Oleh: pak mayar | Mei 29, 2009

Negative Campaign : Enak Disaksikan dan Perlu

Debat antar Tim Sukses makin panas. Hari ini giliran Fuad Bawazier, Ruhut Sitompul dan Permadi saling serang di forum terbuka. Dosa-dosa masa lalu dijadikan bahan untuk mendiskreditkan lawan. Dosa-dosa Prabowo, Wiranto dan SBY diangkat kembali. Bahkan anggota tim sukses pun diserang track recordnya.

Inilah fase baru dalam kehidupan politik Indonesia. Sesuatu yang dulu dianggap tabu kini dilakukan. Apakah ini perlu ? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan budaya kita ?

Menjadi pemimpin suatu negara memang tidak mudah. Satu orang harus bisa mengarahkan dan menggerakkan seluruh komponen bangsa menuju kepada kemajuan. Jika pemimpin bertindak tidak benar atau kebijakannya gagal maka yang menjadi korban adalah seluruh warga negara.

Setidaknya ada 3 syarat utama untuk bisa menjadi pemimpin. Punya visi, kompetensi dan kualitas pribadi yang baik. Tanpa ketiganya ia tidak akan mampu menggerakkan seluruh komponen bangsa menuju kemajuan. Visi dan kompetensi capres cawapres bisa diuji melalui debat publik Sedangkan kualitas pribadi tidak dapat diuji dalam depat terbuka, karena setiap calon tentu akan menampilkan segala sesuatu yang baik yang ada dalam dirinya.

Negative campaign adalah cara ampuh untuk menilai kualitas pribadi calon pemimpin. Memang benar tidak ada manusia yang sempurna dan tidak pernah berbuat salah Tetapi seorang pemimpin tidak boleh memiliki kekurangan atau kesalahan yang akan menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa menggerakkan orang banyak menuju pada kemajuan, pada kebaikan.

Pemimpin yang korup pasti tidak dapat memberantas korupsi. Pemimpin yang terlibat pelanggaran HAM tentu tidak mampu memulihkan rasa keadilan masyarakat. Pemimpin yang perilakunya tidak benar tentu tidak dapat menjadi teladan. Untuk itulah kita perlu pemimpin yang benar-benar bersih dari segala dosa-dosa politik. Jadi negative campaign ini sangat perlu untuk kita kembangkan.

Problem kita memang para calon pemimpin kita sekarang merupakan bagian masa lalu kita yang kelam. Bagian dari pemerintahan Orde Baru pak Harto yang otoriter dan represif. Tiga mantan jendral yang kini ada di bursa pencalonan semuanya pernah menjadi bagian kekuasaan Orde Baru. Semuanya pernah dijadikan sebagai alat represif untuk menindas kebebasan dan demokrasi. Untuk menindas rakyat.

Calon dari sipil juga tidak luput dari kesalahan. Apalagi mereka yang berasal dari partai Golkar, partai politik penguasa Orde Baru. Dulu mereka mesin politik yang digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan yang korup dan menindas. Besar atau kecil mereka punya andil atas segala kejahatan pemerintahan Orde Baru.

Inilah kita sekarang. Reformasi sudah berjalan sebelas tahun, tapi sisa-sisa rezim otoriter Orde Baru masih juga menjadi bagian dari ellite politik kita. Bahkan menjadi bagian yang menentukan nasib dan perjalanan bangsa kita. Reformasi sesungguhnya telah mati muda, karena euforia kebebasan dan demokrasi justru memberi keuntungan bagi para ellite lama kita yang dulu tidak mendukung reformasi. Ironis.

Lantas apakah negative campaign sesuai dengan budaya kita ? Sangat sesuai, karena budaya kita mengajarkan seorang pemimpin harus punya keutamaan. Memang dalam pergaulan sosial tidak pantas kita menjelek-jelekkan orang. Tapi konteks kita sekarang adalah kita sedang mencari dan memilih pemimpin. Kita mau pemimpin yang bisa menjadi teladan. Kita mau pemimpin yang tegas, berani mengatakan ini salah dan ini benar.

Yang mengatakan negative campaign tidak sesuai dengan budaya kita adalah pihak-pihak yang ingin mengubur dalam-dalam dosa-dosa politik mereka di masa lalu, agar publik tidak banyak yang tahu. Calon-calon pemimpin yang bersih tidak akan alergi dengan negative campaign.

(Artikel yang sama dimuat di http://rjsulistyo.com)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , , , , , , , , ,
Zooomr : , , , , , , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , , , , , , ,
Technorati : , , , , , , , , , , ,


Responses

  1. CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG

    Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.

    Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.

    Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.

    Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.

    • Intelektual yang mengabdi kekuasaan ternyata bisa membabi buta membela kepentingan tuannya. Saya percaya sebagian besar rakyat negeri ini jauh lebih dewasa dibandingkan para tim sukses. Tidak usah khawatir di akar rumput saling menyerang ini tidak akan terjadi. Kecuali kalau mereka diprovokasi. Maklum di negeri kita ini banyak yang ahli tentang hal tersebut.
      Track record calon pemimpin tetap harus dibuka ramai-ramai, tapi caci maki dan saling serang sebaiknya jangan dilakukan. Kedewasaan itu kuncinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: