Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Julia Robert dan Barat Yang Gelisah

JULIA Roberts, peraih Oscar 2001 ketika memerankan Erin Brokovich, syuting film “Eat, Pray, Love” di Indonesia. Persisnya di Bali. Tidak seheboh Miyabi tentu saja. Tidak ada aksi tolak menolak. Bahkan syuting ini disambut sukacita dunia pariwisata di Bali.

Mengapa ? Ah sebuah pertanyaan bodoh. Meski sama cantiknya Miyabi dan Julia Roberts amat berbeda. Meski sama-sama bintang film keduanya juga berbeda. Meski sama sama pernah mendapatkan perhargaan tertinggi di bidangnya keduanya amat sangat berbeda.

Tidak perlu perbandingan itu diperpanjang lagi. Erin Brokovich dan Eat Pray Love adalah contoh perbedaan itu sendiri. Film yang bagus adalah film yang mampu memuliakan kemanusian manusia. Menontonnya tentu akan memperkaya batin kita. Film Miyabi …ah lupakan saja. Mari kita simak sinopsis film terbaru Julia Roberts ini.

Eat, Pray, Love berangkat dari kisah nyata Elizabeth Gilbert seorang jurnalis perempuan yang resah mencari makna kehidupan.

Memasuki usia tiga puluh tahun Gibert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Selain seorang suami dan sebuah rumah, Gilbert yang ambisius dan terpelajar juga punya karier yang cemerlang.

Namun, bukannya bahagia, dia justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupan. Gilbert merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia.

Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

Dalam petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing.

Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri nan elok ini, Gilbert mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Dari Italia, Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin.

Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu tradisional Bali.

Dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki manapun, akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.

Menarik bukan ? Barat yang menggelora, yang gelisah, yang kosong makna menemukan dirinya, menemukan keseimbangan, menemukan tujuan hidupnya di tempat kita. Belajar dari kearifan kita. Belajar dari kekayaan spiritual kita. Belajar dari kekayaan batin kita.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: