Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Sumpah Pemuda Sebuah Penanda

Hari ini, 81 tahun yang lalu, ada sesuatu yang berbeda di Batavia. Ratusan pemuda berdatangan dari berbagai daerah. Utusan-utusan dari beragam organisasi kepemudaan.

Sebuah undangan, sebuah kongres telah menggerakkan mereka. Undangan itu memang hadir dalam masa yang tepat. Masa dimana sebuah kesadaran baru merebak dimana-mana. Sebuah pertanyaan besar, tengah diperdebatkan di kalangan kaum pergerakan. Mungkinkah mencapai tujuan jika terdapat demikian banyak organisasi pergerakan ?

Inilah masa yang oleh Prof Sartono Kartodirjo disebut dengan istilah fase proliferasi pergerakan nasional. Fase dimana pergerakan nasional yang terpecah dalam berbagai kelompok saling bertentangan satu sama lain. Alih-alih bekerja sama memperjuangkan nasib bangsa, tak jarang mereka saling serang, saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Sejak awal, pergerakan nasional memang telah memiliki benih-benih faksionalisme dan konflik di dalamnya. Sumbernya adalah perbedaan ideologi dan perbedaan strategi politik. Maka kita mengenal pertentangan antara kooperatif dan nonkooperatif. Dan pertentangan yang amat sengit antara nasionalisme Islam dan nasionalisme sekuler.

Kemunculan PNI di tahun 1927 dan kemunduran SI bahkan mempertajam pertentangan tersebut. Sudah tentu disini juga muncul rivalitas, untuk menjadi kekuatan dominan diantara organisasi pergerakan. Adalah Sukarno yang demikian yakin perjuangan akan berhasil bila dapat dibentuk suatu “front sawo matang” melawan “front putihnya” kekuatan kolonial. Dan tidak akan ada front sawo matang tanpa keterlibatan SI di dalamnya.

Sukiman dari SI berhasil menyakinkan garis konservatif SI untuk membangun kerjasama dengan pihak nasionalis sekuler. Kompromi dua partai politik besar ini akhirnya menghasilkan sebuah federasi yang disebut PPPKI, Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia.

Selain PNI dan SI, bergabung dalam federasi ini; Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi dan Kelompok Studi Indonesia. Pembentukan federasi ini adalah sukses luar biasa yang dapat membawa persatuan, yang pada waktu itu dirasakan kurang di kalangan organisasi pergerakan.

Dalam suasana politik seperti inilah Kongres Pemuda II dilangsungkan. Para utusan organisasi pemuda dari berbagai daerah itu dengan cerdas mampu menangkap gerak sejarah. Bahkan melampaui para senior mereka, kongres memutuskan peleburan organisasi kepemudaan yang beragam itu ke dalam perkumpulan “Indonesia Muda”.

Sumpah Pemuda tentulah pencapaian mereka yang paling penting. Sebuah pernyataan sikap, sebuah kristalisasi dari semangat kebangsaan yang tunggal, semangat kebangsaan yang tertinggi. Semangat kebangsaan yang tidak lagi dijerat oleh kotak-kotak masa lalu. Semangat kebangsaan yang melampaui ikatan-ikatan lama, ikatan-ikatan primordial -yang selalu menyeret mereka dalam pertentangan yang melelahkan dan melemahkan.

PPPKI memang akhirnya bubar, karena pertentangan yang secara latent tidak terdamaikan. Tetapi Sumpah Pemuda sepertinya ditakdirkan untuk hidup melampaui zamannya. Hingga hari ini, ia tetap hidup. Setidaknya ia menjadi penanda, bahwa semangat kebangsaan kita yang tertinggi telah ditetapkan di tahun 1928.

Semoga kita tidak lupa.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: