Oleh: pak mayar | Mei 27, 2009

Pemilu Presiden 2009: SBY dan Tim Suksesnya Kehilangan Kendali

Kampanye presiden belum mulai tapi suasana sudah memanas. SBY dan Demokrat agaknya mulai kehilangan kendali. SBY dan Tim suksesnya mulai menyerang para pesaingnya secara keras dan tajam..

Senin 25 Mei lalu, saat menerima Persatuan Tarbiyah Islamiah, SBY secara terbuka mengungkapkan kekesalannya sekaligus menyerang lawan politiknya. Berikut petikan sambutannya yang saya kutip dari harian Kompas 26 Mei 2009.

“Tidak baik saling menghancurkan. Jaga perasaan dan tenggang rasa. Berilah contoh kepada rakyat tentang bagaimana menjaga tatakrama, kesantunan dan etika. Politik tidak berarti boleh menghalalkan segara cara. Politik tidak berarti harus main kasar dengan cara-cara yang tidak berakhlak”

“Banyak yang pandai beretorika, banyak wacana, seolah-olah sangat berpihak kepada rakyat kecil. Belum terbukti. Karena itu tidak perlu kita bersuara sangat lantang menebarkan angin surga kesana kemari seolah-olah yang paling dekat dengan rakyat kecil, yang belum teruji apakah dekat benar dalam 5-10 tahun terakhir ini”.

Tim sukses SBY tak kalah garang. Seperti diberitakan di kompas.com Rizal Mallarangeng secara terbuka menyerang pihak-pihak yang menyudutkan posisi kubunya. Bahkan ia bermaksud menantang Prabowo untuk berdebat tentang konsep ekonomi kerakyatan. Dan sore tadi (Selasa 26 Mei 2009) di TV One ia menyerang Wiranto dan Prabowo dengan mengangkat rekam jejaknya di masa lalu. Wouw……

Apa yang sesungguhnya terjadi dengan SBY dan Tim suksesnya? Mengapa sekarang seperti sedang kebakaran jenggot ? Apakah benar posisinya demikian buruk sehingga perlu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang amat keras pada para pesaingnya?

Sebagai incumbent wajar saja kalau SBY dijadikan sasaran kritik dari para pesaingnya. Kebijakan pemerintahannya selama 5 tahun ini diangkat dan dikritisi habis-habisan. Kegagalan, kekurangan atau kesalahan yang muncul dalam pemerintahannya akan diangkat sebagai tema kampanye pesaingnya.

Itulah resiko sebagai incumbent. Tidak bisa ditolak, karena sebagai incumbent ia juga mendapatkan banyak keuntungan dengan menerapkan kebijakan pemerintahan yang populer pada masa kampanye. Bagi-bagi BLT menjelang pemilu legislatif lalu adalah strategi yang cerdik. Lawan politiknya tentu menyebut ini strategi yang licik. Strategi ini bahkan membuat PDIP salah tingkah. Tentu menjelang pilpres nanti strategi ini akan kembali diulangi.

Agaknya kubu SBY mulai mencemaskan strategi dan iklan politik kubu Mega Prabowo. Deklarasi capres cawapres SBY Budiono yang megah meriah secara frontal diserang oleh kubu Mega Prabowo melalui deklarasi di tempat pembuangan sampah Bantar Gebang.

Beberapa seri iklan politik Indonesian Democracy Watch di televisi secara terang terangan menyerang kegagalan dan kekurangan pemerintahan SBY selama ini. Iklan Lapindo, Situ Gintung dan buruknya transportasi. Iklan tentang kekacauan DPT. Kubu Mega Prabowo agaknya berada dibelakang iklan-iklan politik tersebut.

Kubu SBY sadar bahwa iklan-iklan politik Prabowo cukup efektif untuk mempengaruhi pemilih. Terbukti sebagai partai baru -yang mesin organisasinya belum solid- perolehan suara Gerindra sungguh mengejutkan dalam pemilu legislatif lalu. Dan Prabowo punya cukup dana untuk terus membombardir televisi dengan iklan-iklan politiknya nanti. Iklan yang keras dengan frekuensi pemunculan yang tinggi tentu tidak bisa diangganp enteng lagi.

Apalagi Prabowo cukup tangkas berbicara tentang konsep ekonomi kerakyatan yang agaknya punya nilai jual tinggi dalam pilpres kali ini. Di satu sisi lain kubu SBY masih sibuk disudutkan dengan tudingan penganut ekonomi neoliberal yang dialamatkan pada cawapres Budiono.

Kesimpulannya kubu SBY memang sedang terdesak. Bagi SBY dan Tim suksesnya figur Prabowo adalah ancaman. Ia bisa menjadi faktor kunci yang dapat menggagalkan kemenangan SBY. Meski popularitas SBY hingga hari ini tetap yang paling tinggi, tapi kelihatannya rasa percaya diri kubu SBY telah menurun. Maka tidak ada pilihan lain, selain menyerang balik secara tajam, keras dan spontan.

Meski saya tidak terlalu antusias dengan ketiganya, tapi tingkah polah dan adu strategi ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden ini menarik untuk diamati. Kita berharap pertarungan akan makin keras dan makin cerdas.

Jejak rekam dipersoalkan boleh saja. Asal tidak marah jika diserang balik. (Kita semua tahu apa yang mereka lakukan jaman pak Harto dulu) Adu iklan politik silakan saja. Ramai-ramai turba oke juga. Adu program lebih baik lagi. Debat capres cawapres nanti ada waktunya. Dan pada saatnya nanti biarlah rakyat yang kemudian menentukan.

Semua pihak wajib menjaga emosi, jangan kehilangan kendali. Mari kita jadikan pemilu presiden kali ini sebagai sarana pendidikan politik warga negara. Siapa yang menjadi presiden nanti tidaklah penting. Yang paling penting adalah bagaimana semua proses ini mampu melahirkan warga negara yang mampu menggunakan hak pilihnya secara cerdas dan rasional. Jika ini terjadi yang menjadi pemenang adalah rakyat. Inilah kemenangan kita bersama.

Hidup rakyat ! Hidup rakyat !

Eeh ngomong-ngomong manipulasi DPT itu cuma isyu atau beneran sih ? Ironis kan, kalau rakyat sudah cerdas menggunakan hak pilihnya ……eeh tiba-tiba kejadian lagi sekian puluh juta orang tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Gawat…gawat….(panitia angket manipulasi DPT, cepetan dong kerjanya….kita penasaran nih. Sebelum pencontrengan sudah keluar hasilnya ya …please !!!)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,


Responses

  1. spt episode wayang resi bisma (gus dur) tewas dibunuh srikandi (bu mega) selanjutnya tewas di telikung aswatama (SBY) akhirnya krn kesombongannya aswatama tewas oleh parikesit . siapakah parikesit ? ya masih keturunan Pandu yang jelas bukan dari Kurawa

    • O begitu ya. Kmarin SBY mengaku dirinya sebagai ksatria. Tapi ksatria yang mana? Eh pak Hadi menyebut Aswatama. Kalau nggak salah anaknya begawan Durna ya, yang ibunya seekor kuda. Pantesan suka mengeluh, suka merasa dizalimi, merasa dikeroyok.
      Parikesit itu siapa ya ? Rasanya nggak ada deh yang cocok dengan Parikesit. Apa Parikesit baru muncul tahun 2014, pak Hadi ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: