Oleh: pak mayar | Desember 12, 2013

Hasil PISA 2012 dan Kurikulum 2013?

Sudah baca kan hasil PISA 2012, Indonesia di urutan 64 dari 65 peserta. Test internasional yang mengukur kemampuan siswa antar negara dalam kemampuan membaca, matematika dan sains kini sedang rame dibicarakan.

Hasil PISA ini kemudian dihubungkan dengan K13 alias Kurikulum 2013. Nah yang anti K13 bilang K13 bakalan bikin pembelajaran kita makin nggak jelas alias ke depan pasti peringkat PISAnya bakalan makin anjlok. (juru kunci donk)

Nah, pak mendikbud lain lagi bicaranya, dia haqul yakin K13-lah jawaban agar kita tak terpuruk lagi dalam test PISA ke depan.

Harap maklum, jangan pada bingung ya, jaman sekarang mah sudah biasa, fakta bisa sama namun karena cara pandang berbeda bisa saja membacanya beda, apalagi juga ditambah kepentingannya berbeda.

Setuju yang mana? Terserah anda deh, sambil kita tunggu saja nanti hasil test PISA 2015, makin buruk atau makin jelek. Hehehehe payah nih, masak K13 mau digantung di PISA saja.

Ini artikelnya, silakan baca!

Indonesia Paling Bahagia (Doni Koesoema A)

ADA berita gembira dari hasil PISA 2012. Siswa Indonesia menempati peringkat kesatu dalam kriteria merasa paling bahagia berada di sekolah dan mampu bersahabat. Apa yang bisa kita petik dari berita gembira ini?
Di balik berita gembira ini, ada satu fakta kontras. Meskipun paling bahagia, dan paling bisa bersahabat, siswa Indonesia ternyata tidak banyak belajar di sekolah. Indonesia tetap saja menduduki peringkat ke-2 dari bawah di antara 65 peserta Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengikuti penilaian internasional di bidang Matematika, membaca, dan sains. Indonesia berada di bawah Qatar dan di atas Peru.

Kontras kedua adalah kenyataan bahwa tetangga dekat kita, Singapura, berada di peringkat ke-2 terbaik! Berkebalikan dengan Indonesia: di dua terbawah. Singapura adalah satu-satunya keajaiban di PISA 2012 karena perubahan kualitas pendidikan dari tahun ke tahun paling tinggi, yaitu 3,3 poin, sedangkan Indonesia -1,9.

Kontras ketiga adalah sebuah ironi bahwa pemerintah kita, demi meningkatkan kualitas pendidikan, berusaha mencontoh yang terjadi di Finlandia. Finlandia sudah bukan lagi merupakan keajaiban! Ia terjungkal di posisi ke-12. Posisi lima besar, selain Singapura, justru diisi prestasi dari “Negeri Tirai Bambu”, China, yaitu China, Hongkong, Taiwan, dan Makau, serta Korea. Keajaiban tersebut ada di Singapura, Korea, dan “Negeri Tirai Bambu”!

Faktor Matematika
Penyelenggara PISA 2012 secara umum menyimpulkan bahwa prestasi siswa di bidang Matematika sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan bangsa, baik itu dalam peningkatan kualitas pendidikan maupun dalam partisipasi politik. Meningkatnya kemampuan Matematika seiring dengan bertumbuhnya rasa percaya diri, rasa kepemilikan akan masa depan sebagai pelaku perubahan. Faktor Matematika menjadi prediktor perubahan sosial dan ekonomi bangsa.

Kenyataan bahwa siswa Indonesia merasa paling bahagia, juga paling mudah bersahabat, tetapi tetap terpuruk prestasi akademisnya menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita telah gagal melahirkan individu pembelajar. Semangat Kurikulum 2013, yang diterapkan tanpa memperhatikan beragam prasyarat, seperti kemampuan guru, dukungan sarana dan prasarana, sistem kebijakan evaluasi pendidikan yang konsisten, serta sistem perbukuan yang demokratis dan transparan, hanya akan membuat guru dan siswa bersenang-senang di sekolah. Namun, siswa tak belajar!

Siswa Indonesia yang menjadi peserta PISA 2012 adalah produk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dari sisi ini, KTSP sudah berhasil membuat siswa merasa senang berada di sekolah. Bahkan, kemampuan sosial anak-anak Indonesia dalam menjalin persahabatan paling tinggi di antara siswa peserta PISA. Meskipun baik, KTSP telah gagal melahirkan siswa sebagai pembelajar yang bernalar.

Sekarang datang Kurikulum 2013 yang berpretensi melengkapi yang kurang dalam KTSP. Apakah Kurikulum 2013 dapat mendongkrak prestasi Indonesia di PISA?

Jawabannya: Tidak! Mengapa? Selain penerapannya dipaksakan, Kurikulum 2013 tidak matang, di sana-sini masih banyak kekurangan dan kekacauan. Kelemahan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan pada persoalan visi dan implementasi visi dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran di sekolah.

Sudah banyak yang mengkritik Kurikulum 2013, terutama terkait dengan gagasan kompetensi, baik itu Kompetensi Inti ataupun Kompetensi Dasar. Kompetensi dalam Kurikulum 2013 banyak mengandung unsur ketidakmasukakalan yang sulit dievaluasi dan dinilai.

Spiritualisme dangkal
Bahkan, kecenderungan seluruh kompetensi diarahkan pada bentuk-bentuk kerohanian dan keagamaan, membuat kita jatuh dalam spiritualisme pendidikan yang dangkal. Kurikulum Jalan ke Surga, itulah seloroh yang selama ini muncul tentang Kurikulum 2013.

China adalah negara komunis. Singapura adalah negara sekuler yang plural. Mereka semua menjadi jawara dalam PISA karena mengutamakan proses belajar! Bukan berdoa!

Kurikulum 2013 yang gelojoh kerohanian akan mematikan fungsi kritis dan logika nalar individu. Matinya daya kritis akan semakin mudah menyemai benih kekerasan atas nama agama dan perbedaan melalui proses indoktrinasi terstruktur. Gejala ini sudah kita lihat terjadi di masyarakat. Masyarakat kita gemar menghunus pedang dan menghancurkan mereka yang berbeda atas nama agama!

Berpikir kritis muncul apabila logika bertumbuh. Logika bertumbuh apabila siswa diajak berpikir lurus dan benar melalui ketaatan pada alur pikir. Dalam pembelajaran Matematika, yang paling penting adalah keteguhan sikap. Siswa diajak mempertahankan
pendapatnya apabila ia yakin pendapatnya benar, dan berani mengubahnya apabila keliru.

Inilah nilai integritas yang diperoleh dari belajar Matematika. Pembelajaran Matematika yang benar menghasilkan individu yang kritis, terbuka, dan berintegritas. Tak mengherankan apabila panitia PISA menyimpulkan: penguasaan pengetahuan Matematika menjadi dasar meningkatnya peringkat pendidikan di beberapa negara.

Bangsa ini sudah kehilangan logika nalar, cenderung berpikir separatis, dan eksklusif. Cara berpikir kebangsaan yang terbuka dan kritis semakin jauh dari lingkungan pendidikan dan pembelajaran kita. Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi sekadar pita yang tertempel di suvenir Garuda. Kita sibuk mengurusi tampilan luar, mengatur model baju, seragam sekolah, dan lain-lain, tetapi lupa bahwa pengalaman belajarlah yang paling penting harus terjadi di sekolah.

Menjadi juara sebagai siswa paling bahagia berada di sekolah dan bersahabat mestinya tak membuat kita senang. Kita harus lihat bahwa tetap bertenggernya Indonesia di barisan paling belakang di antara para siswa lain menunjukkan betapa pengalaman belajar itu tidak terjadi di sekolah-sekolah kita. Spiritualisme pendidikan yang dangkal akan menjadi beban bagi bangsa ini untuk naik kelas dalam peringkat PISA.

Doni Koesoema A, Pemerhati (Kompas, Rabu 11 Des 2013)

 

Mendikbud: Survei PISA Makin Memperkuat Pentingnya Kurikulum 2013

Saya belum lihat (survei PISA). Ndak apa-apa. Jadi kan gini, dulu siapa pernah ikut sosialisasi kurikulum? Apa alasan kenapa kita lakukan perbaikan atau perombakan kurikulum baru, salah satunya kan (survei) PISA itu.

Jadi kalau kita bandingkan kuriklum yang ada di PISA yang diujikan dengan kurikulum kita sekarang, sekarang itu kan kelas 1 dan 2,3 masih KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), karena kurikulum 2013 masih 6-ribuan (sekolah) jadi masih kecil (sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum 2013, red) itu.

Sehingga kalau ditanya jadi rendah ya wajar-wajar aja orang belum diajarkan. Tetapi kita bukan cari excuse (pembenaran) namun perbaikan tetap kita lakukan terus menerus, intinya di situ. Jadi apapun yang dilakukan PISA, semakin memperkuat kenapa Kurikulum 2013 penting.

Survei PISA-OECD 2012, siswa Indonesia paling bahagia di sekolah, peringkat 1 dari 65 negara. Peringkat siswa bahagia di sekolah berbanding terbalik dengan kemampuan matematika siswa. Ada 3 negara kemampuan matematika terendah tapi peringkat atas paling bahagia di sekolah: RI, Peru dan Kolombia. Bagaimana tanggapan Bapak?

Kita matematika naik 26 poin walaupun peringkatnya turun. Tetapi dari sisi poin numeric-nya lain. Artinya negara lain naiknya lebih cepat. Kalau pakai dasar rangking. Rangking aja tidak cukup tapi harus ada numeric-nya. Saya bacanya itu paling memperkuat pentingnya Kurikulum 2013. Karena pendekatan beda, insya allah lebih bagus. Termasuk pendekatan ke matematika. (Detik.com, Kamis 12 Des 2013)


Responses

  1. kompetensi inti kurikulum 2013 top, pasti bikin anak Indonesia besok jujur baik hati anti korupsi, begitu kan pak Nuh

  2. yah pak mendikbud pasti bilang kayak gitu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: