Oleh: pak mayar | September 15, 2009

The Killing Fields 1965

The Killing Fields. Entah sudah berapa kali aku melihat film ini. Sebuah film apik, kisah nyata dua sahabat di tengah kecamuk pergolakan politik yang keras dan berdarah di Kamboja. Setiap tahun aku selalu memutarnya untuk anak-anak kelas tiga, ketika mereka mempelajari sejarah Masalah Kamboja. Di luar jam pelajaran tentu saja, karena durasi film ini lebih dari 1,5 jam.

Meski judulnya menyeramkan film ini tidak mengobral adegan sadis kekejaman rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot, yang bertanggung jawab atas pembantaian massal hampir 2 juta rakyat Kamboja. Toh begitu ada satu adegan kekejian yang ditampilkan secara vulgar di bagian tengah film. Detik-detik ketika tentara Khmer Merah masuk menguasai kota Pnom Penh, tentara Nasionalis Lon Nol yang tertawan diinterogasi dibawah todongan senapan tentara Khmer Merah. Ketika mulut senapan itu tepat di depan kepala seorang tentara berkacamata minus, tiba-tiba …dhhuaaar. Senapan itu menyalak, darah muncrat dari kepala dan tentara itu roboh.

Seketika seluruh isi kelas memekik, siswa perempuan segera menutup muka. Beberapa bahkan berteriak histeris. Sebuah respon yang wajar dan baik. Sebuah pertanda ada sesuatu dalam diri mereka …yang menolak adegan kekejian itu. Sesuatu yang harus terus dirawat agar terus tumbuh dan menguat.

Sesudah adegan tersebut film itu terus mencekam hingga akhir. Tetapi adegan-adegan kekejian yang sadis ditampilkan dengan halus. Ada malam-malam dimana beberapa orang diikat dibawa keluar pemukiman. Suasana gelap, bayangan orang-orang itu pun lenyap. Layar terlihat gelap …hanya terdengar bunyi ..dor ..dor ..dor .. beberapa kali.

Tentu saja adegan yang paling kuat dalam film ini adalah saat sang tokoh, Dith Pran melarikan diri. Dalam pelarian itu ia sampai di sebuah muara sungai yang berawa dan berlumpur. Terperosok ke dalam sebuah lubang tangannya menggapai-nggapai. Tak sengaja ia meraih ..tulang belulang manusia. Ia pun berdiri …dan di depannya terbentang pemandangan yang mengerikan itu. Ratusan mungkin ribuan mayat dan tulang belulang manusia bercampur dengan lumpur di rawa-rawa tersebut.

Dengan tata musik yang baik dan pengambilan gambar yang bagus, adegan ini membuat seluruh isi kelas shocks. Anak-anak memekik ketika Dith Pranh terperosok …kemudian menjerit dan sesudahnya mereka tidak dapat berkata-kata lagi. Visualisasi mayat-mayat dan tulang belulang …korban pembantaian massal itu membuat mereka bungkam. Inilah ladang pembantaian itu. The Killing Fields.

Tak terasa pemutaran film ini seakan menjadi sebuah ritual bagiku. Karena berlangsung begitu bertahun-tahun, dengan anak-anak yang berbeda tentu saja. Namun ada sesuatu yang selalu mengusik hatiku setiap kali memutar film ini. Aku selalu membayangkan ..seandainya saja ada sebuah film bagus yang menggambarkan kekejian serupa yang terjadi di tanah air tahun 1965. Pergolakan politik yang merenggut nyawa 78.000 hingga 1 juta orang. Kekejian yang justru dilakukan oleh kekuatan anti komunis. Sebuah masa paling gelap dalam sejarah Indonesia.

Sebuah film bagus yang tidak memihak akan menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran sejarah generasi yang akan datang. Agar kelak ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku harap akan ada sineas kita yang punya nyali untuk mewujudkannya.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: