Oleh: pak mayar | Desember 10, 2013

Abad Kreativitas dan Mulok Iqra: Quo Vadis Pendidikan Bengkulu?

Jaman terus berubah dengan sangat cepat, tidak bisa dibantah lagi. Tahapannya mudah kita baca, agriculture age, indrustrial age, information comunication technology age dan kini dunia memasuki creativity age.

Menguasai teknologi saja sekarang ini tidaklah cukup, teknologi adalah sarana untuk menghasilkan produk-produk kreatif yang punya nilai tambah tinggi. Kini negara yang maju adalah negara yang memiliki penguasaan tinggi terhadap teknologi dan mampu memanfaatkannya secara kreatif.

Banyak negara maju sangat sadar dengan hal di atas, mereka merumuskan visi pendidikannya dengan jelas terkait tentang penguasaan teknology, kreativitas dan daya saing negara mereka. Mereka sadar bahwa kemajuan dan kesejahteraan bangsanya akan ditentukan mutu pendidikan yang bisa menjamin tiga hal tersebut.

Bagaimana dengan kita? Nggak ngerti deh pendidikan kita ini mau dibawa ke mana. Kini kita punya K13 alias kurikulum 2013, kurikulum yang katanya berbasis pendekatan sains ini bikin geleng-geleng kepala para ilmuwan sains kita. Absurd begitu kata Lik Wilardjo. Lha kalau ilmuwan sains saja bilang K13 absurd bagaimana dengan para guru di lapangan, pusing mereka.

Eh itu tingkat nasional, lah di tingkat lokal, kebijakan pendidikannya bisa bikin geleng-geleng kepala. Maka muncul kebijakan yang kadang menimbulkan pro kontra sangat luas, pernah dengar kan tentang rancangan perda syarat masuk sekolah yang aneh-aneh, harus bisa membaca Al Quran, pakai test keperawanan.

Tahun ini di Bengkulu heboh tentang Perda mulok Igra. Tentu saja ini untuk siswa beragama Islam, lah yang non muslim ya tidak dilayani oleh perda ini. Diskriminatif? Sudah pasti. Beberapa akademisi dari perguruan tinggi angkat bicara mengkritik perda ini sebagai sesuatu yang tak perlu, Dewan pendidikan pun mengklarifikasi tak banyak dilibatkan.

Nah, hebohnya lagi muncul dugaan ada penyimpangan pengadaan buku Iqra yang menyangkut anggaran pemda milyaran rupiah, ada dugaan anggota dewan terlibat.

Haduh jadi prihatin. Kenapa kebijakan pendidikan kadang dibuat senyap-senyap. Jadi ngiri dengan negeri-negeri yang sudah maju, tiap bikin kebijakan pendidikan caranya keren banget. Mau contoh? Misalnya Alberta, salah satu negara bagian Canada, kalau kita selevel provinsilah.

Pertama mereka bikin steering committee, diambil dari pakar pendidikan di universitas setempat serta pakar dan pejabat kementrian pendidikan. Komite ini buat riset buat kajian tentang masalah masa kini dan tantangan  dunia pendidikan masa depan secara komprehensif, dari situ buat draft tentang visi pendidikan dan prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk mengembangkan pendidikan untuk menjawab masalah dan tantangan yang ada.

Nah langkah berikut draft tersebut diserahkan pada publik untuk dikritisi. Komite bikin instrumen untuk diisi oleh kelompok-kelompok masyarakat, orang tua bahkan siswa pun dilibatkan untuk mengisi instrumen tersebut.

Hasilnya kemudian dikaji secara ilmiah, bagaimana pendapat masyarakat terhadat isi draft tersebut disimpulkan, bahkan diterbitkan secara terbuka. Nah sudah begitu barulah draft itu dibawa oleh kemenrian pendidikan ditindaklajuti  untuk keperluan legislasi di parlemen setempat.

Hebat kan? Coba buka deh provinsi Alberta eh negara bagian ini kini punya Visi Pendidikan yang hebat yang mereka beri nama Inspiring Education, Alberta Vision for Education.

Membayangkan itu terjadi di Bengkulu. Bisakah?


Responses

  1. Membaca Quran itu penting, jadi pinter saja belum cukup. Para koruptor itu pinter-pinter tapi akhlaknya pada bejat. Saya setuju mulok ini. Bagaimana akhlak mau bagus kalau baca Quran saja tidak bisa.

    • Bisa membaca Quran itu penting, setuju bung, tapi kenapa harus di sekolah. Ada masalah dengan TPA? Ada masalah dengan ortu? Ada masalah dengan guru ngaji di masjid-masjid? Kalau ada masalah ya ayo kita perbaiki.
      Jangan semua persoalan harus sekolah yang menyelesaikan.

  2. kenapa dulu kita punya Hatta, Sjahrir, Agus Salim yg pemikirannya sangat maju namun agama tak juga ditinggalkan, jawabannya ada dalam biografi mereka, pagi mereka sekolah di sekolah Belanda, sorenya mengaji di surau

    sekolah untuk menguasai ilmu pengetahuan, agama ya dipelajari di rumah dan di masjid dan hasilnya mereka jadi orang hebat

  3. kalau begini ceritanya Bengkulu tidak bakalan kemana-mana, paling cuman jadi petani karet dan sawit saja, giliran harga sawit sama karet rontok, ekonomi Bengkulu lumpuh

  4. Jangan jauh-jauh contohnya mas, tidak nyampai mikirnya. Tuh contoh saja yang dibikin Jokowi di Solo, dia bikin Solo Tekno Park, program yang jelas dan bener2 punya visi utk tingkatkan mutu SDM anak-anak muda Solo.

    • setuju sama sandra, duit sampai belasan milyar kalau dibikin Bengkulu Tekno Park bagus juga, biar anak muda Bengkulu nggak ketinggalan dengan anak muda kota lain.
      Ayo pak gub, pak wakot, jangan mau kalah sama Jokowi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: