Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Julia Robert dan Barat Yang Gelisah

JULIA Roberts, peraih Oscar 2001 ketika memerankan Erin Brokovich, syuting film “Eat, Pray, Love” di Indonesia. Persisnya di Bali. Tidak seheboh Miyabi tentu saja. Tidak ada aksi tolak menolak. Bahkan syuting ini disambut sukacita dunia pariwisata di Bali.

Mengapa ? Ah sebuah pertanyaan bodoh. Meski sama cantiknya Miyabi dan Julia Roberts amat berbeda. Meski sama-sama bintang film keduanya juga berbeda. Meski sama sama pernah mendapatkan perhargaan tertinggi di bidangnya keduanya amat sangat berbeda.

Tidak perlu perbandingan itu diperpanjang lagi. Erin Brokovich dan Eat Pray Love adalah contoh perbedaan itu sendiri. Film yang bagus adalah film yang mampu memuliakan kemanusian manusia. Menontonnya tentu akan memperkaya batin kita. Film Miyabi …ah lupakan saja. Mari kita simak sinopsis film terbaru Julia Roberts ini.

Eat, Pray, Love berangkat dari kisah nyata Elizabeth Gilbert seorang jurnalis perempuan yang resah mencari makna kehidupan.

Memasuki usia tiga puluh tahun Gibert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Selain seorang suami dan sebuah rumah, Gilbert yang ambisius dan terpelajar juga punya karier yang cemerlang.

Namun, bukannya bahagia, dia justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupan. Gilbert merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia.

Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

Dalam petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing.

Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri nan elok ini, Gilbert mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Dari Italia, Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin.

Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu tradisional Bali.

Dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki manapun, akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.

Menarik bukan ? Barat yang menggelora, yang gelisah, yang kosong makna menemukan dirinya, menemukan keseimbangan, menemukan tujuan hidupnya di tempat kita. Belajar dari kearifan kita. Belajar dari kekayaan spiritual kita. Belajar dari kekayaan batin kita.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Iklan
Oleh: pak mayar | Oktober 26, 2009

Ketua MA: 50% Hakim Tidak Independen

Sebuah berita bagus, saya baca dari Kompas Minggu hari ini. Judulnya “Sebanyak 50 persen Hakim Tak Independen”. Judul yang biasa dan tidak aneh.

Keadilan di negeri ini memang carut marut. Banyak pihak menyakini hal tersebut. Terlalu sering berbagai vonis para pengadil itu membentur rasa keadilan masyarakat.

Awalnya judul berita itu saya lirik dengan ogah-ogahan. Tapi betapa terkejut saya ketika pada headline berita disebut bahwa sumber berita tersebut adalah Ketua Mahkamah Agung sendiri, Harifin A Tumpa.

Berikut saya kutipkan lengkap headline tersebut: ….”Ketua MA, Harifin A Tumpa mengakui bahwa 50 persen hakim di seluruh lingkungan pengadilan belum independen, dengan kualitas belum memadai. Dia mengakui terjadi kemerosotan independensi dan kualitas hakim dibanding pada periode awal kemerdekaan.”

Dalam berita tersebut juga disebut jumlah hakim di lingkungan pengadilan secara nasional adalah 6000 orang. Artinya kurang lebih ada 3000 hakim brengsek di Indonesia ini. Betapun ini berita buruk, tapi salut untuk pak Harifin. Keterbukaannya untuk mengakui hal ini sungguh layak kita apresiasi.

Itu berarti ada kejujuran, sesuatu yang amat langka di negeri kita ini. Dibalik kejujuran itu ada keprihatinan dan ada keinginan untuk mewujudkan korps kehakiman yang lebih baik di masa depan.

Sekali lagi salut untuk ketua MA, kita berharap akan mendengar berita yang sama jujurnya dari Kapolri dan Jaksa Agung. Ayo, berapa persen polisi dan jaksa brengsek yang kita punya ?

*apakah ini berarti keadilan di Indonesia baru 50% ?*

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 16, 2009

Korupsi, Tujuan Birokrasi Kita ?

4574-korupsi.jpg

Sebelas tahun reformasi kita tidak mampu menjelaskan arti korupsi. Ini kalimat bung fello citizen, di Logika Bodoh Indonesia. Lugas dan tak dapat dibantah. Meski ada kemajuan, tapi nampaknya pemerintahan yang bersih memang masih menjadi impian.

Apalagi hari-hari terakhir ini, kekuatan anti korupsi seakan hendak dihancurkan, justru oleh lembaga-lembaga yang seharusnya berdiri di barisan paling depan dalam pemberantasan korupsi. Sebuah ironi, sebuah dunia yang jungkir balik. Apa penjelasan dibalik semua ini ?

Ada yang mencoba memahami kisruh di atas sebagai buah perseteruan antar oknum dari dua lembaga. Maka usulan pencopotan jabatan seseorang menjadi solusi yang diusulkan. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Korps kelembagaan begitu kuatnya sehingga secara terang benderang perseteruan itu memang merupakan perseteruan dua lembaga.

Pemegang kekuasaan pemerintahan pun seakan tidak mampu bersikap netral terhadap apa yang terjadi. Ia tidak saja membiarkan kepolisian melakukan tekanan secara tidak proporsional, bahkan ia bersikap sangat responsif dengan mengeluarkan perpu tentang penunjukkan PLT KPK. Alih-alih mengevaluasi kinerja buruk kepolisian ia justru memanfaatkannya.

Sekali lagi apa yang sesungguhnya terjadi ? Mungkin benar kata teather Koma, kita ini adalah republik maling. Atau kita pinjam istilah Hans Dieters Ever tentang kelompok strategis. Negeri ini dibekap oleh kelompok yang berusaha menguasai sumber-sumber pendapatan. Kelompok ini akan terus berusaha melipatgandakan penguasaannya akan sumber-sumber pendapatan.

Militer, birokrasi dan lembaga negara yang lain, serta parpol sesungguhnya bekerja untuk melakukan pengambilalihan sumber-sumber pendapatan bagi kepentingan mereka sendiri. Inilah yang sesungguhnya terjadi. Dan mereka akan melakukan berbagai upaya untuk terus mempertahankan kepentingannya.

Maka sungguh sulit bagi kita bicara tentang aspek legal, formal dan rasionalitas birokrasi dan lembaga negara kita ini. Semuanya sudah dikantongi entah kemana. Tinggallah kita cuma bisa geleng-geleng kepala atas semua yang tengah terjadi. Jika tidak mau demikian, tutup saja mata dan telinga anda, biarkan semua terus membesar, hingga kehancuran dan kelumpuhan itu terjadi dengan sendirinya (parkinson).

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 15, 2009

Kuasi Oposisi PDIP?

kuasi oposisi.jpg

Kemenangan ganda SBY dalam pileg dan pilpres 2009 serta gejolak politik terkini tentang koalisi besar membuat banyak pihak kawatir. Ada gejala terang-terangan untuk membentuk pemerintahan super kuat dengan mengurangi kekuatan control dalam perlemen.

Golkar memang ditakdirkan untuk mengabdi pada kekuatan yang dominan. Maka dengan mudah SBY merangkul Golkar. Dengan PDIP memang agak berbeda. Ada kerugian politis tertentu jika secara bulat-bulat PDIP digabungkan dalam koalisi besar. Aka ada kesan Demokrat tidak peduli dengan upaya membangun tatanan kehidupan politis yang demokratis.

Tetapi membiarkan PDIP secara penuh memainkan peran oposisi tentu tidak diharapkan SBY. Masih jelas dalam ingatan kita betapa SBY harus kehilangan muka karena tidak berani hadir di DPR untuk menanggapi hak interpelasi dalam kasus obligator BLBI dan sanksi PBB terhadap Iran. Bak buah simalakama, tidak hadir artinya menjadi pecundang. Jika hadir harus bersiap menghadapi debat yang panas dan jika argumennya tidak diterima resiko politiknya akan sangat besar. Ini adalah mimpi buruk, SBY tentu tidak ingin mengulangnya kembali.

Maka hubungan intim Demokrat dengan PDIP kini ibarat teman perselingkuhan. Didambakan tapi tidak ingin terang-terangan. Ditutupi tapi baunya tetap kemana-mana . Soal ketua MPR adalah bukti. Dan lihat saat mereka saling berkata-kata di media tentang oposisi PDIP. Bahasanya begitu santun dan saling menjaga perasaan. Mau jadi oposisi kok berkata-kata mesra. Yang dioposisi juga senyum-senyum senang.

Jika hal di atas benar begitu adanya, maka inilah dagelan politik kontemporer kita. Oposisi PDIP adalah oposisi pura-pura. Sebuah kuasi oposisi, sebuah kuasi demokrasi*. Dan sebuah penipuan kepada rakyat tengah dilakukan.

*kuasi demokrasi, demokrasi semu (RA Dahl)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 15, 2009

Pidato Seorang Anggota Parlemen Terpilih

Tuan-tuan menjadi kebahagiaan dan kemuliaan seorang wakil rakyat untuk hidup dalam persatuan yang amat erat, korespondensi yang sangat akrab dan komunikasi yang tak pernah putus dengan para pemilihnya.

Harapan-harapan mereka harus menjadi pertimbangan yang utama baginya, dan pendapat-pendapat mereka seharusnya dijunjung tinggi; dan kegiatan mereka memperoleh perhatian terus menerus. Adalah kewajibannya untuk mengorbankan waktu istirahat, kesenangan dan kepuasannya demi ketenangan, kesenangan dan kepuasaan mereka yang diwakilinya -dan yang lebih penting selalu dan dimana-mana, lebih membela kepentingan mereka daripada kepentingannya sendiri.

Tetapi ia tidak boleh mengorbankan pendiriannya yang lurus, penalarannya yang matang, suara hatinya yang jernih bagi anda, bagi siapapun, atau bagi kelompok masyarakat manapun juga. …Wakil anda mempunyai kewajiban kepada anda untuk memberikan bukan saja kerajinannya, melainkan pertimbangannya pula, dan ia akan berkhianat, bukannya mengabdi kepada anda, kalau ia mengorbankan pertimbangannya demi pendapat anda.

Menyampaikan pendapat merupakan hak setiap orang, pendapat para pemilih merupakan pendapat yang berbobot dan terhormat, yang harus selalu dipertimbangkan sungguh-sungguh oleh seorang anggota parlemen. Tetapi instruksi-instruksi otoritas, mandat-mandat katebelece yang dikeluarkan, yang mengikat anggota parlemen itu secara buta dan secara tersirat harus dipatuhinya, untuk memberikan suara, untuk mendukung argument-argumen yang mungkin bertentangan dengan keyakinan, pendapat maupun suara hatinya yang paling dalam – inilah yang sama sekali tidak dikenal oleh undang-undang negeri ini, sebab itu semua muncul dari kekeliruan mendasar seluruh penafsiran terhadap tatanan serta bunyi konstitusi kita.

Parlemen bukanlah konggres para duta besar dari berbagai kepentingan yang berbeda dan saling bermusuhan, yang harus mempertahankan kepentingannya masing-masing, sebagaimana seorang advokat klien melawan advokat klien lainnya, melainkan parlemen adalah suatu majelis permusyawaratan bangsa, dengan satu kepentingan, yaitu kepentingan semua -bukannya kepentingan-kepentingan setempat, bukan kecurigaan-kecurigaan setempat yang harus menjadi patokannya, melainkan kesejahteraan umum, yang timbul dari penalaran keseluruhan secara umum.

Memang anda memilih seorang anggota parlemen, tetapi begitu anda memilihnya, dia bukan lagi seorang wakil dari suatu daerah pemilihan, melainkan dia seorang anggota parlemen. (Edmund Burke,”Mengenai Pemilihan Anggota Parlemen” seorang filsuf, politikus, anggota parlemen Inggris 1766)

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 13, 2009

Anggota Dewan Yang Tidak Terhormat

Anggota DPR 2009-2014 sudah dilantik. Mungkin baik kalau mereka diingatkan pada daftar dibawah ini. Daftar anggota dewan 2004-2009 yang dikeluarkan dari Senayan. Agar mereka belajar, belajar dan belajar untuk tidak mengikutinya. Untuk tidak menjadi keledai.

Tergoda Uang. Ada 11 anggota DPR yang diberhentikan karena tersandung kasus korupsi, 5 di antaranya berasal dari Golkar. Lima anggota F-PG yang terganjal kasus korupsi itu adalah Anthony Zeidra Abidin, Adiwarsita Adinegoro, Nurdin Halid, Saleh Djasit, dan Hamka Yandhu YR.

Sedangkan 6 lainnya adalah anggota F-PPP M Al Amin Nur Nasution, anggota F-PD Sarjan Taher, dan anggota F-PDIP Dharmono K Lawi, anggota F-PAN Abdul Hadi Jamal, politisi PBR Bulyan Royan dan anggota F-KB Yusuf Amir Faisal.

Tergoda Wanita. Selain korupsi, kasus yang lain yang membuat anggota DPR dipecat adalah skandal seks 2 orang, yakni Yahya Zaini (FPG), Max Moein (FPDIP).

Tergoda Belanja. Kasus lain adalah Ishaq Shaleh diberhentikan partainya lantaran melakukan shopping di Belanda usai kunjungan kerja ke Prancis untuk penyusunan RUU Penghapusan Diskriminasi Etnis dan Ras serta RUU Keuangan Negara. Ishaq berbelanja ke Belanda karena pesawatnya mengalami delay.

Tergoda Dagang. Satu orang direkomendasikan oleh Badan Kehormatan (BK) DPR untuk diganti akibat tersangkut dugaan kasus percaloan pemondokan dan katering haji, yakni Aziddin. Namun hingga saat ini tidak ada proses pengadilan yang menghakimi dirinya.

Tergoda Jadi Anggota Dewan. Kasus yang cukup menghebohkan adalah kasus ijazah palsu yang melibatkan Muhammad Anwar bin Marzuki yang berujung pada diskualifikasi oleh KPU.

Catatan : Masuk kategori Tergoda Bolos, Tergoda Tidur, Tergoda Main Facebook, Tergoda Malas Berpikir periode lalu masih aman-aman. Tapi tidak dianjurkan untuk dilakukan ke depan.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,

Oleh: pak mayar | Oktober 13, 2009

Surat Mengenai Toleransi

Pada abad 17 Eropa tercabik-cabik oleh perang agama. Di bawah William dari Oranye gereja Inggris hanya mengakui kebebasan beragama bagi penganut Anglikan dan Protestan. Gereja lainnya tidak diakui dan peribadatannya dilarang dengan sangat keras. Dalam suasana inilah mimpi tentang sebuah negeri, mimpi tentang kebebasan itu terus meruap di angkasa, mimpi tentang sebuah kehidupan baru, di benua baru; Amerika.

John Locke menulis surat yang mengkritik penggunaan kekerasan terhadap penganut gereja di luar Anglikan dan Protestan. Dan dengan sengit ia juga menggugat peran Negara yang memihak dan membekap toleransi. Berikut beberapa petikan isi suratnya :

Tujuan sebuah masyarakat beragama adalah penyembahan public kepada Allah, guna tercapainya kehidupan abadi. Seluruh tata tertib dengan demikian harus mengarah ke sasaran tersebut dan semua hukum gereja terbatas untuk itu. … Disini tidak boleh digunakan kekerasan, pada kesempatan mana saja, sebab kekerasan menjadi milik pemerintahan sipil.

Tetapi mungkin dapat dipertanyakan dengan cara apakah undang-undang itu harus ditegakkan, kalau mereka tidak memiliki kekuatan pemaksa sama sekali? Saya menjawab undan-undang itu harus ditegakkan dengan cara yang cocok dengan kodrat hal-hal tersebut, sebab pengakuan serta pengamalan lahiriah, kalau tidak muncul dari persetujuan dan keyakinan yang seksama dari pikiran orangnya, sama sekali tidak bermanfaat dan menguntungkan. Senjata-senjata yang digunakan untuk menjaga agar para anggota masyarakat ini tetap berada dalam tugas mereka hanya himbaun, dorongan dan nasehat-nasehat.

Apabila dengan upaya-upaya ini para pelanggarnya tetap tidak dapat diperbaiki dan orang sesat itu tidak bergeming dari keyakinannya, tidak ada sesuatu lain yang dapat dilakukan kecuali ekskomunikasi. Tidak boleh ada satu pribadipun, apanpun, yang boleh menggunakan kekerasan. Ekskomunikasi tidak dapat dan tidak boleh merampas harta benda yang tadinya sah dimiliki oleh orang yang dikucilkan itu.

…..Tetapi boleh jadi orang berkata, ada ribuan cara untuk menjadi kaya, tetapi hanya satu jalan menuju surga. Hal ini memang benar, terutama diucapkan oleh orang-orang fanatik yang berusaha memaksa manusia- manusia ke dalam cara ini atau cara itu. Sebab seandainya ada beberapa cara menuju ke situ, tidak akan ada dalih yang tersisa untuk melakukan pemaksaan.

Tetapi marilah kita izinkan orang-orang fanatik ini, yang menghukum segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera mereka, sehingga dari keadaan-keadaan ini muncul tujuan-tujuan yang berbeda. Apa yang akan kita simpulkan daripadanya ? Hanya ada satu saja yang merupakan jalan sejati menuju kebahagiaan abadi. Tetapi dalam berbagai cara yang diikuti orang-orang ini masih diragukan cara manakah yang satu-satunya itu ? Jadi bukan wewenang atau hak Negara untuk menegakkan hukum, yang akan menemukan jalan menuju ke surga .

Soal-soal kebenaran harus sungguh-sungguh dicari sendiri oleh setiap orang melalui permenungan, belajar, penelitian dan usaha-usaha sendiri untuk mencapai pemahamannya, tidak dapat dipandang sebagai monopoli orang-orang tertentu. ….Baik hak maupun seni memerintah tidak dengan sendirinya membawa serta pengetahuan tertentu akan hal-hal yang lain, apalagi pengetahuan mengenai agama yang sejati. (John Locke, “Surat Mengenai Toleransi”)

Powered by Zoundry Raven

Flickr :
Zooomr :
Del.icio.us :
Technorati :

Oleh: pak mayar | Oktober 13, 2009

Guru Biang Kebobrokan Bangsa ?

Masih ingat tentang “kantin kejujuran”? Sebuah gerakan untuk memberantas korupsi yang diintrodusir pihak luar ke dalam lingkungan sekolah. Seremoni pembukaannya menunjukkan hal itu. Maka datanglah tamu-tamu dari lembaga pembela keadilan. Beberapa memberikan pidato-pidato bombastis. Semuanya yakin dari kantin itu kelak akan muncul generasi anti korupsi di Indonesia. Sesudah seremoni, tamu-tamu itu pulang.

Esok harinya acara itu akan tampil di media cetak local. Semuanya senang. Tamu-tamu itu senyum-senyum bangga. Bagaimana kelanjutannya diserahkan guru dan sekolah. Jika kantin itu gagal, jika kelak tidak lahir generasi anti korupsi itu, sekolahlah yang salah. Sekolahlah yang bertanggung jawab.

Kasus di atas adalah cermin bagaimana masyarakat memandang fungsi guru dan sekolah kita. Guru adalah sumber segala persoalan bukan hanya dalam dunia pendidikan, melainkan juga dalam masyarakat. Kehancuran nilai-nilai moral, meningkatnya perilaku kekerasan, banyakya pengangguran korupsi dll adalah cermin kegagalan pendidikan dengan guru sebagai tokoh utamanya. Masyarakat gagal mengenyam perubahan dan kemajuan karena guru gagal melaksanakan fungsinya dalam masyarakat.

Tentu saja pandangan di atas tidak benar . Kita tahu bahwa dunia pendidikan memiliki peranan besar dalam mempersiapkan siswa menjadi warga masyarakat yang aktif dan bertanggung jawab. Namun hal-hal buruk, merusak dan menghancurkan yang terjadi di dalam masyarakat tidak bisa dilimpahkan begitu saja pada para guru dan sekolah. Karena guru bukan penjaga moral satu-satunya dalam masyarakat.

Inilah gambaran masyarakat yang sedang goyah, lelah dan ingin mencari jalan pintas. Masyarakat yang tidak mampu memahami perbedaan antara pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan dan memahami di mana akar kebobrokan terjadi. Maju mundur, berputar-putar dan akhirnya mendudukkan guru sebagai biangnya adalah cara yang paling mudah, murah dan nyaman.

Selamat Hari Guru !!! (5 Oktober)

Oleh: pak mayar | Oktober 12, 2009

Bencana dan Manusia Renaissance Indonesia

Anda pernah mendengar pemberontakan Entong Gendhut, pemberontakan Gedangan atau perlawanan kaum Samin. Menurut sejarawan Sartono K, sepanjang akhir abad 19 dan awal abad 20 pemberontakan petani secara sporadis terjadi dimana-mana.

Apa sebab kemunculannya tidak perlu kita perdebatkan lagi. Penetrasi ekonomi colonial mengubah kehidupan social petani sampai pada tingkat yang tak tertahankan lagi. Belum lagi kemunculan budaya Barat yang tentunya amat berbeda dengan alam pikiran masyarakat waktu itu. Maka lengkaplah sudah semua bentuk kemerosotan itu; politis, ekonomi, sosial dan budaya.

Ada berbagai bentuk perlawanan: kerusuhan , pembakaran kebun tebu, penolakan membayar pajak hingga perlawanan kepada pejabat pemerintah. Dari tujuannya muncul gerakan mesianisme (ratu adil), nativisme hingga revitalisme. Yang menarik sebagian besar memiliki ciri yang sama; didahului dengan munculnya pemimpin kharismatik dan kuatnya alam pikiran religiomagis sebagai ideologi perlawanan.

Alam pikiran religiomagis itu tidak saja membentuk gambaran tentang kehidupan ideal yang mereka cita-citakan, tetapi sekaligus menjadi alat untuk menyatukan dukungan dan kesetiaan pada pemimpin. Dan puncaknya tentu untuk mengobarkan perlawanan. Inilah yang terjadi ketika ritual-ritual dilakukan, jimat-jimat dibagikan dan pekikan Tuhan Maha Besar diteriakkan dalam perlawanan fisik yang mereka lakukan.

Itulah respon masyarakat agraris tradisional terhadap kedatangan bangsa Barat dengan segala dampaknya. Tetapi masa-masa ini segera berakhir ketika muncul masa Terang Budi. Pendidikan modern yang dibawa oleh penguasa colonial akhirnya melahirkan manusia-manusia Renaissance Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan nasional adalah contoh manusia-manusia baru Indonesia yang tidak lagi dikuasai alam pikiran religiomagis. Artikel-artikel bung Kalangwan banyak mengupas kegigihan mereka merengkuh alam pikiran baru yang membentang di hadapan mereka; alam pikiran rasional.

Akibatnya kekuasaan Barat itu dengan terang-benderang menampakkan wajah aslinya di mata kaum pergerakan -kolonialisme. Dengan cara berpikir baru, dengan kesadaran baru mereka membangun gerakan yang sungguh berbeda dari zaman sebelumnya. Alam pikiran religiomagis diganti pemikiran rasional, ideologi tradisional diganti ideologi modern, pemimpin kharismatik diganti organisasi modern, jimat-jimat digantikan pamflet dan majalah. Secara sungguh-sungguh kita memberinya makna sebagai “Kebangkitan Nasional”.

Memang sungguh unik, fajar Terang Budi itu muncul seiring dengan fajar nasionalisme kita. Dan oleh semua itu kemudian lahirlah bangsa Indonesia, lahirlah Negara Indonesia.

Kini masa itu telah lama berlalu, seabad telah lewat. Tetapi entah, di hari-hari terakhir ini sepertinya waktu berputar mundur ke belakang. Kembali ke masa silam, ke zaman abad gelap bangsa Indonesia. Respon-respon kita terhadap bencana yang bertebaran di media elektronik dan media cetak seakan-akan menyeru ……. kemanakah manusia-manusia renaissance Indonesia ?

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Zooomr : , , ,
Flickr : , , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 2, 2009

Di Tengah Malam, 1 Oktober 1965

sukarno-suharto.jpg

30 September 1965

Malam hari : Berkumpul aktivis utama Gerakan 30 September ; Letkol Untung, Brigjen Supardjo, Kolonel Latief (AD). Letkol Heru Atmodj, Mayor Sujono dan Mayor Gatot Sukrisno (AU). Aidit dan Sjam (PKI). Satu batalyon Cakrabirawa, batalyon Raider 454 Diponegoro, batalyon Raider 530 Brawijaya, dua peleton brigade Latief, pasukan darat AU, unsure-unsur Pemuda Rakyat dan Gerwani berada di pangkalan Halim

1 Oktober 1965

Dini hari : tujuh regu yang terutama terdiri dari prajurit Cakrabirawa dan sejumlah kecil sukarelawan Pemuda Rakyat mendatangi rumah 7 perwira AD, dengan perintah menangkap dan membawanya ke Halim. (Yani, Harjono dan Panjaitan dibunuh dirumahnya karena melawan, Suprato, Parman dan Sutojo dibawa ke Halim dalam keadaan hidup, Nasution mampu meloloskan diri). Dalam waktu yang bersamaan batalyon raider menduduki Lapangan Merdeka, menguasai istana Presiden, gedung RRI dan pusat Telkom.

05.30 : Suharto dibangunkan tetangganya Mashuri, memberi tahu “kejadian yang luar biasa terjadi di rumah Nasution dan Panjaitan”. 06.30 : Suharto di markas Kostrad, Umar menelpon menyampaikan beberapa informasi dan mendesak Suharto sementara memegang komando atas AD.

07.15 : Pihak pemberontak mengumumkan melalui RRI bahwa Gerakan 30 September adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak untuk melindungi Sukarno dari kudeta yang direncanakan oleh suatu dewan yang terdiri atas jendral-jendral yang korup dan menjadi kaki tangan CIA.

09.00 : Dari rumah istri ketiganya Ratna Sari Dewi, Sukarno menuju istana kepresidenan, tetapi membelokkan arah perjalanannya ke Halim setelah mendapat laporan ada pasukan tak dikenal di Lapangan Merdeka. Tiba di Halim ia disambut Omar Dhani dan tokoh pemberontak lainnya. Di Halim presiden kemudian memanggil panglima 4 angkatan guna mengadakan konsultasi.

11.00 : Gerakan 30 September kembali menyiarkan pengumuman di RRI bahwa ; telah dibentuk sebuah Dewan Revolusi yang akan ” merupakan sumber segala kekuasaan dalam Republik Indonesia”.

14.00 : Para prajurit dua batalyon raider yang menduduki Lapangan Merdeka kepanasan, lelah, lapar dan haus. Para pemimpin kudeta tidak mengirim perbekalan. Suharto membujuk supaya pasukan Brawijaya datang ke markas Kostrad.

16.00 : Sukarno memanggil Umar dan Pranoto untuk datang ke Halim, tetapi Suharto melarang 2 jendral ini pergi. Sukarno kemudian menyusun sebuah pernyataan bahwa dia sendiri mengambil alih pimpinan AD. Batalyon raiders Brawijaya bergabung ke Kostrad. Batalyon raider Diponegoro mundur ke Halim. Suharto kembali menguasai pusat Jakarta tanpa tembakan peluru. Ketika Martadinata tiba di RRI untuk menyiarkan pernyataan Sukarno, RRI sudah diambil alih dan Suharto melarang penyiarannya.

19.30 : Setelah seharian sembunyi Nasution akhirnya bergabung di Kostrad. Sukarno mengirim Bambang Widjonarko untuk menjemput Pranoto ke Halim. Suharto melarang Pranoto dan berpesan kepada Bambang supaya mengusahakan agar presiden meninggalkan Halim karena pasukan Kostrad akan merebut pangkalan udara itu dengan kekerasan.

20.15 : Dinas penerangan AD menyiarkan pengumuman di RRI bahwa ; suatu “gerakan kontra revolusi” telah menculik Yani dan 5 jendral lainnya. Pimpinan AD sementara waktu dipegang oleh Suharto dan presiden serta jendral Nasution dalam keadaan aman.

22.00 : Sukarno meninggalkan Halim menuju istana Bogor. Aidit meninggalkan Halim menuju Jawa Tengah. Omar Dhani terbang ke Madiun. Untung meninggalkan pasukannya dan sembunyi di Jakarta.

Tengah Malam : Pemberontakan yang aneh itu berakhir dan sebuah drama besar mulai mengawali kisahnya.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , , ,
Zooomr : , , ,
Del.icio.us : , , ,
Technorati : , , ,

Oleh: pak mayar | Oktober 1, 2009

13 Korban Penculikan dan Ironi Demokrasi KIta

Senin 28 Sept 2009, Pansus Penanggulangan atas Hasil Penyelidikan Peristiwa Penghilangan Orang secara Paksa periode 1997-1998 merekomendasikan sejumlah hal penting kepada pemerintah.

Berikut adalah 4 rekomendasi pansus :

1. Merekomendasikan kepada Presiden untuk Pengadilan HAM Ad Hoc.

2. Merekomendasikan kepada Presiden serta segenap institusi pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh Komnas HAM masih dinyatakan hilang.

3. Merekomendasikan kepada Pemerintah untuk merehabilitasi dan memberikan kompensasi terhadap keluarga korban yang hilang.

4. Merekomendasikan kepada pemerintah agar segera meratifikasi Konvensi Anti Penghilangan Paksa sebagai bentuk komitmen dan dukungan untuk menghentikan praktek Penghilangan Paksa di Indonesia.

Kasus 13 orang hilang ini memang melelahkan. Ini adalah hutang reformasi yang hingga hari ini belum terbayar lunas. Demokrasi dan kebebasan yang kita bangga-banggakan ternyata tidak berguna. Butuh waktu 11 tahun hingga dewan yang terhormat itu mau memihak keadilan. Inipun belum menjadi jaminan bahwa dalam waktu-waktu dekat kasus ini dapat diungkap tuntas.

Kini bola panas ada di tangan presiden. Akankah ia mampu menjalankan rekomendasi DPR ini ? Rasanya sulit. Sebagai bagian dari kaki tangan Orde Baru di masa lalu ia punya hambatan besar untuk melakukannya. Mungkin ia tidak terlibat langsung dengan kasus penculikan ini. Tetapi sulit dibantah bahwa ia tidak bisa steril dari segala bentuk politik represif yang pernah dipraktekkan Orde Baru. Jika satu demi satu praktek politik represif yang menindas dan melanggar HAM di masa Orde Baru dahulu diusut tuntas, maka tinggal menunggu waktu saja bahwa ia akan mendapatkan gilirannya.

Reformasi memang mampu mengganti pemerintahan otoriter menjadi demokratis, tetapi ternyata ia gagal untuk mengganti rezim lama yang korup dan menindas. Inilah ironi demokrasi kita. Demokrasi kita terpenjara oleh masa lalu.

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , , , ,
Del.icio.us : , , , , ,
Zooomr : , , , , ,
Flickr : , , , , ,

Oleh: pak mayar | September 25, 2009

Anggota DPR Brengsek, Jangan Ada Lagi !!!

DPR periode 2004-2009 sebentar lagi berakhir. Apa saja prestasi mereka ? Banyak sekali. Sekedar mengingatkan Juli 2005 -setahun setelah mereka dilantik – semua fraksi di DPR mengusulkan agar tingkat kesejahteraan mereka dinaikkan. Anggota Dewan yang menerima gaji 28,37 juta perbulan meminta kenaikan hingga 51,87 juta. Gaji pimpinan diminta dinaikkan hingga menjadi 82,1 juta dari 40,1 juta perbulan.

Bulan Desember 2005 mereka mengajukan permintaan tunjangan operasional. Setiap anggota menerima 60 juta yang merupakan rapel tunjangan bulan Juli-Desember 2005. Bulan Maret 2006 pimpinan DPR mendapatkan kenaikan gaji 14 hingga 16 juta dan anggota mendapatkan kenaikan 15 juta perbulan. Ada lagi usulan pengadaan laptop dengan harga 24 juta per buah yang dihujani kecaman sehingga akhirnya dibatalkan.

Belum lagi soal korupsi. Kasusnya beragam : pengadaan alat pemadam kebakaran, pengalihan fungsi hutan lindung, alih fungsi hutan mangrove, pembelian kapal patrol, aliran dana BI, proyek pembangunan Bandar udara dan pembangunan pelabuhan laut Indonesia Timur. Ada lagi kasus pelecehan seksual dan skandal perbuatan asusila.

Di bidang legislasi mari kita lihat catatannya. Hingga akhir Maret 2009 mereka berhasil mengesahkan 176 undang-undang. Undang-undang usulan DPR 82 buah, usulan pemerintah 75 buah. Ruang lingkup undang-undang yang telah disyahkan adalah : Bidang Polkam,Hukum 106 UU, Pembentukan Daerah 60 UU dan Bidang Kesejahteraan Rakyat 10 UU.

Dengan prestasi di atas tidak heran masyarakat merasa tidak puas dengan kinerja DPR. Survey litbang Kompas pada April 2009 menghasilkan angka hanya 26,6 % responden yang merasa puas dengan kinerja DPR, 67,3 % responden menjawab tidak puas dan sisanya 6,1 % menjawab tidak tahu. Jika Politikana mengadakan polling dengan tema yang sama mungkin yang menjawab tidak puas akan lebih banyak lagi. (Sumber : Wajah Timpang Wakil Rakyat. Kompas cetak 6 April 2009).

Bagaimana Ke depan ?

Tentu kita tidak ingin DPR periode 2009-2014 mengikuti jejak DPR sebelumnya. Tapi bagaimana itu dapat diwujudkan ? Mengharap bahwa mereka bisa memetik pelajaran moral dari para senior mereka tentu boleh-boleh saja. Tetapi jika tidak ada system baru yang lebih baik untuk mengawasi kinerja DPR kita, tentu tidak akan ada jaminan bahwa mereka tidak mengikuti keburukan pendahulu mereka.

Sekarang ini hanya ada dua cara untuk mengawasi kinerja DPR kita. Pertama dilakukan oleh Badan Kehormatan DPR yang seringkali lambat, tertutup dan tidak memuaskan -terang saja namanya saja badan untuk membela kehormatan DPR. Kedua dilakukan oleh media yang dalam kasus tertentu efektif untuk menggerakkan tekanan masyarakat pada DPR. Kemunculan KPK tentu memberi nuansa positif bagi pemberantasan kasus korupsi di DPR, meski sekarang ada kesan mulai muncul serangan balik dari Senayan.

Apa system yang ada sekarang sudah memadai, sudah pasti belum, buktinya kinerja DPR kita masih memprihatinkan seperti tergambar di awal tulisan ini. Perlu sebuah system baru yang mampu mengukur kinerja anggota DPR kita satu-persatu dalam suatu kurun waktu tertentu. Sebuah system yang mampu menghasilkan penilaian yang akurat tentang seberapa baiknya kinerja setiap anggota. Pada gilirannya anggota DPR yang memiliki nilai rendah harus diganti, entah dengan mekanisme recall atau pemilu sela.

Lantas bagaimana penilaian itu dilakukan ?

Sistem penilaian kinerja anggota DPR dilakukan dengan memberikan skoring pada berbagai komponen yang hendak kita nilai. Sebagai contoh model untuk kita diskusikan mungkin dapat kita tetapkan 4 komponen penilaian ; kompetensi, kualitas usulan, kualitas pengawasan dan kehadiran.

Berikut kita bahas satu persatu dengan contoh penskoringanya agar makin jelas bagi kita dalam mendiskusikannya.

1. Komponen Kompetensi. Anggota DPR yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang-bidang yang menjadi urusan suatu komisi di DPR diberi skor 5, sedang yang tidak memiliki kompetensi kita beri skor 0. Kompetensi ditentukan berdasarkan background akademik atau bidang pekerjaan yang digeluti 5 tahun terakhir.

2. Komponen Kualitas Usulan. Dalam satu tahun anggota DPR dihitung berapa kali memberikan usulan dalam sidang-sidang yang ia ikuti. Dari usulan yang diberikan kita beri penilaian atas kualitas usulannya berdasarkan 3 aspek. Aspek visioner jika usulannya memiliki visi yang jauh kedepan. Aspek kebangsaan jika usulannya ditujukan untuk kepentingan seluruh bangsa, bukan untuk partainya sendiri, kelompoknya sendiri, lebih-lebih untuk kepentingannya dirinya sendiri. Aspek Penerapan jika usulannya sungguh bisa diterapkan. Suatu usulan yang memenuhi syarat 3 aspek ini akan mendapat total skor 4 (jumlah skor 1 + skor aspek 3).

3. Komponen Kualitas Pengawasan. Dalam satu tahun anggota DPR dihitung berapa kali memberikan temuan hasil pengawasan pada departemen terkait yang menjadi tanggung jawab pengawasannya. Dari temuan pengawasan ini kita berikan penilaian atas kualitas temuannya berdasarkan 3 aspek. Aspek Faktual jika temuannya didasarkan pada fakta-fakta yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Aspek Cakupan jika penyimpangan yang ia temukan tidak hanya terjadi dalam satu sector tetapi terkait dengan banyak sector. Aspek Solusi jika temuannya juga mengandung usulan atau cara-cara untu memperbaiki system yang ada agar penyimpangan yang sama tidak terulang. Suatu temuan pengawasan yang memenuhi syarat 3 aspek ini akan mendapat total skor 4 (jumlah skor 1 + skor aspek 3).

4. Komponen Kehadiran. Dalam satu tahun anggota DPR dihitung berapa kali ia menghadiri sidang-sidang dan rapat-rapat yang menjadi tanggungjawabnya. Skor Komponen Kehadiran dihitung dengan cara jumlah kehadiran satu tahun dikurangi jumlah ketidakhadirannya. Cara ini dibuat untuk menekan jumlah ketidakhadiran anggota DPR. Sebab tidak ada yang dapat kita harapkan dari anggota DPR yang jumlah ketidakhadirannya justru lebih banyak dari jumlah kehadirannya di sidang-sidang DPR.

Dari 4 komponen tersebut kemudian dibuat rekap penilaian seluruh anggota DPR. Tentu saja bisa dibuat peringkat yang menunjukkan anggota DPR dengan penilaian kinerja yang paling tinggi hingga yang paling rendah.

Berikut ini adalah contoh model penilaian kinerja anggota DPR dalam bentuk tabel :

tabel 1

tabel 2

tabel 3

Penutup

Dengan system penilaian kinerja ini sungguh dapat diukur mana anggota DPR yang benar-benar bekerja dan mana yang tidak. Anggota DPR yang doyan tidur dan main facebook waktu sidang, apalagi yang sering mangkir dalam sidang-sidang/rapat-rapat DPR pasti mendapat skor rendah. Dari rekap penilaian kinerja anggota DPR tersebut bisa saja kita tetapkan bahwa 100 anggota peringkat bawah harus diganti. Tentu saja mekanisme penggantiannya harus juga kita tetapkan dengan banyak pertimbangan. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membahas hal tersebut. Tetapi jika memang penggantian itu harus kita lakukan, melalui system penilaian ini kita sudah bisa mengetahui siapa-siapa yang harus diganti secara akurat, kredibel dan transparan.

Sistem penilaian ini tentu belum sempurna, mohon masukan semuanya.

Powered by Zoundry Raven

Technorati : , , , , ,
Del.icio.us : , , , , ,
Zooomr : , , , , ,
Flickr : , , , , ,

Oleh: pak mayar | September 15, 2009

Film Bagus, Sineas Jahat dan UU Perfilman Kita

Scooby Doo, sejak kecil saya menyukainya. Film bagus, saya pun senang jika anak-anak saya menonton film ini. Film hantu dengan rumus horror, suspens dan komedi yang imbang. Kisahnya selalu berakhir dengan pola sama: hantu itu buatan orang untuk sebuah tujuan jahat. Sangat rasional.

Saya senang anak-anak saya tertawa sepanjang film ini diputar. Saya juga senang mereka berdebat tentang tokoh mana yang menjadi hantu jadi-jadian. Tentu dengan argument khas mereka. Namun untuk itu mereka harus focus pada petunjuk-petunjuk yang dikumpulkan Scooby dkk dalam menyingkap kasus yang dihadapinya. Sebuah film hantu yang mencerdaskan anak-anak.

Memang sebuah film dibuat untuk suatu tujuan. Film yang bagus muncul dari kegelisahan sineasnya tentang masyarakatnya. Tentang sesuatu yang tidak dapat ia terima. Tentang sesuatu yang ia ingin ubah. Film yang bagus selalu menyodorkan tentang sesuatu yang lebih baik. Hidup yang lebih baik. Sebuah keinginan, sebuah visi sebuah harapan.

Kini dunia perfilman kita sedang hiruk pikuk. Setelah sekian lama diabaikan Negara dan kini tumbuh bermartabat berkat proses kreatif yang mereka hidupi sendiri, tiba-tiba Negara memberi kado istimewa. Sebuah UU Perfilman baru, yang celakanya tidak disambut suka cita para sineas kita.

Para sineas kita tersinggung karena dalam UU ini film dilihat lebih sebagai produk media massa yang dapat merusak tatanan social, mengganggu ketertiban dan mengancam nilai-nilai dalam masyarakat. Ada paradigma kuat yang menempatkan sineas kita seperti penjahat yang dengan filmnya dapat menghancurkan masyarakat. Oleh karenanya dalam UU ini terdapat larangan-larangan untuk mencegah sosok sineas penjahat itu muncul.

Kenapa UU ini nggak nyambung dengan pemikiran para sineas kita ? Sebuah UU itu lahir dari suatu masalah, lahir untuk menjawab suatu kebutuhan, atau lahir untuk suatu visi besar di masa depan. Yang dibutuhkan sineas kita tentu yang terakhir. Tapi DPR kita mampunya hanya melihat yang pertama. Sungguh tidak cerdas, padahal kalau dunia perfilmn kita suporrt sungguh-sungguh ia bisa menjadi sendi budaya bangsa. Bahkan juga bisa menjadi sumber devisa.

Ironis memang, satu sisi pemerintah gembar-gembor untuk mendorong industry kreatif sebagai industry masa depan kita, tapi disisi yang lain tiba-tiba muncul UU yang berpotensi memasung kreatifitas para sineas kita. Inilah kita, sebuah bangsa yang penuh paradoks, gemar teriak-teriak tentang sesuatu yang besar tetapi cara berpikirnya masih kusut.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : ,
Zooomr : ,
Del.icio.us : ,
Technorati : ,

Oleh: pak mayar | September 15, 2009

The Killing Fields 1965

The Killing Fields. Entah sudah berapa kali aku melihat film ini. Sebuah film apik, kisah nyata dua sahabat di tengah kecamuk pergolakan politik yang keras dan berdarah di Kamboja. Setiap tahun aku selalu memutarnya untuk anak-anak kelas tiga, ketika mereka mempelajari sejarah Masalah Kamboja. Di luar jam pelajaran tentu saja, karena durasi film ini lebih dari 1,5 jam.

Meski judulnya menyeramkan film ini tidak mengobral adegan sadis kekejaman rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot, yang bertanggung jawab atas pembantaian massal hampir 2 juta rakyat Kamboja. Toh begitu ada satu adegan kekejian yang ditampilkan secara vulgar di bagian tengah film. Detik-detik ketika tentara Khmer Merah masuk menguasai kota Pnom Penh, tentara Nasionalis Lon Nol yang tertawan diinterogasi dibawah todongan senapan tentara Khmer Merah. Ketika mulut senapan itu tepat di depan kepala seorang tentara berkacamata minus, tiba-tiba …dhhuaaar. Senapan itu menyalak, darah muncrat dari kepala dan tentara itu roboh.

Seketika seluruh isi kelas memekik, siswa perempuan segera menutup muka. Beberapa bahkan berteriak histeris. Sebuah respon yang wajar dan baik. Sebuah pertanda ada sesuatu dalam diri mereka …yang menolak adegan kekejian itu. Sesuatu yang harus terus dirawat agar terus tumbuh dan menguat.

Sesudah adegan tersebut film itu terus mencekam hingga akhir. Tetapi adegan-adegan kekejian yang sadis ditampilkan dengan halus. Ada malam-malam dimana beberapa orang diikat dibawa keluar pemukiman. Suasana gelap, bayangan orang-orang itu pun lenyap. Layar terlihat gelap …hanya terdengar bunyi ..dor ..dor ..dor .. beberapa kali.

Tentu saja adegan yang paling kuat dalam film ini adalah saat sang tokoh, Dith Pran melarikan diri. Dalam pelarian itu ia sampai di sebuah muara sungai yang berawa dan berlumpur. Terperosok ke dalam sebuah lubang tangannya menggapai-nggapai. Tak sengaja ia meraih ..tulang belulang manusia. Ia pun berdiri …dan di depannya terbentang pemandangan yang mengerikan itu. Ratusan mungkin ribuan mayat dan tulang belulang manusia bercampur dengan lumpur di rawa-rawa tersebut.

Dengan tata musik yang baik dan pengambilan gambar yang bagus, adegan ini membuat seluruh isi kelas shocks. Anak-anak memekik ketika Dith Pranh terperosok …kemudian menjerit dan sesudahnya mereka tidak dapat berkata-kata lagi. Visualisasi mayat-mayat dan tulang belulang …korban pembantaian massal itu membuat mereka bungkam. Inilah ladang pembantaian itu. The Killing Fields.

Tak terasa pemutaran film ini seakan menjadi sebuah ritual bagiku. Karena berlangsung begitu bertahun-tahun, dengan anak-anak yang berbeda tentu saja. Namun ada sesuatu yang selalu mengusik hatiku setiap kali memutar film ini. Aku selalu membayangkan ..seandainya saja ada sebuah film bagus yang menggambarkan kekejian serupa yang terjadi di tanah air tahun 1965. Pergolakan politik yang merenggut nyawa 78.000 hingga 1 juta orang. Kekejian yang justru dilakukan oleh kekuatan anti komunis. Sebuah masa paling gelap dalam sejarah Indonesia.

Sebuah film bagus yang tidak memihak akan menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran sejarah generasi yang akan datang. Agar kelak ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Aku harap akan ada sineas kita yang punya nyali untuk mewujudkannya.

Powered by Zoundry Raven

Flickr : , ,
Zooomr : , ,
Del.icio.us : , ,
Technorati : , ,

Oleh: pak mayar | September 15, 2009

Islam Itu Sungguh-sungguh Baik

Apa arti seorang sahabat dalam hidup ini. Uh banyak. Ia bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses untuk tumbuh ..untuk menjadi. Tiap hari kita terus tumbuh. Dan itu artinya kita membutuhkan sahabat …setiap hari.

Pagi ini seorang sahabat, tiba-tiba saja nongol di layar komputerku. Memang sengaja aku ketikkan namanya di google. Berharap menemukan kejutan. Dan hup. Ada nama yang kucari. Urutan pertama menuju facebook. Aku klik dan ada foto disitu. Olala, tidak salah lagi. Inilah sahabatku dulu, 18 tahun yang lalu.

Dia adik kelasku di Sanata Dharma dulu. Sering tiba-tiba nongol ke rumah. Ngobrol hingga malam, hingga pagi. Di warung mbah Wongso di perempatan Wirobrajan yang sohor itu. Masa mahasiswa penuh pergulatan, masa pencarian. Dan kami cocok saja ngomong ke sana kemari. Bicara tentang nasib bangsa. Kira-kira begitulah. Apapun kita omongin, sampai pagi.

Ah rindu rasanya bisa seperti itu lagi. Masa dimana malam terasa begitu panjang. Masa dimana kaki ini bebas kemanapun melangkah. Masa dimana kegelisahan dan kegairahan seakan-akan sampai ke ujung langit. Ya ujung langit meski kuliah nggak kelar-kelar.

Tapi bukan itu yang hendak aku ceritakan. Ada yang berharga dari sahabatku, ia seorang muslim yang taat. Aku sendiri seorang kristen dengan penghayatan iman bak gejolak harga saham. Sesekali kami sering berbagi tentang pemahaman dan penghayatan agama. Tidak dalam suasana perbantahan. Persahabatan kami terlalu kuat, hingga dengan gampang kami selalu bisa menghindarinya.

Dari sahabatku aku mengenal Islam secara personal, secara hidup. Islam itu hadir didalam dirinya. Islam itu hadir dalam segala perjumpaan yang aku alami dengan sahabatku tersebut. Membentuk sebuah pemahaman dan menjadi kekayaan batin, yang kusimpan hingga hari ini …Islam itu sungguh-sungguh baik. Aku tidak pernah ragu tentang hal itu …meski banyak berita buruk muncul …

Aku bersyukur pernah punya sahabat …yang berbeda …

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori