Oleh: pak mayar | Oktober 16, 2009

Korupsi, Tujuan Birokrasi Kita ?

4574-korupsi.jpg

Sebelas tahun reformasi kita tidak mampu menjelaskan arti korupsi. Ini kalimat bung fello citizen, di Logika Bodoh Indonesia. Lugas dan tak dapat dibantah. Meski ada kemajuan, tapi nampaknya pemerintahan yang bersih memang masih menjadi impian.

Apalagi hari-hari terakhir ini, kekuatan anti korupsi seakan hendak dihancurkan, justru oleh lembaga-lembaga yang seharusnya berdiri di barisan paling depan dalam pemberantasan korupsi. Sebuah ironi, sebuah dunia yang jungkir balik. Apa penjelasan dibalik semua ini ?

Ada yang mencoba memahami kisruh di atas sebagai buah perseteruan antar oknum dari dua lembaga. Maka usulan pencopotan jabatan seseorang menjadi solusi yang diusulkan. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Korps kelembagaan begitu kuatnya sehingga secara terang benderang perseteruan itu memang merupakan perseteruan dua lembaga.

Pemegang kekuasaan pemerintahan pun seakan tidak mampu bersikap netral terhadap apa yang terjadi. Ia tidak saja membiarkan kepolisian melakukan tekanan secara tidak proporsional, bahkan ia bersikap sangat responsif dengan mengeluarkan perpu tentang penunjukkan PLT KPK. Alih-alih mengevaluasi kinerja buruk kepolisian ia justru memanfaatkannya.

Sekali lagi apa yang sesungguhnya terjadi ? Mungkin benar kata teather Koma, kita ini adalah republik maling. Atau kita pinjam istilah Hans Dieters Ever tentang kelompok strategis. Negeri ini dibekap oleh kelompok yang berusaha menguasai sumber-sumber pendapatan. Kelompok ini akan terus berusaha melipatgandakan penguasaannya akan sumber-sumber pendapatan.

Militer, birokrasi dan lembaga negara yang lain, serta parpol sesungguhnya bekerja untuk melakukan pengambilalihan sumber-sumber pendapatan bagi kepentingan mereka sendiri. Inilah yang sesungguhnya terjadi. Dan mereka akan melakukan berbagai upaya untuk terus mempertahankan kepentingannya.

Maka sungguh sulit bagi kita bicara tentang aspek legal, formal dan rasionalitas birokrasi dan lembaga negara kita ini. Semuanya sudah dikantongi entah kemana. Tinggallah kita cuma bisa geleng-geleng kepala atas semua yang tengah terjadi. Jika tidak mau demikian, tutup saja mata dan telinga anda, biarkan semua terus membesar, hingga kehancuran dan kelumpuhan itu terjadi dengan sendirinya (parkinson).

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: