Oleh: pak mayar | September 15, 2009

Film Bagus, Sineas Jahat dan UU Perfilman Kita

Scooby Doo, sejak kecil saya menyukainya. Film bagus, saya pun senang jika anak-anak saya menonton film ini. Film hantu dengan rumus horror, suspens dan komedi yang imbang. Kisahnya selalu berakhir dengan pola sama: hantu itu buatan orang untuk sebuah tujuan jahat. Sangat rasional.

Saya senang anak-anak saya tertawa sepanjang film ini diputar. Saya juga senang mereka berdebat tentang tokoh mana yang menjadi hantu jadi-jadian. Tentu dengan argument khas mereka. Namun untuk itu mereka harus focus pada petunjuk-petunjuk yang dikumpulkan Scooby dkk dalam menyingkap kasus yang dihadapinya. Sebuah film hantu yang mencerdaskan anak-anak.

Memang sebuah film dibuat untuk suatu tujuan. Film yang bagus muncul dari kegelisahan sineasnya tentang masyarakatnya. Tentang sesuatu yang tidak dapat ia terima. Tentang sesuatu yang ia ingin ubah. Film yang bagus selalu menyodorkan tentang sesuatu yang lebih baik. Hidup yang lebih baik. Sebuah keinginan, sebuah visi sebuah harapan.

Kini dunia perfilman kita sedang hiruk pikuk. Setelah sekian lama diabaikan Negara dan kini tumbuh bermartabat berkat proses kreatif yang mereka hidupi sendiri, tiba-tiba Negara memberi kado istimewa. Sebuah UU Perfilman baru, yang celakanya tidak disambut suka cita para sineas kita.

Para sineas kita tersinggung karena dalam UU ini film dilihat lebih sebagai produk media massa yang dapat merusak tatanan social, mengganggu ketertiban dan mengancam nilai-nilai dalam masyarakat. Ada paradigma kuat yang menempatkan sineas kita seperti penjahat yang dengan filmnya dapat menghancurkan masyarakat. Oleh karenanya dalam UU ini terdapat larangan-larangan untuk mencegah sosok sineas penjahat itu muncul.

Kenapa UU ini nggak nyambung dengan pemikiran para sineas kita ? Sebuah UU itu lahir dari suatu masalah, lahir untuk menjawab suatu kebutuhan, atau lahir untuk suatu visi besar di masa depan. Yang dibutuhkan sineas kita tentu yang terakhir. Tapi DPR kita mampunya hanya melihat yang pertama. Sungguh tidak cerdas, padahal kalau dunia perfilmn kita suporrt sungguh-sungguh ia bisa menjadi sendi budaya bangsa. Bahkan juga bisa menjadi sumber devisa.

Ironis memang, satu sisi pemerintah gembar-gembor untuk mendorong industry kreatif sebagai industry masa depan kita, tapi disisi yang lain tiba-tiba muncul UU yang berpotensi memasung kreatifitas para sineas kita. Inilah kita, sebuah bangsa yang penuh paradoks, gemar teriak-teriak tentang sesuatu yang besar tetapi cara berpikirnya masih kusut.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,


Responses

  1. wahwah… masak sineas aja gak diajak rembug buat UU perfilman yg baru???
    http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/13/02594990/uu.perfilman.baru.siapa.peduli

  2. film yang dinikmati pada masa kecil akan selalu diingat hingga ia dewasa, maka film-film anak-anak memang sangat mempengaruhi saat-saat ia menentukan sebuah pilihan baik itu teman dekat (pacar), tempat belajar, hobi, pekerjaan, rumah dan lain-lain ( ini menurut saya ) jadi dampingi sewaktu anaj menonton lalu buat apresiasi tentang film itu dengan caranya sendiri-sendiri yang akhirnya bermukim untuk mengolah inti, dan makna dalam hidup yang kita hadapi … okeyyy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: