Oleh: pak mayar | Juni 2, 2009

Manohara, Hubungan Indonesia Malasyia dan Kebodohan Kita

Manohara, putri cantik itu telah kembali pulang. Meninggalkan istana dan sang pangeran kerajaan Kelantan Malaysia. Kisah sedih yang dialaminya turut memberi warna hubungan dua negara serumpun yang kini tidak pernah mesra.

Entah mengapa dalam waktu yang bersamaan muncul pula kasus Ambalat. Kapal perang Angkatan Laut Diraja Malaysia melanggar batas laut teritorial di blok Ambalat. Sebuah kawasan perbatasan laut yang konon menyimpan cadangan minyak sangat besar. Nasionalisme kita terusik. Sebagai bangsa besar kita merasa dilecehkan.

Kasus Manohara dan Ambalat menambah daftar panjang hubungan muram Indonesia Malaysia. Sipadan dan Ligitan adalah kenangan pahit bagi kita. Beberapa waktu yang lalu kita tidak suka karena Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange dan Kesenian Reog sebagai miliknya. Masalah tapal batas dan isue warga negara Indonesia menjadi pasukan Askar Wataniah sesaat yang lalu juga pernah membuat publik Indonesia geram.

Dan masalah yang hingga kini tak juga pernah selesai adalah derita TKI di Malaysia. Perlakuan Pasukan Rela terhadap para TKI kita entah itu terkait dengan kekerasan fisik, mental ataupun seksual seakan tak pernah berhenti menjadi berita.

Mengapa tidak pernah ada berita baik dalam hubungan Indonesia Malaysia ? Bahkan perkawinan putra mahkota kerajaan Kelantan dengan putri keturunan kerajaan Bugis pun harus berlangsung dengan cara yang tidak terhormat. Putri itu diperlakukan bak barang rampasan. Dan kita tahu perkawinan tersebut berlangsung singkat, berakhir dengan penuh drama.

Apa makna dari semua peristiwa di atas ? Sebagai sebuah bangsa kita bukanlah bangsa yang disegani dan dihormati. Bahkan negara tetangga sendiri yang mengaku saudara serumpun pun tidak memperlakukan kita secara terhormat dan bermartabat. Mengapa demikian ? Apa yang salah dengan negeri kita ini.

Sebagai negara terluas dan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara sudah tentu Indonesia punya peran yang sangat penting. Indonesia dapat menjadi penjaga kestabilan politik di kawasan ini. Sebuah peran yang dengan sangat baik dijalankan pak Harto pada masa kekuasaannya. Sejarah ASEAN adalah contoh betapa negara se kawasan tunduk pada hegemoni politik Indonesia pada waktu itu. Indonesia adalah primus inter pares di Asia Tenggara.

Kini peran itu tidak kita jalankan lagi. Primus inter pares memang bukan jabatan formal, ia adalah sebuah pengakuan bahwa kita sebagai bangsa pantas dijadikan sebagai yang utama dibandingkan yang lain. Kini kita tidak lagi diakui sebagai yang utama dibandingkan yang lain.

Memang wilayah kita tidak berkurang, jumlah penduduk tidak juga mengecil, tetapi prestasi bangsa kita di berbagai bidang telah mengecilkan martabat dan harga diri bangsa kita dihadapan negara-negara tetangga kita. Maka sekarang bukan waktunya bagi kita untuk mengganyang Malaysia. Karena muara segala persoalan ini ada dalam diri kita sendiri.

Sebagai bangsa kita telah gagal mengurus diri kita sendiri. Wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar tidak juga membuat kita menjadi bangsa yang sejahtera.menjadi bangsa yang besar dan kuat. Ini membuktikan bahwa kita bukanlah bangsa yang pintar, melainkan bangsa yang bodoh. Maka mari kita ganyang kebodohan bukan Malasyia.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , , , , ,
Zooomr : , , , , , ,
Del.icio.us : , , , , , ,
Technorati : , , , , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: