Oleh: pak mayar | Oktober 13, 2009

Surat Mengenai Toleransi

Pada abad 17 Eropa tercabik-cabik oleh perang agama. Di bawah William dari Oranye gereja Inggris hanya mengakui kebebasan beragama bagi penganut Anglikan dan Protestan. Gereja lainnya tidak diakui dan peribadatannya dilarang dengan sangat keras. Dalam suasana inilah mimpi tentang sebuah negeri, mimpi tentang kebebasan itu terus meruap di angkasa, mimpi tentang sebuah kehidupan baru, di benua baru; Amerika.

John Locke menulis surat yang mengkritik penggunaan kekerasan terhadap penganut gereja di luar Anglikan dan Protestan. Dan dengan sengit ia juga menggugat peran Negara yang memihak dan membekap toleransi. Berikut beberapa petikan isi suratnya :

Tujuan sebuah masyarakat beragama adalah penyembahan public kepada Allah, guna tercapainya kehidupan abadi. Seluruh tata tertib dengan demikian harus mengarah ke sasaran tersebut dan semua hukum gereja terbatas untuk itu. … Disini tidak boleh digunakan kekerasan, pada kesempatan mana saja, sebab kekerasan menjadi milik pemerintahan sipil.

Tetapi mungkin dapat dipertanyakan dengan cara apakah undang-undang itu harus ditegakkan, kalau mereka tidak memiliki kekuatan pemaksa sama sekali? Saya menjawab undan-undang itu harus ditegakkan dengan cara yang cocok dengan kodrat hal-hal tersebut, sebab pengakuan serta pengamalan lahiriah, kalau tidak muncul dari persetujuan dan keyakinan yang seksama dari pikiran orangnya, sama sekali tidak bermanfaat dan menguntungkan. Senjata-senjata yang digunakan untuk menjaga agar para anggota masyarakat ini tetap berada dalam tugas mereka hanya himbaun, dorongan dan nasehat-nasehat.

Apabila dengan upaya-upaya ini para pelanggarnya tetap tidak dapat diperbaiki dan orang sesat itu tidak bergeming dari keyakinannya, tidak ada sesuatu lain yang dapat dilakukan kecuali ekskomunikasi. Tidak boleh ada satu pribadipun, apanpun, yang boleh menggunakan kekerasan. Ekskomunikasi tidak dapat dan tidak boleh merampas harta benda yang tadinya sah dimiliki oleh orang yang dikucilkan itu.

…..Tetapi boleh jadi orang berkata, ada ribuan cara untuk menjadi kaya, tetapi hanya satu jalan menuju surga. Hal ini memang benar, terutama diucapkan oleh orang-orang fanatik yang berusaha memaksa manusia- manusia ke dalam cara ini atau cara itu. Sebab seandainya ada beberapa cara menuju ke situ, tidak akan ada dalih yang tersisa untuk melakukan pemaksaan.

Tetapi marilah kita izinkan orang-orang fanatik ini, yang menghukum segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera mereka, sehingga dari keadaan-keadaan ini muncul tujuan-tujuan yang berbeda. Apa yang akan kita simpulkan daripadanya ? Hanya ada satu saja yang merupakan jalan sejati menuju kebahagiaan abadi. Tetapi dalam berbagai cara yang diikuti orang-orang ini masih diragukan cara manakah yang satu-satunya itu ? Jadi bukan wewenang atau hak Negara untuk menegakkan hukum, yang akan menemukan jalan menuju ke surga .

Soal-soal kebenaran harus sungguh-sungguh dicari sendiri oleh setiap orang melalui permenungan, belajar, penelitian dan usaha-usaha sendiri untuk mencapai pemahamannya, tidak dapat dipandang sebagai monopoli orang-orang tertentu. ….Baik hak maupun seni memerintah tidak dengan sendirinya membawa serta pengetahuan tertentu akan hal-hal yang lain, apalagi pengetahuan mengenai agama yang sejati. (John Locke, “Surat Mengenai Toleransi”)

Powered by Zoundry Raven

Flickr :
Zooomr :
Del.icio.us :
Technorati :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: