Oleh: pak mayar | Juli 27, 2009

Kuda Tuli, Cermin Bangsa Berjiwa Kerdil

Hari ini tepat 13 tahun penyerbuan kantor DPP PDI 27 Juli 1996 (disebut Kuda Tuli atau kasus dua puluh tujuh juli). Suatu peristiwa yang akan dicatat sebagai salah satu lembaran hitam dalam sejarah demokrasi Indonesia. Rezim otoriter Orde Baru secara terang-terangan menggunakan polisi dan tentara untuk membungkam demokrasi. Kekerasan tak terelakkan dan belasan korban jiwa menjadi tumbal.

Kisah penyerbuan itu sudah menjadi rahasia umum. Siapa saja yang terlibat juga sudah banyak diketahui orang. Anehnya hingga hari ini tidak pernah ada pertanggung jawaban secara tuntas tentang kasus ini. Baik secara politis maupun secara hukum kasus ini ditutup rapat-rapat. Belasan nyawa yang melayang dan ratusan orang yang terluka hingga kini tidak pernah mendapatkan keadilan.

Ketika Megawati diangkat presiden menggantikan Gus Dur banyak pihak berharap Kuda Tuli dapat dituntaskan. Tapi semua pihak akhirnya kecewa. Alih-alih mengusut tuntas Kuda Tuli, Mega justru melupakannya. Bahkan ia dengan mudahnya bekerja sama dengan para petinggi milter yang terlibat Kuda Tuli.

Lebih aneh lagi Mega melupakan anak buahnya yang dengan gagah berani mempertahan kantor PDI kala itu. Entah apa yang sesungguhnya terjadi. Hari-hari menjelang penyerbuan ada yang menggelora di kantor DPP PDI. Kebebasan dan demokrasi tumbuh bersemi di mimbar bebas yang hiruk pikuk mengusik rezim otoriter Orde Baru. Mempertahankan kantor itu sama dengan mempertahankan kebebasan dan demokrasi. Tetapi Mega sendiri tidak pernah mengakui hal ini. Para korban Kuda Tuli yang notabene adalah anak buahnya yang setia tidak pernah diakuinya jasanya.

Keadilan memang mahal di negeri ini. Terlebih jika keadilan itu harus menyeret para petinggi militer sebagai pihak yang bersalah. Kebenaran akan ditutup dan keadilan akan dibungkam. Apalagi pihak-pihak yang terlibat memiliki kekuatan politik yang sangat besar sekarang ini. Maka Kuda Tuli akan tetap menjadi catatan sejarah yang samar-samar untuk jangka waktu yang lama.

Di depan kantor DPP PDI yang bersejarah itu …. suatu saat nanti, akan ada prasasti dengan sederet nama yang diberi judul…..27 Juli 1996, Disini Telah Mati Para Pejuang Demokrasi. …………

Hal di atas pasti akan terjadi. Suatu saat nanti jika bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang kerdil. Jika bangsa ini telah sanggup mengakui kesalahan dan mengungkap kebenaran sebagai sebuah kehormatan. Jika bangsa ini telah sepakat mengingkari kebenaran adalah sebuah kenistaan.


Responses

  1. sepertinya artikel yang di copy paste….
    saya tidak tau yang mana yang mengkopy mana yang mempaste…..

  2. itu yang mati langsung di tempat ?( korban peyerbuan 27 Juli 1996) akan menghantui teman2 yang meniggalkan jasanya…. hati2 jangan-jangan rohnya gentayangan mengganggu orang2 yang mengecewakan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: