara keras berarti pengurus parpol telah merampas hak politik warga negara dalam memilih presidennya. Hak politik warga negara yang diakui oleh konstitusi.

Bagaimana agar hal diatas tidak terjadi? Keputusan untuk berkoalisi harus diputuskan secara demokratis. Proses yang paling demokratis akan terjadi bila keputusan berkoalisi diserahkan pada seluruh anggota parpol. Artinya parpol harus merancang mekanisme agar proses ini dapat berlangsung dengan baik. Tidak mudah memang, tapi demi demokrasi jalan ini harus ditempuh, apapun caranya.

Jika proses tersebut tidak muncul dan keputusan berkoalisi hanya ditentukan oleh sebagian ellite parpol, maka wajar saja bila kemudian muncul friksi dan perpecahan dalam tubuh partai. Dan inilah yang sekarang terjadi di beberapa parpol. Ada benturan antara loyalitas pada partai dengan hak politik warga negara.

Apakah anda merasakan keputusan parpol anda dalam mendukung salah satu pasangan capres tidak sesuai dengan aspirasi anda ? Jangan takut, anda boleh memilih capres cawapres sesuai dengan aspirasi anda sendiri. Hak politik anda tidak dapat dirampas oleh siapapun.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , , , ,
Zooomr : , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , ,
Technorati : , , , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: